26 Des 2010

* Cahaya dari Timur : Syekh Yusuf Al-Makassari

Oleh : Mohammad Ali


Diawal bulan juli lalu saya melakukan perjalanan ke kota Makassar untuk keperluan keluarga, karena memang keluarga saya berasal dari daerah sana. Cukup lama juga tidak mengunjungi tempat kelahiran orang tua saya. Pada perjalanan kali ini, selain urusan keluarga, saya sudah meng-agendakan untuk berziarah dan merenung untuk mengambil teladan dari sosok ulama besar pada masanya, Syekh Yusuf al-Makassari. Salah satu tokoh yang, menurut Fathi, kemungkinan bertemu dengan Mbah Muqoyyim (pendiri Buntet Pesantren). Kalau pun tidak bertemu, mereka lahir dari situasi yang sama. Menolak kehidupan mewah ala istana dan lebih memilih merantau untuk mencari ilmu serta berjuang melawan penjajah Belanda.
Matahari sedang berada tepat di atas kepala, Terik yang menyengat. Namun semua seakan tidak berasa dan menjadi penghalang untuk niatan baik. Saya tetap dengan mantap berjalan di bawah terik matahari. Hanya 500 meter letak makam Syekh Yusuf dari tempat yang aku tinggali. Bukan jarak yang berarti. Jarak itu aku tempuh dengan jalan kaki. Dengan tergesa Aku berjalan menyusuri jalanan, bukan karena terik matahari melainkan supaya segera dapat mencurahkan kerinduan pada ulama yang sosoknya aku kagumi ini.

Begitu memasuki komplek pemakaman beliau, saat itu Adzan waktu shalat dhuhur dikumandangkan. Waktu yang tepat. Aku pun segera mengambil wudhu, shalat sunnat tahiyyatul masjid, lalu mengikuti shalat dhuhur berjamaah. Ada rasa baru mengalir deras menyentuh kalbu. Rasa itu adalah energi. Namun aku tidak tahu apa sebenarnya ini. Apa karena lama tidak berjamaah atau karena energi positif dari Syekh Yusuf? Entah lah...

Selesai shalat berjamaah, aku buru-buru menuju makam beliau.

Komplek Makam

Sebagaimana layaknya berziarah, aku pun melakukan hal yang sama. Tawassul, baca yasin, tahlil, dan berdo’a untuk keselamatan kehidupan beliau, diriku, keluargaku dan ummat Islam semua. Batin tiba-tiba menghayal, seandainya kiriman doa itu sebuah kiriman energi, maka menjadi wajar saja tarikan energi dari makam beliau cukup besar. Seandainya tiap hari ada 100 orang berziarah dan berdo’a untuk beliau maka ada 100 energi yang terkirim. Hemm....

Selepas ziarah, aku justru makin penasaran dengan sosok beliau, maka selama berada di Makassar, banyak waktu yang digunakan untuk mencari tahu mengenai sosok beliau. Baik melalui cerita-cerita yang beredar di masyarakat maupun melalui buku-buku. Hasil riset amatiran ini, aku bagi dengan teman-teman semua. Semoga kita bisa mengambil teladan dari beliau.

Syekh Yusuf al-Makassar (3 juli 1626-23 mei 1699)

Silsilah

Terdapat banyak versi cerita yang berkembang di masyarakat terkait dengan silsilah garis keturunan Syekh Yusuf dari garis ayah, sedangkan dari garis ibu, perbedaan itu melebut. Semua sepakat bahwa ibu dari Syekh Yusuf adalah Siti Aminah putri Gallarang Moncong Loe. Syekh Yusuf berasal dari keturunan bangsawan kerajaan Gowa.

Geneologi dan Rihlah Intelektual Syekh Yusuf

Seorang ulama besar tidak mungkin lahir dengan sendirinya, tanpa melalui tempaan-tempaan yang berat. Termasuk tempaan dalam mencari ilmu. Mengetahui guru-gurunya juga sebagai pemetaan jaringan ulama dan corak paham kegamaan yang dikembangkannya. Begitu juga dengan Syekh Yusuf. Di usia belia, beliau berguru pada Daeng ri Tasammang hingga khatam al-Qur’an.

Selepas dari situ, kehausan beliau atas ilmu sudah terlihat. Tidak puas hanya belajar al-Qur’an, beliau pun kemudian mencoba mempelajari Nahwu, Sharaf dan Mantik juga pelajaran kitab-kitab klasik Islam. Namun karena Daeng tidak sanggup memenuhi dahaga ilmunya Syekh Yusuf, maka beliau dianjurkan berguru pada Sayyid Ba’Alwy bin Abdullah al-Allamah Thahir di Bontoala sebagai pusat pendidikan islam tahun 1634. Tidak butuh waktu lama bagi Syekh Yusuf untuk menyerap, menghatamkan, serta mengerti materi dari kitab-kitab Fiqih dan Tauhid. Setelah itu, beliau kemudian belajar pada Syekh Jalaluddin al-Aidit ulama Aceh yang datang melalui Kutai ke Makassar.

Walaupun hidup di lingkungan istana, namun semangat untuk menuntut ilmu tidak padam oleh tawaran-tawaran kehidupan enak ala istana. Di usia yang masih tergolong remaja (18 tahun), beliau berencana menuntut ilmu ke Makkah (saat itu masih menjadi sentral intelektuali dunia Islam).

Sebelum niatan itu terwujud, ada satu adat saat itu yang “harus dipenuhi” oleh Syekh Yusuf sebagai bagian dari keluarga kerajaan, yaitu supaya membekali diri dengan berguru kepada “Para Paku Bumi” di 3 gunung (G. Latimojong wilayah kerajaan Luwu, G. Balusaraung wilayah kerajaan Bone, G. Bawakaraeng wilayah kerajaan Gowa) sebagai puncak 3 kerajaan yang memiliki ciri khas dan tradisi budaya tersendiri.

Tepat pada tanggal 22 September 1644 diusia 18 tahun Yusuf muda berangkat ke Makkah menumpang kapal melayu, Banten adalah persinggahannya pertama sebagai jalur pelayaran niaga pada masa itu. Disini dia berkenalan dan bersahabat dengan Pangeran Surya anak dari Sultan Mufahir Mahmud Abdul Kadir (1598-1650), kemudian dia berangkat ke Aceh dan berguru pada Syekh Nuruddin Ar-Raniri dan mendapatkan ijazah tarekat Qadiriyah. lalu melanjutkan perjalanannya ke Timur Tengah untuk melaksanakan ibadah Haji sekaligus berguru dengan ulama disana.

Negeri Yaman adalah persinggahan beliau pertama dan berguru kepada Sayed Syekh Abi Abdullah Muhammad Abdul Baqi bin Syekh al-Kabir Mazjaji al-Yamani Zaidi al-Naqsyabandy dan berijasah tarekat Naqsayabandi. Lalu ke kota Zubaid berguru kepada Syekh Maulana Sayed Ali al-Baalawiyah berijasah tarekat Baalawiyah. Musim haji pun tiba maka beliau berangkat ke Mekkah. Setelah menunaikan ibadah Haji maka beliau berangkat ke Madinah untuk berguru kepada Syekh Ibrahim Hasan bin Syihabuddin al-Kurdi al-Kaurani dan memperoleh ijasah tarekat Syattariyah.

Syekh Ibrahim yang juga dikenal dengan nama Mulla Ibrahim, adalah juga guru Syekh Abdurrauf Singkel (masa yg tidak jauh dengan Syekh Yusuf) “dan Syekh Abdurrauf adalah guru Syekh Abdul Muhyi Pamijahan (Hadjee Karang)”. Dari situ Yusuf muda masih melakukan perjalanan studinya ke Negeri Syam (Damaskus) kepada Syekh Abu al-Barakat Ayyub bin Ahmad bin Ayyub al-Khalwati al-Qurasyi mendapatkan predikat “Summa Cum Laude” bergelar Tajul Khalwati Hadiyatullah. Selain 5 tarekat di atas tercatat juga bahwa beliau mempelajari tarekat Dasuqiyah, Syaziliyah, Hasytiah, Rifaiyah, al-Idrusiyah, Ahmadiyah, Suhrawardiyah, Maulawiyah, Kubrawiyah, Madariyah, Makhduniyah. Disini terkesan beliau memiliki pengetahuan yang tinggi.

Menapaki Jejak Perjuangan Syekh Yusuf

Setelah menganggap selesai melakukan rihlah atau petualangan menuntut ilmu, maka beliau memutuskan untuk “mudik” dan menjadi juru dakwah di Makassar, saat itu usia beliau adalah 38 tahun. Harapan-harapan dan rencana-rencana yang telah disusun untuk dikembangkan di Makassar berantakan, karena sesampainya di kampung halaman, beliau menyaksikan kehancuran kerajaan Gowa pasca kekalahannya perang dengan Belanda, maksiat merajalela dimana-mana, usaha menasehati pihak kesultanan pun tak berhasil. Syekh Yusuf memutuskan untuk hijrah ke Banten yang memang sejak dari Makkah Sultan Banten telah memintanya untuk datang kesana.

Banten telah semarak berbeda dengan 15 tahun yang lalu sejak ia tinggalkan sahabatnya Pangeran Surya telah menjadi Sultan Banten dengan nama Sultan Abdul Fattah yang dikenal dengan nama Sultan Ageng Tirtayasa. Syekh Yusuf menjadi Mufti kesultanan dan kemudian dinikahkan dengan Putri Sultan Ageng Tirtayasa yang bernama Siti Syarifah. Dengan status barunya, maka memudahkan Syekh Yusuf dalam berdakwah. Murid beliau banyak tersebar sampai pelosok-pelosok luar Banten. Beliau juga menjadi pengayom bagi masyarakat Makassar yang lari karena kecewa terhadap perjanjian Bongaya.

Diawal tahun 1682 Banten pun bergejolak, semenjak kepulangan Sultan Haji putra mahkota yang diberikan sedikit kekuasaan berarti pemisahan tempat tinggal. Belanda melakukan aksi “adu dombanya” karena serangan-serangan militer ke wilayah Banten selama ini selalu dipatahkan putra Sultan yakni Pangeran Purbaya selaku Panglima Militer saat itu.

Dimulai dengan diserangnya Keraton Surosowan (Keraton Sultan Haji) hingga datangnya bantuan Belanda dari Batavia yang saat itu Belanda dapat lebih berkonsentrasi terhadap Banten karena jatuhnya Makassar. Sampai Desember 1682 keraton Tirtayasa tidak dapat terselamatkan. Keraton Tirtayasa ditinggalkan dan melakukan taktik perang gerilya, sampai 14 maret 1683 tercatat penyerahan diri Sultan Ageng Tirtayasa ke keraton Surosowan dan ditangkap Belanda kemudian dibawa ke Batavia dan wafat disana.

Perang Gerilya pun dilanjutkan Syekh Yusuf, Pangeran Purbaya dan Pangeran Kidul yang memimpin 5000 pasukan termasuk 1000 laskar Makassar, Bugis dan Melayu yang siap mati bersama gurunya. Syekh Yusuf bergerak ke arah timur sampai Padalarang lalu berbelok kearah pesisir selatan, sampai daerah desa Karang, di sana beliau bertemu dan dibantu oleh Syekh Abdul Muhyi (Hadjee Karang) dan laskarnya.

Dalam kebersamaannya inilah Syekh Muhyi berguru kepada Syekh Yusuf tentang penafsiran ayat-ayat Qur’an yang bersifat “mistik”. Setelah melakukan perang gerilya selama 2 tahun lamanya akhirnya Syekh Yusuf ditangkap dengan kondisi seluruh pengikut-pengikutnya dipulangkan ke kampung halamannya masing-masing kecuali 49 yang harus turut serta. Yaitu 2 orang istri, 2 abdi istri, 12 santri dan putra-putri, sahabat dan para abdi dalem.

Menjalani Kehidupan dalam Pengasingan

Belanda membawa rombongan Syekh Yusuf ke Cirebon untuk kemudian dibawa ke Batavia (Benteng). Melihat besarnya kharisma Syekh Yusuf maka ada kekhawatiran Belanda, dan ditambahkan kerajaan Bone dibawah pimpinan Aru Palakka (Raja Bone ke 15 ada hubungan kekerabatan) sedang melakukan perlawanan. Maka Belanda memutuskan untuk mengasingkan Syekh Yusuf beserta rombongan pada tanggal 12 september 1684 ke wilayah Srilangka.

Dalam waktu singkat nama beliau dikenal di sana. Selama disana beliau gunakan untuk beramal, mengajar dan menulis risala-risalah, banyak murid-muridnya yang berasal dari Hindustan (India) dan Srilanka sendiri. Dan membawa namanya termasyhur di India. Kaisar Hindustan Aurangzeb Alamgir (1659-1707) yang cinta kehidupan mistik sangat menghormatinya. Kaisar ini pernah menyurati kepada wakil pemerintah Belanda di Srilanka, supaya kehormatan pribadi Tuan Syekh itu dipelihara, karena jika tuan itu diganggu akan menggelisahkan umat Islam Hindustan.

Strategi perjuangannya pun berubah dari perang fisik kepada semangat keagamaan dan semangat perjuangan. Jemaah haji dari Indonesia sekembalinya dari Mekah biasanya singgah di Ceylon (Srilanka) untuk menunggu musim barat selama1-3 bulan. Dalam kesempatan ini lah jemaah haji Tabarukan dan belajar kepada Syekh Yusuf. Selain itu juga disisipkan pesan-pesan Politik, agar tetap mengadakan perlawanan terhadap Belanda dan juga pesan-pesan agama supaya tetap bepegang teguh pada jalan Allah. Dititip pesan pada raja dan rakyat Banten dan Makassar lewat surat-suratnya:

Pertama, harus berpegang teguh pada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah,

Kedua, Harus berpegang pada Syariat dan Hakikat, Fiqih dan Tasauf, tarikat Muhammadiyah dan Suluk Ahmadiyah’

Ketiga, harus selalu berpikir dan mengharapkan diri pada Allah dengan sikap Khauf dan Raja’,

Keempat, harus selalu jujur, berkata dan berbuat benar dan baik, berbudi pekerti yang luhur dan Tawakal pada Allah,

Kelima, menghormati ulama dan cerdik pandai serta mengasihi fakir-miskin,

Keenam, jauhi sifat-sifat takabur, bangga diri dan angkuh,

Ketujuh, usahakan selalu bertobat dan selalu berzikir pada Allah

Dan surat-surat kepada raja Banten dan Makassar kabarnya tercium oleh pemerintah Belanda di Batavia. Pemberontakan rakyat di Banten dan raja Gowa ke-19 menyebabkan Pemerintah Belanda mencari latar belakangnya, akhirnya ditarik kesimpulan bahwa pemberontakan ini erat kaitannya dengan Syekh Yusuf. Berupa risalah-risalah dan pesan-pesan yang menggunakan nama samaran.

Di Makassar “Kittakna Tuan LoEta (kitab tuan LoE ku) atau Pasanna Tuanta (pesan tuanku)” di Banten disebut Ngelmu Aji Karang atau Tuan She. Akhirnya diputuskan Syekh Yusuf dan 49 rombongannya untuk dipindahkan dari Ceylon ke Kaap (Afrika Selatan). Dan dilaksanakan pada tanggal 7 Juli 1693 setelah 9 tahun beliau di Ceylon di usia 68 tahun, dengan menaiki kapal “Voetboeg”. Dan sampai di pantai Afrika pada tanggal 2 April 1694, selama 8 bulan 23 hari perjalanan.

Tapi api perjuangannya tidak pernah padam oleh ruang dan waktu beliau tetap mengobarkan semangat warga Afrika Selatan untuk merdeka dan membentuk komunitas muslim disana yang memang menjadi daerah buangan politik tempat itu sekarang dikenal dengan Macassar Faure.

Syekh Yusuf meninggal pada tanggal 23 Mei 1699 pada usia 73 tahun setelah 5 tahun di Afrika Selatan dimakamkan di daerah Faure dan pada tanggal 5 April 1705 kerangka dan keluarga Syekh Yusuf dipulangkan dan tiba di Makassar. Ia dimakamkan di Lakiung pada hari Selasa tanggal 6 April 1705 / 12 Zulhidjah 1116 H.

Semangatnya masih tetap menyala disetiap tempat yang disinggahinya hingga saat ini bahkan di Afrika Selatan Nelson Mandela yang berhasil membebaskan Afsel dari politik Apartheid mengaku terinspirasi oleh perjuangan Syekh Yusuf dan mengatakan “Salah seorang Putra Afrika Terbaik”.

Bahkan banyak versi yang diyakini sebagai makam beliau selain di Macassar Faure (Afsel), Lakiung-Gowa, Banten, Palembang, Srilanka dan talango-Madura. Tapi makam Syekh Yusuf yang sebenarnya ada di Lakiung ujar sejarawan Prof. Anhari Gonggong.

Prasasti Ilmu Syekh Yusuf

Kitab Kuning Seseorang dari masa lalu dikenal karena meninggalkan sesuatu yang berarti. Baik berupa prasasti maupun dokumen-dokumen penting lainnya. Syekh Yusuf adalah ulama yang produktif menulis, kitab-kitab yang ditulisnya merupakan prasasti ilmu bagi generasi setelahnya. Setidaknya, terdapat 7 karya penting dari beliau, menurut Abu Hamid dalam bukunya Syekh Yusuf seorang Ulama, Sufi dan Pejuang menyebutkan 7 kitab tersebut adalah:

1. Kaifiyat al-munghi Wal Istbath

2. Safinat an-Najat

3. Hablu al-warid li Sa’adat al-Murid

4. al-Barakat as-Sailaniyah

5. an-Nafhati as-Sailaniyah

6. Mathalib as-Salikin

7. Risalat Ghayah al-Ikhtisar

Berbeda dengan Abu Hamid, Nabilah Lubis dalam Syekh Yusuf al-Taj Khalwati al-Makassari menemukan sedikitnya 25 kitab karangannya yang di tulis era Banten dan Ceylon.

Terlepas dari perdebatan berapa jumlah pasti karya Syekh Yusuf, yang pasti masih banyak yang tersisa dari Syekh Yusuf, baik berupa semangat perjuangannya menumpas kedzoliman, maupun belantara ilmu yang masih tercecer.

Tinggal bagaimana kita saja, apakah kita bersedia mengais untuk memunguti keutamaan, kearifan, keteladanan, dan ilmu-ilmu dari beliau. Atau malah kita melupakan dengan menggusur bangunan makamnya karena dipenuhi oleh dampak yang dinilai kurang baik dan diganti dengan Mall atau hotel, seperti yang dilakukan oleh Saudi terhadap tempat bersejarah yang terdapat di Makkah.

Sumber: BuntetPesantren.org

Sumber Gambar syech yusuf
oil on canvas
koleksi museum lagaligo fort rotterdam makassar
karya: Mike Turusy
Baca Selanjutnya - * Cahaya dari Timur : Syekh Yusuf Al-Makassari

13 Des 2010

* Rumah Adat, Tradisi Menre Bola, dan Dapur Orang Bugis Makassar

*



Oleh : M. Farid W Makkulau


A. Pengantar

Rumah Adat Bugis Makassar adalah rumah panggung kayu. Menurut Robinson (1993), Rumah Panggung kayu mewakili sebuah tradisi yang bertahan lama, tradisi yang juga tersebar luas di dunia Melayu. Bentuk dasar rumah adalah sebuah kerangka kayu dimana tiang menahan lantai dan atap dari berbagai bahan. Keanekaragaman bahan kian meningkat dalam dunia kontemporer setelah pendirian rumah menjadi kian dikomoditikan. Keunikan Rumah Bugis dibanding rumah panggung Sumatera dan Kalimantan adalah bentuknya yang memanjang ke belakang dengan tambahan disamping bangunan utama dan bagian depan (orang bugis menyebutnya lego – lego, makassar : dego - dego).

Rumah adat Bugis mencerminkan sebuah estetika tersendiri yang menjadikannya obyek budaya materil yang indah. Bagian – bagian utama rumah terdiri dari Tiang utama (alliri), terdiri dari 4 batang setiap barisnya. Jumlahnya tergantung jumlah ruangan yang akan dibuat, tetapi pada umumnya, terdiri dari 3 / 4 baris alliri. Jadi totalnya ada 12 batang alliri, Padongko, yaitu bagian rumah yang menjadi penyambung dari alliri di setiap barisnya, serta Pattoppo, yaitu bagian rumah yang menjadi pengait paling atas dari alliri paling tengah tiap barisnya.

Rumah Panggung kayu khas Bugis Makassar mengacu pada anutan kepercayaan bahwa alam semesta ini terdiri atas 3 bagian, bagian atas (botting langi), bagian tengah (alang tengnga / ale kawa) dan bagian bawah ( awa sao / peretiwi / bori liu). Itulah sebabnya rumah tradisional Bugis Makassar juga terdiri atas tiga bagian, yaitu Rakkeang, bagian atap rumah. Dahulu biasanya digunakan untuk menyimpan padi yang baru di panen. Yang kedua, Ale Bola, yaitu bagian tengah rumah. dimana kita tinggal. Pada ale bola ini, ada titik sentral yang bernama pusat rumah ( posi’ bola ), dan Awa bola, yaitu bagian bawah rumah, antara lantai rumah dengan tanah.

Rumah dengan arsitektur berkolong rumah bagi banyak orang Bugis Makassar dipandang sangat aman dan nyaman, selain itu karena berbahan dasar kayu rumah ini dapat berdiri bahkan tanpa perlu satu paku pun. Semuanya murni menggunakan kayu. Uniknya lagi adalah rumah ini dapat di angkat / dipindah. Bentuk rumah orang Bugis Makassar haruslah persegi empat. Ini berhubungan dengan falsafah hidup Sulapa EppaE (atau Persegi empat).

Selain menganut konsep tentang alam / kepercayaan tentang pusat dunia atas, dunia tengah dan dunia bawah maka pada rumahpun ada pusat rumah yang disebut possi bola, yaitu salah satu tiang yang kedua dari depan dan terletak disamping kanan. Itu pula sebabnya mengapa pada upacara adat menre baruga (menre bola), sesajen - sesajen seringkali diletakkan di “possi bola” karena disitulah roh-roh (atau makhluk gaib) dianggap berkumpul, terutama jika ada kejadian dan peristiwa khusus dalam keluarga.

Terkait arah rumah, boleh saja memilih salah satu diantara empat penjuru mata angin. Tetapi setelah pengaruh Islam masuk maka timbullah anggapan baru, bahwa arah rumah yang paling baik ialah menghadap ke Timur yang berarti tampingnya berada di sebelah utara. Rumah yang menghadap ke selatan berarti tampingnya berada di sebelah timur. Karena ada ketentuan di kalangan masyarakat bahwa tidur di rumah itu, kepala harus ke bagian kanan rumah dan kaki mesti ke arah tamping (bagian kiri) dan tidak boleh ke arah Ka’bah (kiblat shalat). Dengan kata lain tidak boleh ke arah barat karena Ka’bah berada di sebelah barat.

B. Kepercayaan dan Simbol – simbol tentang Rumah

Pada zaman dahulu, orang Bugis – Makassar memiliki kepercayaan bahwa letak rumah tempat tinggal diusahakan supaya berdekatan dengan tempat tinggal bekerja (sawah, ladang atau pantai) atau dekat dengan rumah famili / kerabat. Hal inilah yang menyebabkan timbulnya Kampung Pallaonruma dan Kampung Pakkaja, tetapi sekarang sudah tidak menjadi syarat lagi. Ciri yang menonjol pada sebagian besar orang Bugis Makassar adalah bahwa mereka selalu akan menetap dan menjadi penduduk asli di suatu tempat dimana mereka menggantungkan hidupnya. Mereka akan membangun disitu dan akan mati disitu pula. Hal ini sangat berhubungan dengan mata pencaharian mereka, seperti seorang petani akan bermukim atau membangun rumahnya dekat dengan lahan atau kawasan pertanian mereka. Petambak akan cenderung membangun rumahnya pada suatu lokasi yang tidak terlalu jauh dari kawasan empangnya.

Ruang dan simbolisme yang terlihat pada rumah tradisional merupakan fokus spiritual dan fisik bagi penghuninya, dengan asosiasi metafisik yang mencari vitalitas, perlindungan dan harmoni. Sebagaimana telah dijelaskan oleh Bourdieu, ‘ruang hunian’, terutama rumah, merupakan alat prinsipil dalam mengartikulasikan dan memahami struktur sosial. Pembagian ruang pada rumah menjadi sebuah ‘sistem klasifikasi nyata (yang) terus menerus melahirkan dan mendorong prinsip – prinsip taksonomi yang mendasari semua ketentuan budaya yang arbitrer’.

Pada rumah Bugis, sentralitas ditandai oleh aliri posi, atau tiang pusar, yang menandai sumber sumange’, dan dihormati dalam ritual, sebagaimana totalitas pusat dan pinggir, dimana setiap sudut rumah ditandai dengan sesajen dan do’a. Kehadiran roh penjaga pada tiang pusar juga terdapat dalam La Galigo dimana tiang pusat istana raja kerap menjadi fokus kegiatan dalam kisah epik tersebut. Tiang ini dihiasi saat ada upacara – upacara, tarian – tarian disajikan di sekitarnya, dan ketika dilakukan pelayaran antara Dunia Tengah dan Dunia Atas, muncul pelangi di tiang tersebut pada saat pelayaran dilakukan, sehingga menghubungkan dunia syurgawi dan dunia materi. Hingga sekarang, ketika berada di luar rumah, adalah hal lazim bagi orang – orang untuk mendapatkan perlindungan diri melalui penggunaan jimat – jimat yang dipakai atau dibawa untuk menghindari malapetaka dan dilepas setelah memasuki rumah.

Simetri dan keseimbangan dari pengaruh pencarian tatanan dan harmoni yang terdapat pada sulapa eppa’, dan skema fundamental lainnya yang dikaitkan terus menerus dan ditegaskan dalam wilayah sosial, politik, dan spiritual. Motif – motif mungkin muncul secara sadar dari pemahaman akan sulapa eppa’ dan posisi sosial, seperti halnya timpa laja’ bola (Makassar : timbassila balla’), jumlah jeluji jendela, motif – motif tertentu pada dinding rumah, walasuji, dan lain sebagainya. Motif ini mungkin belum menjadi refresentasi sadar dari konsep – konsep tersebut tetapi merupakan ekspresi dari sebuah logika kultural yang melingkupinya. .

C. Pemilihan Waktu Yang Baik

Waktu penyelenggaraan upacara ini disesuaikan dengan waktu yang baik menurut ketentuan adat untuk orang Bugis Makassar. Pemilihan waktu baik sangat penting untuk memastikan hasil positif sebuah usaha. Bentuk pengetahuan paling umum yang terkandung dalam kutika / pitika adalah metode – metode penentuan hari – hari baik untuk melakukan suatu kegiatan, termasuk mendirikan rumah. Dewasa ini, perhatian terhadap hari – hari dan waktu – waktu baik dan buruk di Sulawesi Selatan digunakan oleh banyak orang untuk kegiatan – kegiatan rutin seperti memulai perjalanan. Tetapi terutama digunakan untuk kegiatan – kegiatan penting seperti waktu pernikahan, atau tahapan dalam mendirikan rumah (Saing, 1982 atau Sunusi, 1969 menerangkan penggunaannya dalam pembangunan rumah).

Hamid (1994) mengaitkan konsep – konsep hari buruk dan hari baik dengan kepercayaan animisme, yang ia samakan dengan kepercayaan terhadap kesatuan manusia dengan hukum alam (sesuatu yang tersebar pada banyak masyarakat – masyarakat Austronesia) (lihat juga Waterson, 1993 ; Pigeaud, 1983). Manuskrip umumnya berisi daftar – daftar bulan dalam kalender Islam, dengan keterangan – keterangan apakah waktu – waktu tersebut baik untuk kegiatan – kegiatan tertentu, pendirian rumah dan pernikahan seringkali dihubungkan (yaitu, bulan baik untuk pernikahan biasanya juga baik untuk mendirikan rumah).

Manuskrip – manuskrip memberikan keterangan yang sama tentang bulan – bulan yang baik dan buruk, namun berbeda dalam meramalkan hasil atau akibat bagi sang empunya rumah, jika kegiatan itu diadakan para periode tersebut.

- Bulan Muharram bukan waktu baik untuk mendirikan rumah atau menyelenggarakan perkawinan. Sang empunya rumah akan selalu menderita.
- Bulan Safar bulan bagus untuk mendirikan rumah atau menyelenggarakan perkawinan. Sang empunya rumah akan selalu memperoleh keberuntungan.

- Rabi’ul – awal tidak baik untuk mendirikan rumah atau menyelenggarakan perkawinan. Sang empunya rumah akan selalu tertimpa musibah kematian.

- Rabi’ul akhir baik untuk mendirikan rumah atau menyelenggarakan perkawinan. Sang empunya rumah akan selalu memperoleh kebahagiaan.

- Jumadil awal baik untuk mendirikan rumah ; Sang empunya rumah akan selalu memperoleh keberuntungan.

- Jumadil akhir tidak baik untuk mendirikan rumah atau menyelenggarakan perkawinan. Sang empunya rumah akan sakit – sakitan dan dilanda kesulitan – kesulitan lainnya.

- Rajab bukan bulan baik untuk mendirikan rumah. Sang empunya rumah akan mati tertikam dan rumahnya akan terbakar.

- Sya’ban baik untuk mendirikan rumah dan menikah. Sang empunya rumah akan selalu memiliki kekayaan.

- Ramadhan baik untuk mendirikan rumah, juga menyelenggarakan perkawinan. Penghuni rumah akan selalu akrab dengan tetangganya dan akan memperoleh kebahagiaan.

- Syawal tidak baik untuk mendirikan rumah dan menyelenggarakan perkawinan. Sang empunya rumah akan tertikam dan rumahnya tidak akan pernah sempurna.

- Zulqa’idah baik untuk mendirikan rumah dan menyelenggarakan perkawinan. Sang empunya rumah akan selalu memiliki hubungan yang baik dengan tetangga – tetangganya.

- Zulhijjah baik untuk mendirikan rumah atau menyelenggarakan perkawinan. Sang empunya rumah akan memperoleh ketenteraman. Mereka akan memperoleh banyak emas.


D. Upacara Adat Menre Bola

Jalannya Upacara naik rumah baru ini dilaksanakan pada hari yang telah ditetapkan tuan rumah untuk naik ke rumah baru. Upacara ini dipimpin oleh panrita bola atau sanro bola. Penyelenggaraan upacara diselenggarakan oleh tuan rumah yang dibantu oleh orang tua dari kedua belah pihak (suami isteri). Peserta Upacara terdiri atas suami isteri, keluarga tuan rumah, tukang dengan kepala tukang (tetapi biasanya panitia itu juga mengepalai tukang yang bekerja), dengan seluruh tenaga pembantunya serta tetangga – tetangga dalam kampung itu.

Tahap Upacara Makkarawa Bola.

Makkarawa Bola artinya memegang, mengerjakan, atau membuat peralatan rumah yang telah direncanakan untuk didirikan dengan maksud untuk memohon restu kepada Tuhan agar diberikan perlindungan dan keselamatan dalam penyelesaian rumah yang akan dibangun tersebut. Tempat dan waktu upacara ini diadakan di tempat dimana bahan – bahan itu dikerjakan oleh Panre (tukang) karena bahan – bahan itu juga turut dimintakan doa restu kepada Tuhan. Waktu penyelenggaraan upacara ini ialah pada waktu yang baik dengan petunjuk panrita bola, yang sekaligus bertindak sebagai pemimpin upacara.

Bahan – bahan upacara yang harus dipersiapkan terdiri atas : ayam dua ekor, dimana ayam ini harus dipotong karena darahnya diperlukan untuk pelaksanaan upacara kemudian tempurung kelapa daun waru sekurang – kurangnya tiga lembar. Tahap pelaksanaan upacara makkarawa bola ini ada tiga, yaitu :

1. waktu memulai melicinkan tiang dan peralatannya disebut makkattang,
2. waktu mengukur dan melobangi tiang dan peralatannya yang disebut mappa,
3. waktu memasang kerangka disebut mappatama areteng.

Setelah para penyelenggara dan peserta upacara hadir, maka ayam yang telah disediakan itu dipotong lalu darahnya disimpan dalam tempurung kelapa yang dilapisi dengan daun waru, sesudah itu darah ayam itu disapukan pada bahan yang akan dikerjakan. Dimulai pada tiang pusat, disertai dengan niat agar selama rumah itu dikerjakan tuan rumah dan tukangnya dalam keadaan sehat dan baik – baik, bila saat bekerja akan terjadi bahaya atau kesusahan, maka cukuplah ayam itu sebagai gantinya. Selama pembuatan peralatan rumah itu berlangsung dihidangkan Kue - kue tradisional seperti : Suwella, Sanggara, Onde-Onde, Roko - roko unti, Peca’ Beppa, Barongko dan Beppa loka, dan lain – lainnya.

Tahap Upacara Mappatettong Bola (Mendirikan Rumah).

Tujuan upacara ini sebagai permohonan doa restu kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar rumah yang didirikan itu diberkahi dan dilindungi dari pengaruh-pengaruh roh jahat yang mungkin akan menganggu penghuninya. Upacara ini diadakan di tempat atau lokasi dimana rumah itu didirikan, sebagai bentuk penyampaian kepada roh-roh halus penjaga – penjaga tempat itu bahwa orang yang pernah memohon izin pada waktu yang lalu sekarang sudah datang dan mendirikan rumahnya. Sehari menjelang dirikan pembangunan rumah baru itu, maka pada malam harinya dilakukan pembacaan kitab barzanji.

Adapun bahan – bahan dan alat – alat kelengkapan upacara itu terdiri tas : ayam ’bakka’ dua ekor, satu jantan dan satu betina. Darah kedua ayam ini diambil untuk disapukan dan disimpan pada tiang pusat rumah, ini mengandung harapan agar tuan rumah berkembang terus baik harta maupun keturunannya. Selain itu, Bahan – bahan yang ditanam pada tempat possi bola dan aliri pakka yang akan didirikan ini terdiri atas : awali (periuk tanah atau tembikar), sung appe (sudut tikar dari daun lontar), balu mabbulu (bakul yang baru selesai dianyam), penno-penno (semacam tumbuh-tumbuhan berumbi seperti bawang), kaluku (kelapa), Golla Cella (gula merah), Aju cenning (kayu manis), dan buah pala. Kesemua bahan tersebut diatas dikumpul bersama – sama dalam kuali lalu ditanam di tempat dimana direncanakan akan didirikan aliri possi bola itu dengan harapan agar pemilik rumah bisa hidup bahagia, aman, tenteram, dan serba cukup.

Setelah tiang berdiri seluruhnya, maka disediakan pula sejumlah bahan – bahan yang akan disimpan di possi bola seperti kain kaci (kain putih) 1 m, diikatkan pada possi bola, padi dua ikat, golla cella, kaluku (kelapa), saji pattapi (nyiru), sanru (sendok sayur), piso (pisau), pakkeri (kukur kelapa). Bahan – bahan ini disimpan diatas disimpan dalam sebuah balai – balai di dekat possi bola. Bahan ini semua mengandung nilai harapan agar kehidupan dalam rumah itu serba lengkap dan serba cukup. Setelah kesemuanya itu sudah dilaksanakan, barulah tiba saat Mappanre Aliri, memberi makan orang – orang yang bekerja mendirikan tiang – tiang rumah itu. Makanan yangf disajikan terdiri atas sokko (ketan), dan pallise, yang mengandung harapan agar hidup dalam rumah baru tersebut dapat senantiasa dalam keadaan cukup. Tahap Upacara Menre Bola Baru (Naik Rumah Baru)

Tujuannya sebagai pemberitahuan tuan rumah kepada sanak keluarga dan tetangga sedesa bahwa rumahnya elah selesai dibangun, selain sebagai upacara doa selamat agar rumah baru itu diberi berkah oleh Tuhan dan dilindungi dari segala macam bencana. Perlengkapan upacara yang disiapkan adalah dua ekor ayam putih jantan dan betina, loka (utti) manurung, loka / otti (pisang) panasa, kaluku (kelapa), golla cella (gula merah), tebbu (tebu), panreng (nenas) yang sudah tua. Sebelum tuan rumah (suami isteri) naik ke rumah secara resmi, maka terlebih dahulu bahan bahan tersebut diatas disimpan di tempatnya masing – masing, yaitu :

(1) Loka manurung, kaluku, golla cella, tebu, panreng dan panasa di tiang possi bola.
(2) Loka manurung disimpan di masing – masing tiang sudut rumah.

Tuan rumah masing – masing membawa seekor ayam putih. Suami membawa ayam betina dan isteri membawa ayam jantan dengan dibimbing oleh seorang sanro bola atau orang tertua dari keluarga yang ahli tentang adat berkaitan dengan rumah. Sesampainya diatas rumah kedua ekor ayam itu dilepaskan, sebelum sampai setahun umur rumah itu, maka ayam tersebut belum boleh disembelih, karena dianggap sebagai penjaga rumah. Setelah peserta upacara hadir diatas rumah maka disuguhkanlah makanan – makanan / kue – kue seperti suwella, jompo – jompo, curu maddingki, lana – lana (bedda), konde – konde (umba – umba), sara semmu, doko – doko, lame – lame. Pada malam harinya diadakanlah pembacaan Kitab Barzanji oleh Imam Kampung, setelah tamu pada malam itu pulang semua, tuan rumah tidur di ruang depan. Besok malamnya barulah boleh pindah ke ruang tengah tempat yang memang disediakan untuknya.

d. Tahap Upacara Maccera Bola.

Setelah rumah itu berumur satu tahun maka diadakanlah lagi upacara yang disebut maccera bola. “Maccera Bola” artinya memberi darah kepada rumah itu dan merayakannya. Jadi sama dengan ulang tahun. Darah yang dipakai maccera ialah darah ayam yang sengaja dipotong untuk itu, pada waktu menyapukan darah pada tiang rumah dibacakan mantra, “Iyyapa uitta dara narekko dara manu”, artinya nantinya melihat darah bila itu darah ayam. Ini maksudnya agar rumah terhindar dari bahaya. Pelaku maccera bola ialah sanro (dukun) bola atau tukang rumah itu sendiri.

E. Dapur Orang Bugis Makasar

Istilah dapur (tradisional) disini mencakup pengertian dapur sebagai ruang /bangunan, tempat menyimpan peralatan masak dan tempat berlangsungnya kegiatan makan minum. Eksistensi dapur ini timbul bersamaan dengan diketemukannya api oleh manusia. Dapur bagi orang Bugis-Makassar sangat dekat dengan proses dan eksistensi keluarga. Keluarga yang masih "hidup" dapat ditengarai dengan dapur yang masih berasap. Sebaliknya sebuah dapur yang sudah tidak berasap lagi menandakan bahwa keluarga pemilik dapur sudah mati.

Dapur tradisional Bugis-Makasar pada umumnya berbentuk segi empat, mengikuti filsafat orang Sulawesi Selatan yang disebut "Sulapa Eppa" yang artinya "Yang dianggap paling sempurna adalah yang bersegi empat". Bentuk formasi bangunan untuk perletakan tungku ada yang terbuat dari kayu dan ada pula yang diletakkan diatas lantai rumah secara berdampingan. Bangunan dapur tradisional Bugis-Makasar ada yang bertingkat dua. Lantai atas digunakan untuk tempat menyimpan dan mengeringkan kayu bakar atau menyimpan peralatan dapur. Lantai bawah digunakan untuk memasak. Tungku masak yang digunakan kebanyakan masih menggunakan tiga batu yang diatur diatas lantai yang sudah diberi pasir atau tanah. Dalam satu dapur bisa berderet dua sampai tiga buah tungku. Bila masih memerlukan tungku lagi, dibuatlah tungku yang terpisah dengan dapur yang disebut dapo (Bugis) atau palu (Makasar) yang mudah dipindah-pindahkan.

Di beberapa daerah di Sulawesi bagian Selatan, palu yang mempunyai bentuk seperti perahu dengan tiga tatakan sangat dominan dipakai. Sedangkan untuk wilayah utara cukup bervariasi, diantaranya : formasi tiga batu, bentuk silinder, dua besi panjang sejajar, dan lain sebagainya. Dalam perkembangan selanjutnya, dapur tersebut bergeser ke ruang belakang dan dibuatkan bangunan tambahan khusus dibagian belakang atau bagian sebelah kiri bangunan induk. Bangunan khusus untuk dapur ini disebut Jongke atau Bola Dapureng. Jongke ini merupakan tempat pelaksanaan kegiatan penyediaan makanan dan minuman keluarga atau tamu, serta tempat untuk menyimpan makanan dan peralatan masak.

Dapur orang Bugis-Makasar [sesuai dengan pengetahuan lokal para nenek moyang mereka] diusahakan menghadap Utara atau Selatan. Jika dapur menghadap utara maka orang yang memasak akan menghadap ke Selatan, begitu pula sebaliknya. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari asap dapur yang sangat dipengaruhi oleh angin musim yang bertiup dari arah barat atau timur. Hal ini masih dipengaruhi lagi oleh letak dan posisi dapur terhadap keadaan lingkungan sekitarnya, seperti daerah perbukitan/ pegunungan. Hal lain yang kurang diperhatikan adalah sistem ventilasi dapur, sehingga kondisi udara di dapur tidak sehat.

Pada umumnya peralatan dapur tradisional orang Bugis-Makasar dapat diklasifikasikan menurut jenis material peralatan tersebut :

a. Terbuat dari tanah liat: dapo/pallu (anglo), Oring tana/Uring buta (periuk), bempa/gumbang (tempayan), dan lain – lain.
b. Terbuat dari logam yaitu: oring beddi/uring bassi (periuk), panci, ceret, pammutu bessi/pamja besi (wajan) piso/ lading (pisau), bangkung / berang parang), baki.
c. Terbuat dari bambu: pabberang api (peniup api), paccipi (penjepit), pattapi (niru), rakki (tempat mengeringkan bahan makanan), jamba (tempat nasi dari anyaman bambu).
d. Terbuat dari kayu: dulang (tempat nasi), piring kayu.
e. Terbuat dari tempurung kelapa: kaddaro innungeng/inungang (gelas tempurung), sinru kaddaro/si'ru kaddaro (sendok tempurung), piring kaddaro.
f. Terbuat dari anyaman: assokkoreng (kukusan), baku-baku (bakul nasi), appanatireng santang(tapisan santan), paberesse/pa'berassang (tempat beras)
g. Terbuat dari batu: pakungeng batu (lesu batu), accobereng/accebekang (cobek)

Fungsi dan Pandangan terhadap Dapur

Fungsi dapur juga mengalami perkembangan mengikuti budaya dan masyarakat. Fungsi dapur sekarang dapat disebutkan sebagai berikut :a. Tempat untuk kegiatan penyediaan dan pengolahan makanan dan minuman untuk keluarga dan tamu. Disini perempuan memegang otoritas penuh atas ruang dan waktu.b. Tempat menyimpan peralatan dan persediaan makanan dan minuman.c. Tempat cuci dan pembuangand. Tempat untuk sosialisasi awal bagi anak perempuan memasuki dunia perempuan serta mempererat hubungan kekerabatan dengan anggota keluarga lain atau tetanggae. Tempat usaha: membuat kue, makanan dan minuman.

Sejalan dengan fungsi-fungsi dapur tersebut, tumbuh nilai-nilai atau norma yang harus dipatuhi oleh anggota masyarakat setempat. Misalnya, untuk menerima tamu (bukan famili), tidak melewati batas ruang tamu, apalagi masuk ruang dapur. Karena dapur merupakan rahasia keluarga / kehidupan rumah tangga, sehingga ruang dapur dibatasi hanya untuk kerabat dekat saja. Pemanfaatan dapur sebagai salah satu bagian rumah juga membawa nilai - nilai atau norma - norma yang harus ditaati. Oleh karena itu ada beberapa perilaku yang tidak boleh dilanggar karena dapat membawa bencana bagi siapa saja yang melanggarnya.

Beberapa pantangan tersebut adalah :

a. Tidak boleh menginjak dapur (tungku), barang siapa menginjak tungku dia akan bersifat seperti kucing (dalam masalah seksual), artinya, orang yang suka menginjak dapur akan suka melanggar norma / nilai di bidang seks.
b. Anak gadis tidak boleh menyanyi di depan dapur. Jika dilanggar dia akan bersuamikan orang tua atau mempunyai anak tiri.
c. Pada saat seorang nelayan turun ke laut, api dapur tidak boleh padam. Hal ini dimaksudkan agar nelayan/suami tersebut selamat pergi dan pulang dari melaut.
d. Pada musim pengolahan tanah, istri petani tidak boleh memberi api dapurnya kepada dapur tetangganya. Hal ini dilarang karena akan mengakibatkan padinya habis dimakan ulat / tikus.
e. Laki - laki tidak boleh bekerja di dapur karena menurunkan derajat laki-laki.
f. Laki - laki (suami) tidak boleh memegang Alat - alat masak. Hal ini menandakan suami tidak percaya kepada istrinya.
g. Tidak boleh memukul anak-anak dengan alat-alat masak seperti sendok dan sebagainya, hal ini menyebabkan anak tersebut menjadi bodoh.

Lambat laun ritual Pemahaman tentang Rumah Adat Bugis Makassar ini telah terkikis, Begitupun Upacara Adat Menre Bola (Makassar : Nai’ Balla) ini sudah banyak ditinggalkan oleh masyarakat pendukungnya karena sudah kurang yang memahami esensi dan tata cara pelaksanaannya, Begitu pula pemahaman tentang Dapur dengan segala etika yang harus ada didalamnya sudah terlupakan.

Saat ini yang banyak kita saksikan apabila ada pembangunan rumah adat (rumah kayu) atau rumah modern (rumah batu), masyarakat melaksanakannya cukup dengan acara syukuran saja dengan mengundang berbagai kerabat dan handai taulan. Meski begitu, semoga tulisan ini bermanfaat, paling tidak mengingatkan budaya dan tradisi yang hilang atau terlupakan itu.








Penulis M. Farid W Makkulau,
Pemerhati Budaya,Tinggal di Pangkep.
Baca Selanjutnya - * Rumah Adat, Tradisi Menre Bola, dan Dapur Orang Bugis Makassar

12 Des 2010

* Menelisik Prasasti Kerajaan Sambaliung Berau hubungannya dengan Bugis Makassar

Di keraton Sambaliung yang juga merupakan peninggalan Kerajaan Sambaliung terdapat situs peninggalan Kerajaan yang terbuat dari kayu. Keadaan situs/prasasti peninggalan kerajaan Sambaliung tersebut sudah mulai lapuk termakan usia sehingga perlu mendapat perhatian sebagai upaya penyelamatan maupun menyebarluaskan arti serta pesan yang dituliskan kepada seluruh masyarakat.

KERATON SAMBALIUNG



Penyelamatan situs dalam rangka mengingatkan generasi muda bahwa kerajaan mempunyai norma-norma dan tata tertib tentang etika pergaulan, pernah ada di Kabupaten Berau. Agar dapat dipahami dan sekaligus sebagai paya penyelamatan situs tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Upaya menerjemahkan situs dilaksanakan bekerja sama dngan Balai Penelitian Arkeologi Banjarmasin yang pelaksanaannya dilakukan pada blan September 2003. Sebagai upaya untuk mendokumentasikan dan pengamanan situs/prasasti maka dibuatkan rumah pelindung yang ditempatkan di halaman Keraton Sambaliung dan terjemahannya dibukukan secara khusus.

Hasil terjemahan Tugu 1
Prasasti berhuruf arab dan melayu

“Pasal jika sultan jika ada duduk dimuka lawang atau dimuka lawang sakapi maka siapa siapa mau melewati maka itu orang duduk dulu tidak boleh terus melewati”

Penjelasan :
Prasasti tersebut menunjukkan adanya suatu pasal tentang tata karma orang yang lewat didepan istana sambaliung, terutama saat raja berada didepan pintu istana, maka apa bila ada seseorang yang akan lewat depan istana tersebut terlebih dahulu harus duduk sebentar (sebagai tanda hormat kepada raja)baru melanjutkan perjalanan.

Hasil terjemahan Tugu II
Prasasti berhuruf lontaran Bugis

Naraekko engkai sulu tangnge ri yolo na bolana babang sakkepe ngnge ngi-nigi meloq ilalo tudakko yoloq nappako ilalo deq na wedding matteruq-teruq ilalo yatteyangngi rita ale temmappa ddupa ri yolo na bola massuq iyareqqa? Marola ki adeq e
Deq nawedding mangkagagangeng ki lalenna babang sakkepengnge engkamana bi appangngewangeng

Yappesangkang toi mencawa-cawa makkitra ki bolae nakko e ngka tau yatte yangngi ttudang ki lalengnge ri yolona bolae ki wi rinna wdding mua ttudang.


Deq na wedding makkita ki bolona sulutangnge nakko deq sabaqna pakkita madeceng


Ajaq mulunnangi yareqqamuipolo o lona makku nraiye ki tengngana lalengnge mo ata muita iko boranewe lesseko ceddeq nawedditto noqkiq tappeyngnge nakko enka marainang ko engka makkunrai rita noq pole ki bolae ta, kiq yoloq borane ki lalengnge ajaq na tomatteruq mappolo nakko labeqni makkunrayye nappani borane mopa.


Nigi-nigi tau tau teppegauq iyareqna nayi tayae yinatu tau mpelaiwi atturengnge gangka nattue petta sulutangnge. La mappatangka sambaliyung



Terjemahan :

Apabila Sultan berada di depan pintu gapura, maka barang siapa yang lewat harus duduk dahulu kemudian mneruskan langkahnya. Tidak boleh terus berjalan sebelum Sultan memperlihatkan diri ketika Sultan sedang berada di luar. Demikian aturan adat.
Tidak boleh bereleisih di dalam wilayah istana meskipun ada perkara yang dipertentangkan.
Tidak diperkenankan ketawa-ketawa saat memandang ke istana. Dilarang pula orang duduk di jalanan istana, tetapi di samping istana diperbolehkan duduk.
Tidak boleh melihat-lihat ke istana Sultan apabila tidak ada hal yang sebaiknya dilihat.
Jangan menutup atau memotong arah jalan perempuan di tengah jalan meskipun di pandangmu adalah seorang budak kalian para lelaki menepilah sedikit, jika perlu turunlah dari jalanan. Apabila ada perempuan bersama dengan ibunya yang kamu lihat yan g turun dari rumah. (menuju jalanan), maka laki-laki berhenti dahulu dan jangan langsung memotong arah jalannya.
Barang siapa saja tidak melaksanakan atau mengabaikan maka ia meninggalkan peraturan yang ditetapkan oleh petta sultan. La mappata (ng) ke Sambaliyung.


RUMAH PELINDUNG SITUS 2 (DUA) BUAH PRASASTI KERATON SAMBALIUNG

Situs yang terdiri atas dua buah prasasti yang bertuliskan huruf Arab Melayu dan huruf Bugis merupakan peninggalan sejarah yang perlu dilindungi karena di dalamnya terkandung beberapa aturan, etika, dan tata cara menghormati perempuan serta penghormatan terhadap keraton yang merupakan tempat tinggal raja.



Untuk menghindari dari serangan jamur bakteri yang mengakibatkan kerapuhan kedua prasasti tersebut, maka pemerintah kabupaten Berau melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan membuat “Rumah Pelindung Situs” beserta terjemahannya yang disalin di batu marmer dan dibuatkan duplikatnya.

Dengan terlindunginya situs tersebut dalam rumah pelindung diharapkan masih mampu bertahan dalam waktu lama sebagai bukti peninggalan sejarah yang tak ternilai sekaligs bisa dijadikan sumber informasi bagi pihak yang memerlukannya.

Sumber :
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Berau
http://www.disbudpar-berau.net/
Baca Selanjutnya - * Menelisik Prasasti Kerajaan Sambaliung Berau hubungannya dengan Bugis Makassar

7 Des 2010

* Menelisik tahapan pembangunan Benteng Somba Opu

Mariki di'..........
" SAVE BENTENG SOMBA OPU"






Lontara’ Gowa dan Tallo merupakan naskah yang memuat dokumentasi perihal bangunan pertahanan terbuat dari tanah, batu bata dan batu-batuan yang dibangun di antara masa pemerintahan Somba Gowa Karaeng Tumapa’risi Kallona ( 1511-1547 ) dan Sultan Hasanuddin ( 1653-1669 ). Berkat adanya penggalian di Somba Opu dalam kaitan dengan miniatur Sulawesi Selatan, Somba Opu merupakan benteng pertahanan yang paling baik di dokumentasikan dari kesembilan benteng Makassar yang sejauh ini telah dipelajari. Sejumlah 1300 bata dari benteng Somba Opu telah diukur, dan dibagi dalam tiga kelas yakni :

- Bata besar, sedikitnya 35cm panjangnya;
- Bata yang kecil, kurang dari 35cm panjangnya; dan
- Bata Pattukangan yang lebih besar yang lebih lebar dan tebal daripada bata yang berukuran kecil.

Bata Pattukangan ini biasanya hanya ditemukan di dinding Pattukangan dan dinding kedua Barombong utara yang dibangun oleh kepala kewedanan Gowa, pada tahun 1661 dan 1662.Penelitian silang yang dilakukan pada sisa-sisa dinding benteng menunjukkan adanya lima (5) variasi dalam sistem kontruksi bangunan. Selain itu, adanya penambahan bahan bangunan pada dua lokasi :

- Pintu masuk utama sebelah barat ; dan
- Di sepanjang bagian depan Benteng Tallo’ dengan sumber batuan yang tidak diketahui asalnya.

Tidak diperoleh bukti tentang cetakan-cetakan keramik untuk membentuk batu bata yang pernah ditemukan. Bahkan beberapa batu bata memiliki desain dan ciri-ciri lain yang menunjukkan bahwa bagian atas dari batu bata terdedah saat tanah liatnya masih basah. Kemungkinan batu bata dibentuk di atas sebuah papan kayu, dengan ujung-ujungnya yang dibentuk dalam cetakan kayu, atau dengan papan-papan kayu yang diletakkan tegak lurus di atas garis-garis batas yang digambarkan pada papan kayu dibawahnya. Hal ini dapat menjelaskan keberadaan ketiga kelas batu bata tersebut yang bervariasi.

Berdasarkan asumsi logis tentag evolusi yang terjadi dalam teknologi pembuatan benteng pertahanan di Makassar, dan dikombinasikan dengan catatan-catatan teks yang ada, data arkeologi itu menunjukkan adanya sejarah pembangunan kontruksi bangunan adalah sebagai berikut :

1. Dengan menerapkan teknologi berupa gundukan tanah pada kedua sisi dari satu baris batu bata berukuran besar, Karaeng Tunipalangga memperkuat tembok-tembok batu yang sudah ada sebelumnya di Kale Gowa dan Somba Opu dan membentuk benteng pertahahan kecil yang disebut Ana’ Gowa.

2. Enam puluh (60) tahun kemudian Sultan Tallo yakni Abdullah Awalul Islam, meresmikan penggunaan teknologi dari dua garis sejajar batu bata berukuran kecil ketika beliau membangun Tallo’.

3. Pada saat yang sama Somba Gowa yakni Sultan Alauddin menerapkan teknologi ini pada Kale Gowa yang menghasilkan adanya garis sejajar batu bata pada bagian-bagian dinding yang semula diperkuat oleh Karaeng Tunipalangga,

4. Segera setelah itu dibangunlah kedua bagian yang lain dari dinding-dinding istana dengan dua baris batu bata yang diisi tanah dibagian tengahnya, yakni dikenal dengan nama Sanrabone, dan dinding di bagian barat di Somba Opu.

5. Pada tahun 1631 sampai dengan 1632 istana Maccini’dangang di Somba Opu dibangun, yang menggunakan tembok bata yang padat sepanjang bagian timur dan selatan Somba Opu dan pada tahun 1634 dibangun tambahan untuk bagian dalam tembok bata yang padat sepanjang dinding bagian barat.

6. Pada tahun 1634 Sultan Abdullah membangun sebuah dinding pertahanan sepanjang pantai dari Ujung Tana’ ke Somba Opu, di Barombong dan kemungkinan ddari Somba Opu ke Pa’na’kukang.

7. Setelah penghancuran Pa’na’kukang dan pertahanan disekitarnya oleh Belanda pada tahun 1660, Sultan Hasanudddin membangun kembali benteng-benteng pertahanan ini dengan model yang baru termasuk konstruksi sebuah dinding bata di pantai Pa’na’kukang dan Barombong, dan memperbaiki di dinding pantai utara dari Somba Opu.


Benteng-benteng Makassar tidak hanya sekedar merupakan struktur-struktur pertahanan, tetapi juga mengandung makna hubungan sosial.Kedua pusat istana dan terutama benteng-benteng pertahanan di pantai, dibangun sedemikian rupa untuk dapat sekaligus melibatkan beberapa makam yang sudah ada pada bagian-bagian sudut benteng tertentu.Hal ini mencerminkan maksud tujuan para insinyur untuk menyerap kekuasaan nenek moyang sebagai perlindungan bagi dinding-dinding benteng pertahanan itu. Pusat dari benteng juga dianggap sebagai pusat dari kekuatan spiritual, sebagaimana ditunjukkan oleh adanya sepasang makam raja dan dan istana raja di tengah-tengah benteng di Kale’ Gowa dan Sanrabone.

Somba Opu nampaknya berbeda karena memiliki sudut-sudut dan pusat, yang kemungkinan mencerminkan keyakinan yang lebih besar pada penggunaan teknologi pada pembuatan benteng dari pada penggunaan pembangunan dengan kekuatan spiritual.


Tulisan ini di adopsi dari
Tulisan David Bulbeck , Konstruksi sejarah dan arti dari benteng Makassar.


Sumber Gambar :
- kaskusnews.us
- mycoratcoretz.blogspot.com


Editor tulisan oleh Tim Passompe Blogspot
Baca Selanjutnya - * Menelisik tahapan pembangunan Benteng Somba Opu

5 Des 2010

* Menengok tradisi upacara khitanan adat di Sulawesi Selatan

Tata Cara Upacara Khitanan Adat
Oleh : M. Farid W Makkulau

Salah satu bentuk sosialisasi yang masih dikenal oleh masyarakat hukum adat adalah upacara adat (custom ceremony). Fungsi upacara adat adalah untuk mengukuhkan norma – norma dan nilai – nilai budaya. Secara umum, upacara – upacara adat / ritual tradisi rumpun budaya masyarakat yang mendiami wilayah Sulawesi Selatan menunjukkan mentalitas religius – magis, yang diungkapkan secara kolektif melalui upacara – upacara. Upacara adat ini mempererat rasa “masseddi siri” (kebersamaan) dan “abbulo sibatang” (persatuan) masyarakat yang mendukungnya.

Beberapa upacara adat atau tradisi masyarakat Sulawesi Selatan yang berhubungan dengan peristiwa perubahan atau peralihan siklus hidup, diantaranya adalah peristiwa peralihan dari rahim ibu ke dunia dalam upacara alahere (kelahiran), peristiwa pengalihan dari anak-anak menjadi dewasa dalam upacara ‘aqiqah, appatamma dan appasunna / khitanan adat (pengislaman), peristiwa pengalihan dari masa lajang ke masa memiliki tanggung jawab keluarga, appabunting/perkawinan, peristiwa peralihan dari dunia ke dunia baka dalam upacara amateang (kematian). Peristiwa peralihan dari keadaan terbebani karena janji keadaan terlepas dalam upacara pelepas nazar, appalappasa nazara.

***

Sunatan atau biasa juga disebut “Khitanan” mempunyai arti yang sangat mendasar dalam agama Islam yaitu cara pengislaman dengan membuang kulit yang membungkus kepala kemaluan, ketentuan ini berlaku bagi orang islam baik laki – laki maupun wanita terutama bagi laki – laki karena kemaluan dianggap mengandung najis yang berlaku sejak Nabi terdahulu (Ensiklopedi Indonesia, Jilid III).

Upacara Appasunna (Khitanan Adat) dikenal dua versi (H Djamaluddin Hatibu dkk, 1992) dikenal dua versi, yaitu :

Versi Pertama, dengan urutan sebagai berikut :

(1) Menre Baruga ;
(2) Mammata – mata ;

(3) Allekke Je’ne ;

(4) Appassili ;

(5) Nipasintinggi Bulaeng dan Nipasalingi ;

(6) Appamatta ; dan

(7) Khitanan (Nisunna).


Pada Upacara Khitanan Adat versi pertama, acara “mammata – mata” ditempatkan pada urutan kedua karena sesudah acara menre baruga dapat sekaligus dilangsungkan acara mammata – mata mengingat pada acara menre baruga, anak yang akan disunat bersama orang tua dan keluarganya telah duduk di lamming (pelaminan) dalam baruga, dan pada acara ini pula ditampilkan acara kesenian meski pelaksanaannya dilakukan pada siang hari.

Pada versi kedua, acara “mammata-mata” ditempatkan pada urutan keenam dan dilaksanakan pada malam hari dengan dirangkaikan malam ramah tamah. Lengkapnya versi kedua dengan urutan acara sebagai berikut :

(1) Menre Baruga ;
(2) Allekke Je’ne ;

(3) Appassili ;

(4) Nipasitinggi Bulaeng dan Nipasalingi ;

(5) Appamatta ;

(6) Mammata – mata/Ramah Tamah ; dan

(7) Khitanan.


Menurut H Djamaluddin Hatibu, pada dasarnya kedua versi ini sama baiknya, tergantung dari orang yang melaksanakannya saja (H Djamaluddin Hatibu dkk, 1992).

I. Menre Baruga

Menre Baruga merupakan upacara awal penggunaan baruga sebagai pusat kegiatan upacara. Sebuah baruga berbentuk segi empat / belah ketupat yang memiliki arti tersendiri yaitu Tunggal atau Esa diibaratkan dalam bahasa Arab huruf SA ( ) atau SeuWa. Baruga dilengkapi dengan sebuah lamming (pelaminan), tangga atau sapana yang dihubungkan dengan kain putih (Taluttu) diartikan sebagai simbol ketulusan sedangkan bagian atas terdapat kain penutup langit – langit baru (timbawo).

Pelaksana Upacara Menre Baruga :

1. 2 Orang pembawa tombak ;
2. 1 orang pembawa payung (teddung) ;

3. 4 orang pembawa lellu ;

4. 2 orang pengapit ;

5. 3 orang pembawa kelengkapan (ammiccung, cerek dan apu) ;

6. 3 orang pembawa kipas panjang (tepa – tepa) ;

7. 3 orang pembawa oje ;

8. 1 orang Indo Pasusu ;

9. 2 orang pembawa lae – lae ;

10. 1 orang sanro ;

11. 14 orang dara berpakaian baju bodo ;

12. Seperangkat gendang adat.


Jalannya Upacara :

Anak yang akan disunat berpakaian pagadu (tidak memakai baju, hanya sarung putih dan songkok putih berada diatas bembengan dengan diantar oleh kedua orang tuanya dan seorang pinati. Sebelum memasuki baruga terlebih dahulu anak yang akan disunat beserta kedua orang tuanya, keluarga, kerabat serta rombongan menre baruga mengelilingi terlebih dahulu baruga sebanyak tiga kali.

Setelah itu baru bisa memasuki baruga melalui sapana (tangga) yang diatasnya terdapat hamparan taluttu (kain putih) pertanda penghormatan, kemudian si anak dijemput dengan hamburan benno, bente (bertih) menuju lamming, dibawah lellu yang sisi tiangnya dipegang oleh empat anak berpakaian pagadu.

Tangan si anak harus selalu memegang pattekko (alat tenun) mulai dari rumah kediaman menuju ke baruga. Acara dapat dilanjutkan dengan “mangngaru” diiringi “tunrung pakanjara”. Selesai itu diakhiri dengan akkaddo, jamuan kue-kue tradisional.

Selama acara menre baruga berlangsung diiringi dengan gendang adat (gandrang) yang kemudian dilanjutkan dengan acara allekka je’ne atau mallekke wae.


II. Allekka Je’ne (Mallekke Wae)

Allekka Je’ne (Mallekke Wae) yaitu upacara pengambilan air pada sebuah sumur tertentu (sumur bertuah) untuk dimandikan kepada anak yang akan disunat.

Sumur tertentu disini adalah sebuah sumur bertuah yaitu suatu sumur yang dianggap oleh masyarakat sebagai sumur yang telah tua umurnya dan membawah berkah bagi orang – orang yang mengambil airnya.

Pelaksana Allekka Je’ne :

1. 1 orang membawa poke banrangang berpakaian baju hitam dan berdestar (Appassapu) serta keris ;
2. 2 orang sebagai pengulu jalan (pangngolo) berpakaian jas tutup dan songkok racca (pamiring) untuk pria, sarung sutera serta baju bodo untuk wanita ;

3. 1 orang pembawa bate – bate (bendera) warna kuning dan berpakaian baju kuning, berdestar serta memakai keris ;

4. 1 orang pembawa sulolang berpakaian baju hitam, berdestar dan memakai keris ;

5. 7 orang pembawa ojek dan simpak berpakaian baju bodo ;

6. 1 orang pembawa songkolok berpakaian pagadu ;

7. 4 orang pembawa lellu berpakaian pagadu ;

8. 1 orang amma pasusu berpakaian baju bodo hitam dan sarung putih ;

9. 4 orang pabembeng berpakaian celana baroci, baju serta berdestar.

10. 1 orang pappariwa je’ne berpakaian baju hitam ;

11. 2 orang pembawa lae – lae berpakaian baju bodo ;

12. 1 orang pembawa anak baccing berpakaian baju bodo.

13. 1 orang pembawa kancing berpakaian baju bodo.


Jalannya Upacara :

Iring – iringan rombongan Allekka Je’ne menuju baruga dimana Pappariwa Je’ne berada di atas bembengan untuk menjemput kendi / tempat air yang akan dibawa menuju sumur bertuah, diiringi dengan gendang adat.

Setelah tiba di depan tangga baruga seorang pinati / Allekka Je’ne menaiki tangga untuk menjemput kendi / tempat air dari anak yang akan disunat melalu amma pasusu selanjutnya diteruskan kepada Pappariwa dan kemudian pappariwa diangkat dengan bembengan menuju sumur bertuah bersama rombongan Allekka Je’ne yang lain diiringi ganrang pakanjara.

Sesampai rombongan Allekka Je’ne di sumur bertuah, pinati sebagai kepala rombongan menerima kendi dari Amma Pasusu melalui Pappariwa diiringi tunrung pakanjara, kemudian pinati Allekka Je’ne menyerahkan kendi kepada pinati sumur yaitu orang yang akan menimba air di sumur tersebut dimana sebelumnya mengucapkan mantera – mantera dan memanjatkan doa kepada Allah SWT sambil berniat ”saya mengambil air untuk digunakan dalam appassili, semoga membawa berkah”, kemudian mengisi kendi sampai penuh.

Setelah kendi diisi air, pinati sumur menyerahkan kendi kepada Pinati Allekka Je’ne selanjutnya diteruskan kepada Amma Pasusu, lalu dari Amma Pasusu diteruskan kepada Pappariwa diiringi ”Pakkuru Sumange”, selanjutnya dengan posisi semula bergerak kembali ke rumah tempat upacara.

Catatan :

Sewaktu rombongan Allekka Je’ne menuju sumur bertuah, waktu diisi dengan berbagai atraksi permainan tradisional seperti pencak silat, maddaga dan tarian.

III. Appassili / Mappassili

Appassili / Mappassili adalah upacara pensucian diri lahir dan batin dimaksudkan agar segala kotoran dan hal – hal yang dianggap tidak baik yang terdapat dalam diri dapat dihilangkan. Appassili / Mappassili dapat juga diartikan sebagai pernyataan harapan kepada Tuhan YME agar tetap bahagia dan terhindar dari malapetaka yang mungkin akan menimpanya.

Alat dan Bahan Upacara Appassili :

1. Wajan besar / kuali tanah ;

2. Tikar / jali ;

3. Kelapa tua (bertunas) ;

4. Pattekko (alat tenun) ;

5. Beberapa macam bunga ;

6. Beberapa macam daun – daunan al : daun sirih, daun lai’ – mali’, daun pattene, dan daun cinrolo.


Pelaksana Upacara Appassili :

1. Anak yang dikhitan beserta kedua orang tuanya. Anak berpakaian pagadu yaitu hanya memahkai sarung, songkok gudang serta karawi, sedangkan kedua orang tuanya berpakaian adat ;
2. Satu orang Indo Pasusu berpakaian baju bodo warna putih ;

3. Satu orang sanro (orang tua yang akan memberikan petunjuk jalannya upacara) ;

4. 4 orang anak berpakaian pagadu memegang lellu ;

5. 2 orang pembawa lae – lae berpakaian baju bodo ;

6. 2 orang pembawa poke banra yang berpakaian jas tutup dengan berdestar dan keris ;

7. 1 orang pembawa ana’ baccing berpakaian baju bodo ;

8. 1 orang pembawa kancing berpakaian baju bodo ;

9. 6 orang memakai pakaian pagadu.


Jalannya Upacara :

Setelah air passili tiba dari sumur bertuah, pelaksana Allekka Je’ne tiba di depan pintu rumah upacara, Pappaddiwa menyerahkan kendi kepada amma pasusu diteruskan ke pinati dan kemudian pinati menuangkan ke dalam kuali tanah atau wajan yang dialasi okang / okang yang bermakna siokkong artinya tetap menjalin kebersamaan, sambil mengucapkan harapan ”ana’ lompoki nai nanubalasakki te’ne numanrapi mappalallo. Insya Allah. Amin.

Air yang diambil dari sumur bertuah tersebut bermakna bahwa kelak anak itu akan memiliki kharisma dan keperkasaan menantang kehidupan.

Saat anak tersebut akan dipassili, si anak duduk bersila diatas tikar / jali dibawah lellu sambil memegang pattekko, didampingi oleh sanro , dan disaksikan oleh kedua orang tua beserta keluarga dan kerabat, di depan si anak telah disediakan wajan / kuali tanah yang berisi air dicampur dengan macam – macam bunga seperti bunga kelapa, bunga melati, daun pandan, daun sirih, daun passili, daun cinrolo, daun mali – mali , serta pattene.

Tersedia pula kelapa yang bertunas dialasi okong artinya sang anak diharapkan dapat tumbuh atau cepat tumbuh menjadi dewasa dengan harapan dapat menjadi manusia yang berguna bagi bangsa, negara serta agama, satu gantang beras ( 4 liter), gula merah satu bungkus bermakna bahwa dalam mengarungi kehidupannya kelak akan selalu tenteram dan bahagia, satu pasang, diharapkan si anak akan mendapatkan jodoh yang sesuai.

Selanjutnya si anak mulai dipassili dengan menyiramkan air ke seluruh tubuhnya sambil sanro mengucapkan doa – doa, selama dipassili diiringi dengan pukulan lea – lea dan anak baccing. Makna dari daun – daun yang dipergunakan untuk appasili adalah :

- leko siri : supaya anak kelak mempunyai asa malu / siri’ ;
- leko mali – mali
: diharapkan sang anak selalu akrab dengan keluarga ;
- leko pattene
: diharapkan si anak kelak menjadi orang terkemuka ;
- leko cinrolo
: diharapkan agar si anak kelak menjadi orang terkemuka.

Setelah sang anak selesai dipassili, kemudian pakaian yang dipakai mulai ditanggalkan dengan cara membelakangi sewaktu akan disimpan diatas loyang bermakna semua yang telah terdapat dalam diri tidak ingin dilihat kembali, kemudian si anak digendong ke lamming untuk memakai baju yang tgelah disediakan atau dikenal dengan istilah Nipisalingi untuk anak laki – laki dan Mapasang Waju untuk anak perempuan.

Nipisalingi dilaksanakan oleh sanro, yaitu si anak dipakaikan baju yang terdiri dari baju jas tutup, sarung sutera dan songkok pamiring, Mappasang waju adalah istilah yang dikhususkan untuk anak perempuan dimana sewaktu si anak dipakaikan baju, dimulai dari sanro kemudian dilanjutkan oleh beberapa orang yang dianggap berhasil dan terakhir oleh kedua orang tua anak.

Dalam keadaan baju berlapis – lapis, biasanya sampai 9 lapis di badan, anak digendong ke depan pintu serta diangkat – angkat sampai tiga kali sambil mengucapkan :

”malampe sungekmu, mancaji anak saleh, mancajiko ana’ makkeguna ri bangsa sibawa negaramu, mancajiko marajing sompa ri Allah Taala, ana’ makkeguna ri keluarga, masempo dallemu matanre menre mallongi – longi”.

Setelah itu si anak melepaskan ayam,. Diibaratkan jodoh si anak, maksudnya kalau ayam tersebut larinya keluar berarti jodohnya si anak orang dari jauh, sedangkan kalau ayam kembali masuk ke rumah upacara, berarti jodoh si anak adalah keluarganya sendiri. Kemudian si anak dikembalikan ke lamming, setelah itu baju yang berlapis – lapis dilepaskan, dan yang tinggal hanya pakaian yang akan dikenakan yaitu baju bodo dan sarung sutera, lengkap dengan perhiasannya, sambil duduk kembali dibawah lellu dalam lamming.

IV. Upacara Nipasintinggi Bulaeng

Upacara dimana si anak diukur tingginya dengan benang emas, mulai dari ujung kaki sampai ujung rambut di kepala. Umumnya dilaksanakan karena ada nazar orang tuanya bila anaknya dalam keadaan sehat sejahtera serta telah mengkhatamkan Al-Qur’an maka sang anak akan diukur dengan benar emas. Upacara Nipasintinggi Bulaeng ini merupakan kelanjutan atau dilaksanakan setelah sang anak mengikuti acara Appassili.

Jalannya Upacara :

Si anak berdiri kemudian sanro memegang ujung benang emas (bulaeng), orang tua si anak (ayah atau ibunya meluruskan benang emas mulai dari ujung kaki sampai ujung rambut di kepala, benang emas kemudian digunting, lalu sisanya digunting – gunting kira – kira 2 cm untuk dibagi – bagikan kepada orang – orang yang berada di sekitar upacara, yang biasanya berebutan untuk mendapatkannya dengan harapan mereka kelak akan seperti orang tua si anak, dan bagi sang anak diharapkan agar tidak egois dan tidak kikir.

V. Appamatta

Appamatta adalah upacara pemaparan gigi, yaitu meratakan gigi si anak dengan harapan agar si anak kelak menjadi manusia yang arif dan bijaksana.

Alat dan Bahan Upacara :

1. Cincin emas milik ibu yang akan dikhitan ;
2. Tiga batang daun pelepah pepaya ;

3. Air dalam mangkuk beralaskan piring putih.



Jalannya Upacara :

Anak yang akan disunat duduk diatas bantal yang telah dilapisi dengan 7 lembar sarung milik orang yang dianggap berhasil dalam kehidupannya dimaksudkan agar si anak dapat pula berhasil dalam kehidupannya kelak, begitu pula setiap tindakan dan langkahnya.

Sarung diatur selapis demi selapis diatas bantal oleh sanro, kemudian si anak ditidurkan diatas bantal tersebut.

Cincin bersama tiga batang pelepah pepaya direndam pada mangkuk putih yang berisi air dengan harapan si anak dalam mengarungi kehidupannya akan selalu cemerlang, secemerlang kilaunya emas yang abadi sepanjang masa.

Selanjutnya si anak digosok giginya oleh sanro dengan cincin emas tersebut sambil membacakan doa – doa yang disaksikan oleh kedua orang tua, keluarga serta kerabat.

VI. Mammata – mata / Ramah Tamah

Mammata – mata adalah suatu rangkaian acara dimana para keluarga dan handai taulan berkumpul untuk mengikuti suatu acara yang dinamakan ”mappacci”. Mappacci dalam bahasa Bugis bila diberi akhiran ”ng” akan berbunyi paccing atau bersih, jadi mappaccing artinya pembersihan.

Mammata – mata merupakan wujud masyarakat Bugis Makassar dalam konsep Abbulo Sibatang atau Masseddi Siri. Namun sebelum acara ini berlangsung terlebih dahulu diadakan acara ”Khatamul Qur’an” yaitu acara penamatan Al-Qur’an bagi si anak dipimpin oleh seorang guru mengaji, disaksikan oleh kedua orang tua, keluarga dan kerabat.

Syarat – syarat Khatamul Qur’an :

1. 12 macam kue – kue tradisional dalam bosara ;
2. Songkolok (beras ketan yang dikukus) bersama lauknya, yang lazim adalah ayam ;

3. Peci hitam, sarung, dan sajadah untuk anak laki – laki, mukenah, sarung, dan sajadah untuk anak perempuan ;

4. Tikar, bantal dan guling.


Selesai si anak Khatamul Qur’an, maka semua syarat – syarat tersebut diantar ke rumah guru mengaji yang telah menamatkan sang anak oleh beberapa orang yang berpakaian adat, hal ini menandakan rasa terima kasih dan penghormatan orang tua si anak kepada guru mengaji si anak.

Setelah acara ini selesai dilanjutkan dengan acara “Barzanji”, yaitu suatu acara dimana beberapa orang laki – laki bergantian membaca riwayat rasulullah Muhammad SAW dan diakhiri dengan doa bersama kepada Allah SWT agar anak yang akan dikhitan mendapat rahmat dan petunjuk mengarungi kehidupannya kelak di kemudian hari. Dalam acara barzanji disediakan beberapa macam kue – kue tradisional dan songkolok (Kaddo minnyak” dan beberapa sisir pisang raja. Selesai acara barzanji dilanjutkan dengan acara mammata – mata.

Diapit oleh kedua orang tua anak di dalam Baruga dibawah pelaminan, si anak duduk sambil menanti acara mammata – mata.

Perlengkapan dalam acara mammata – mata adalah :

1. Daun pacci / pacar yang ditumbuk halus ;
2. Tempat pacci ;

3. Serbet ;

4. Tempat cuci tangan ;

5. Bantal ;

6. Daun pisang untuk alas bantal.


Sebelum acara mammata – mata dimulai, semua alat – alat telah tersedia, untuk lebih melancarkan jalannya upacara. Dimulai dari orang yang dituakan di daerah setempat memberikan daun pacci ke telapak tangan si anak, dimaksudkan agar rezeki yang diperoleh merupakan rezeki yang halalan tayyiban, dan diridhoi Allah SWT, kemudian dilanjutkan oleh keluarga, kerabat dan lain – lain, acara pemberian daun pacci diakhiri oleh kedua orang tua si anak.

Dalam acara mammata – mata disemarakkan oleh berbagai macam kesenian, seperti lagu – lagu daerah, tari – tarian, dan lain sebagainya . Acara ditutup dengan santap malam atau jamuan serta pemberian ucapan selamat.

VII. Assunna / Massunna

Acara Assunna / Massunna adalah merupakan acara inti dari segala acara yang telah disebutkan. Dengan didampingi oleh kedua orang tua anak, dalam keadaan posisi tidur bersandar (nibaeang / nisanre) diatas bantal berlapis daun pisang, yang bermakna kehormatan dan kesinambungan hidup.

Sebelum disunat seorang sanro menuntun si anak mengucapkan dua kalimat syahadat, kemudian seorang laki – laki berpakaian jas tutup, sarung sutera dan songkok pamiring (racca) serta memegang keris tampil untuk “Mangngaru” dengan harapan agar si anak di sunat dengan menggunakan pisau “sembilu” pisau yang terbuat dari bambu diiringi gendang tunrung pakanjara.

VIII. Seputar Masalah Khitan Menurut Syariat Islam

Khitan adalah salah satu sunnah fitrah dan syiar kaum muslimin, berdasarkan hadits riwayat Abu Hurairah r.a. dalam Shahih Bukhari – Muslim, Rasulullah saw bersabda, “Kesucian itu ada lima, khitan, mencukur bulu kemaluan, mencukur kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak”. Disini Rasulullah saw memulai sabdanya dengan khitan dan beliau menyatakan bahwa khitan termasuk tradisi – tradisi kesucian (Sunan al-Fitrah).

Adapun khitan yang disyariatkan ialah dengan memotong kulap yang menutupi bagian kepala zakar saja. Adapun berkumpulnya banyak lelaki dan wanita pada hari tertentu untuk menghadiri resepsi khitan, dimana anak yang dikhitan dipertontonkan dalam keadaan terbuka auratnya di depan umum, ini haram. Karena membuka aurat itu dilarang agama. Islam justru memerintahkan menutup aurat dan melarang membukanya. Mengkhitan anak adalah sunnah. Perintah mengenai waktu khitan ini bersifat leluasa dengan tetap memperhatikan kemaslahatan bagi anak itu sendiri. (**)
Baca Selanjutnya - * Menengok tradisi upacara khitanan adat di Sulawesi Selatan

2 Des 2010

" Sureq Baweng "

Oleh Nor Sidin




Selama ini naskah-naskah tua Bugis berupa epos yang paling terkenal adalah I La Galigo yang ditulis oleh Colliq Pujie atau yang lebih dikenal Arung Pancana Toa dan kemudian di tulis dan diterbitkan oleh Dr.B.F Mathhes.
Dalam beberapa naskah tua yang ditulis oleh Colliq Pujie ada satu naskah tua yang juga sangat menarik yang ditulis pada gulungan Lontaraq yang sangat indah dan salah satu paling terbaik yang dimiliki oleh masyarakat Bugis Makassar. Naskah tua tersebut yaitu Sureq Baweng yang ditulis pada sebuah wadah gulungan Lontaraq yang sangat fenomenal dan sangat langka.

Dalam tulisan pengantar yang ditulis Swary Utami yakni Colliq Pujie adalah pengarang dan intelektual perempuan yang lahir pada abad 19 di Sulawesi Selatan. Salah satu ikon yang sangat terkait erat dengan Arung Pancana ini adalah karya sastra La Galigo. Entah apa yang ada di benak Colliq Pujie ketika dia menyetujui permintaan B.F. Matthes, seorang missionaris Belanda, untuk menyalin kembali epos besar Bugis La Galigo tersebut. Nyatanya, salinan ulang tersebut lebih dari seratus tahun kemudian masih terus mencengangkan dunia. Tidak hanya panjang epos yang melebihi Mahabharata ini yang dikulik ahli dari beberapa negara. Colliq Pujie pun menjadi subjek perbincangan dan penelitian.

Mencoba menelisik karya-karya yang ditulis oleh Colliq Pujie salah satunya adalah Sureq Baweng dan kemudian diakhir gulungan tersebut adalah Kutika Bilengeng Duappulo.
Kemudian mencoba mengumpulkan referensi sebanyak mungkin perihal Sureq Baweng namun sangat disayangkan naskah tua Sureq Baweng sangat kurang untuk di bahas selama ini dibandingkan dengan saudaranya yakni Epos I La galigo walaupun sang penulisnya adalah sama yaitu Colliq Pujie
Dalam tulisan Nirwan Ahmad Arsuka La Galigo dan Kanon Sastra Dunia: Penciptaan dan “Penemuan” Manusia , tertanggal 26 Agustus 2010. Sempat menyebutkan Sureq Baweng hanya saja tidak ada pembahasan lebih lanjut. Dan hanya satu tulisan yang paling memberikan pembahasan yang cukup atau bisa dikatakan termasuk sangat baik adalah tulisan Roger Tol , Rolled up Bugis stories : A Parakeet's song of an old marriage calendar ,yang disajikan pada perayaan 17 tahun Biennial Conference of the Asian Studies Association of Australia di Melbourne Australia yang berlangsung pada tanggal 1-3 Juli 2008.

Pembahasan Sureq Baweng pada tulisan Roger Tol

Ketika memasuki koleksi Bataviaasch Genootschap tahun 1898 tertuju ke gulungan lontar Sureq Baweng. Roger Tool melihat Terdapat 5 identifikasi yang mudah bagi pelajar luar maupun dalam negeri terutama dari Bugis karena edisi teks Sureq Baweng telah diterbitkan 25 tahun sebelumnya oleh Bugis and Makassarese studies, B.F. Matthes (Matthes 1872a: 308-51). Menurutnya teks ‘well known among the Buginese’ and ‘very much loved’ (Matthes 1875:60; 1872b:139). Untuk edisi nya Matthes belajar dan memanfaatkan naskah ditulis oleh Arung Pancana. "(Matthes 1875:60) . Versi lontara dari Sureq Baweng memang sepertinya agak berbeda jauh dari versi yang dipublikasikan oleh Matthes namun menurut Mathhes Arung Pancana Toa telah melakukan yang terbaik untuk menyajikan dengan dipoles dari teks yang dibaca secara baik.

Dalam katalog tentang naskah Bugis dan Makassar Matthes mengakui perannya: ‘This manuscript was written by the frequently mentioned Arung Pancana and examined carefully by her’ (Matthes 1875:60). Dan dalam komentarnya terhadap naskah, ia menyatakan bahwa naskah ‘was reread numerous times [by her] so that, according
to the Buginese who have seen it, nowhere else a text of equal quality can be found.’ (Matthes 1872b:139.).

Dibandingkan dengan versi beberapa yang ditemukan cerita Sureq Baweng misalnya banyak tidak lengkap ini arena banyaknya proses penulisan ulang yang tidak hati-hati. Walaupun inti sebagai konteks sangat berperan dalam sebuah naskah yang sangat 'hidup' yang memiliki fungsi dalam masyarakat Bugis.

Beberapa teks dari Baweng Sureq adalah fragmen besar pada intinya sebuah prediksi tentang perkawinan, yang memiliki makna pengajaran atau nasihat-nasihat dari keseluruhan cerita utama. Dalam edisi Matthes banyak 'fragmen ( dialog)” dari awal hingga akhir pada gulungan lontar, Dan pada akhir gulungan tersebut disajikan gambaran budaya yang sarat muatan lokal Sulawesi Selatan yang sangat tua yakni penjelasan penggunaan sistem kalender yang khas yang disebut kotika Bilangeng duappulo, yang mengacu pada siklus dua puluh hari. ( Lihat Postingan).

Banyak kisah cinta yang disajikan ? Matthes (1872b :138-9) salah satu contoh yaitu :

…. [...] seperti sureq assiséngerreng merupakan ungkapan keinginan hati yang kuat itu. 'Pemilik burung yang yanga nama burung tersebut baweng' baweng punnaé atau diperkenalkan pada awal, merupakan cerita mengharukan mengingat burung kesayangannya, yang telah terbang jauh dengan burung yang indah ke tempat lain Dia merenungkan sebuah rasa rindunya akan burungnya. Sang pemilik berung bertanya sekelilingnya hingga ke pedagang-pedagan asing yang datang ke kampungnya. Inilah sebuah perumpamaan akan kehilangan seorang kekasih Ketika akhirnya dia melihat dirinya dicintai seseorang , namun disaat itu ia menemukan bahwa hatinya telah terasing dari dirinya, namun jantungnya terus berdetak kencang…[…].

Keterkaitan Sureq Baweng pada literature lain

Hal yang menjadi perhatian khusus apa yang disajikan pada edisi Mathhes yang mengacu pada Sureq Baweng. Fragmen diaolog dan cerita tersebut ternyata memiliki sebuah kualitas sejarah dan religius yang diketahui banyak memiliki kesamaan dari literatur lain.

Dalam literatur Melayu misalnya ada banyak contoh teks-teks yang sama di mana catatan sejarah dan biografi disajikan dalam bentuk puisi dengan pemaknaan hewan sebagai tokoh protagonists.

Selain itu adalah contoh dari 'cerita berbingkai' seperti socalled India atau Hindu Klasik,
kemudian sastra Persia yang telah meberikan pengaruh besar pada literatur Asia Tenggara terutama literatur Melayu .
Seperti contoh Literatur Melayu yang sangat terkenal yaitu Hikayat Bayan Budiman.

Hikayat Bayan Budiman adalah salah satu dari beribu hikayat yang disadur dari cerita-cerita arab-parsi dan juga berasal dari cerita-cerita Hindu klasik. Pada dasarnya Hikayat Bayan Budiman berasal dari hikayat sangsekerta Sukasaptati yang terdiri daripada dua versi. Pemunculan dua versi ini terkait dengan latar belakang tiap penulis mengenai kebudayaan dan agama sehingga membuat cerita ini berubah dan mengikuti kebutuhan masyarakat yang menjadi sasarannya. Secara khusus naskah yang akan dijadikan sumber data ditulis pada 1371[1]

Bila ditinjau secara sederhana kemungkinan adanya saling keterkaitan yang erat dalam segi literatur.
Pada umumnya dikalangan masyarakat Bugis bahwa Sureq Baweng ditujukan kepada seseorang yang menjadi tokoh heroisme tertentu seperti contoh yakni La Tenri Tatta terkenal dengan nama La To Appatunruq Petta Malampe Gemmeqna Daeng Serang Arung Palakka, beliau pergi melalui Buton ke Jawa untuk lalu dia kembali. Walaupun banyak lagi tokoh-tokoh heroisme yang lain untuk digambarkan. Ketika mengacu pada baweng punnaé atau 'pemilik burung baweng' kita akan tertuju dengan sang kekasih yang setia menunggunya. "

Dan akhirnya kita melihat Sureq baweng ini dengan kiasan yang tinggi akan penggambaran bagaimana kita bisa mengenali dan mengetahui sosok sang pendamping hidup (istri) yang baik dalam menjaga martabat suami.


Komposisi Tekstual Sureq Baweng Pada Tulisan Roger Tool



Inti 'Sureq Baweng di Matthes (1872a) memiliki 2802 garis dengan delapan suku kata. Di sekitar tiga perempat dari teks cerita berkembang tentang sistem kalender yakni untuk perhitungan akan keberuntungan dan kesialan. Ada baiknya kita akan merujuk ke bagian 'teks kotika' yang umumnya dikenal karena intinya adalah hingga ini berlanjut sampai akhir cerita, sehingga satu seperempat dari Sureq Baweng ditandai dengan prediksi dan perhitungan. Komposisi tekstual dari lontar ini sedikit lebih rumit. Alasan utama adalah bahwa teks hanya tidak lengkap, ada bagian yang hilang, dan pengaturan tidak lagi tersusun dengan baik .( Lihat Postingan ) Teks ini juga jauh lebih kecil dalam ukuran dan hanya memiliki 771 baris. Walaupun dari awal sampai garis 298 bisa gabungan teks dengan kotika, bila dijadikan satu dengan Sureq Baweng . Teks kotika adalah penciptaan hampir tak berujung dan pengulangan yang sangat saling berkaitan satu sama lain, dengan proses narasi yang sering diulang-ulang. Misalnya baris berikut ini :

10 Makkedi Kunéng Loloé,
11 Daéng Parénréng Ajué,

12 bissu terruq akasaé,

13 nalanyu-lanyué letté

14 napasaddaqé rakileq:

15 ‘Iko mennang maloloé,

16 rékkua lao ko mita

17 parukusemmu la éloq,


"Kemudian berbicara Kunéng Loloé, Daeng Ajué Parénréng,
Yaitu Bissu yang banyak mengetahui, diikuti dengan suara guntur, dan dengan suara petir dan berkatalah Bissu "Kau anak muda, ketika Anda akan mencari jdoh di masa depan…."


Bagian kedua dari ucapan merupakan phal petunjuk, yang sering juga dinyatakan dalam istilah keberuntungan (seperti garis 21,22,25).

18 musiduppa lao cemmé
19 makkunrai maloloé,
20 ajaqmu marakka-rakka
21 palutturi manuq-manuq
22 paddibola i duta.
23 Madécéng cinampaq mua,
24 madodong ri munri ritu,
25 dalléq ripadallékangngéng ngi.’


"Ketika melihat seorang gadis cantik turun ke sungai,
Pabila ada hati untuk untuk mengenal dia. maka jangan terburu-buru
biarkan burung terbang. Lebih baik menunggu beberapa saat, Tunggulah saat kesempatan baik datang".



Dan begitu teks berjalan terus. Terutama ketika bissu memberikan nasihat tentang gadis yang baik.. Bagian ini khusus dimulai pada garis 197 dan berlangsung untuk 100 baris berikutnya lalu terhenti. Ini adalah suatu hal untuk memberikan ruang bagi pembaca dalam menyerap inti atau maksud dari naskah tersebut sehingga memang ada bagian-bagian tertentu di sengaja terhenti mendadak agar dapat dimengerti dengan baik bagi si pembaca dalam menerima gambaran dari maksud yang tersembunyi..


Sureq Baweng adalah salah satu Naskah Tua daru ribuan naskah-naskah tua yang tersebar di Sulawesi Selatan Barat, Indonesia, Nusantara hingga yang tersimpan di berbagai tempat di Eropa. Sureq Baweng salah contoh besar naskah tua yang berasal dari Sulawesi Selatan barat yang ditulis oleh seorang tokoh Cendekiawan Wanita yakni Arung pancan Toa yang sangat berpengaruh pada kesusteraan Sulawesi Selatan dan Barat walaupun peranan B.F Mathhes pun juga sangat membantu dalam penyelamatan naskah-naskah tersebut. Semoga seperti Sureq Baweng lebih juga dikenal secara luas selain Sureq I La Galigo sebagai karya terbesar yang dimiliki oleh masyarakat Sulawesi Selatan dan Barat.
Harapan terbesar saat ini adalah memberikan ruang khusus dalam penyelamatan naskah-naskah tua Bugis Makassar dalam pengkajian dan penyebaran informasi secara luas agar generasi-generasi muda Sulawesi Selatan dan Barat lebih mengetahui akan budaya lokal-nya sehingga pemeliharaan dan kecintaan akan budaya serta sejarah semakin meningkat.





Sumber
-Roger Tol , Rolled up Bugis stories : A PARAKEET’S SONG OF AN OLD MARRIAGE CALENDAR , yang disajikan pada perayaan 17 tahun Biennial Conference of the Asian Studies Association of Australia di Melbourne Australia yang berlangsung pada tanggal 1-3 Juli 2008.
- Putri Eka Juliarni , Perilaku Penanda Negasi dalam Hikayat Bayan Budiman
- Nirwan Ahmad Arsuka La Galigo dan Kanon Sastra Dunia: Penciptaan dan “Penemuan” Manusia , 26 Agustus 2010
- The Malay Concordance Project, Australian National University (1)
- Matthes, B.F. 1868 De Makassaarsche en Boeginesche kotika's. [Makassar : Sutherland]. [Reprinted in Brink 1943:458-96.]
1872a Boeginesche chrestomathie, tweede deel. Amsterdam: Spin & Zoon
1872b Aanteekeningen op de Boeginesche chrestomathie. Amsterdam: Spin & Zoon.
- Swary Utami Dewi, April 2009 Colliq Pujie : Perempuan cerdas, unik dan perkasa dari Bugis.


Sumber Gambar
- Hikayat Bayan Budiman, 15 Nopember 2007 http://klasik.blogmas.com/
-Roger Tol , Rolled up Bugis stories : A PARAKEET’S SONG OF AN OLD MARRIAGE CALENDAR.
- Swary Utami Dewi, April 2009 Colliq Pujie : Perempuan cerdas, unik dan perkasa dari Bugis http://sudewi2000.wordpress.com/


Download File KLIK >>>> Sureq baweng
Baca Selanjutnya - " Sureq Baweng "