19 Apr 2011

* GUMBANG, BEMPA DAN BUSU. Wadah air masyarakat Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja

Oleh Suryaddin Laoddang


Anda Orang Bugis – Makassar – Mandar – Toraja (BMMT) ?. Dengan apa anda menyimpan persedian air dirumah anda ?. Dengan bak dari dari batu-bata berlapis keramik, dari bak plastik atau dengan ember plastik ?. Dengan baskom dari karet ban bekas mungkin ?. Lalu masih ingatkah anda dengan barang-barang berikut ?. Gumbang, Bempa dan Busu ?.

Mungkin tak banyak lagi diantara kita yang ingat dengan barang ini ?. Padahal itu belum ditambah dengan barang lainnya seperti Kaddaro Bila, Tarompong, Bira’ Awoo. Barang-barang tersebut adalah nama Bugis (maaf saya tidak tahu persis bahasa Makassar, Manda dan Toraja-nya) untuk wadah air, wadah menampung persedian air dalam rumah tangga masyarakat BMMT. Mungkin kita hanya familiar dengan kata Tempayang, kata dalam Bahasa Indonesianya. Masing-masing barang diciptakan dari bahan, ukuran, bentuk yang relatif berbeda, termasuk kegunaan masing-masing.

Gumbang dibuat dari bahan Batu Padas (Bugis : Batu Bulu) atau batuan sungai / kali (Bugis : Batu Salo), melalui proses pemahatan yang memakan waktu dan tenaga. Bukan hanya saat membuatnya, untuk menemukan bahan bakunya saja butuh waktu dan tenaga. Jika menggunakan bahan batu padas, maka para pallangro batu (perajin/pemahat batu) akan mencarinya dipunggung-punggung bukit, tak jarang juga harus menggali terlebih dahulu. Tempat penggalian ini, selanjutnya disebut Abbatung (Tambang Batu). Jika dengan batu kali, maka biasanya tidak dipotong lagi berbentuk kotak. Tapi utuh, langsung diangkat. Batu terpilih tadi selanjutnya dipotong sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan. Rata-rata berukuran 100 Cm x 80 Cm. Kotak batu ini selanjutnya dipikul oleh beberapa orang menuju tempat para perajin pahat batu. Setelah melewati proses pemahatan yang rumit dan sarat filosofi dan kaidah khusus, jadilah sebuah Gumbang berbentuk tabung dengan tinggi sekitar 80 Cm daeng diameter sekitar 60 Cm pada bagian bawah dan 50 Cm pada mulut gumbang tadi.



Angka-angka tadi memiliki makna filosofis, 80 dengan angka pokok 8 dalam bahasa Bugis disebut Aruwa. Sebuah kata yang memiliki kesamaan bunyi dengan kata Ruwaa (Ramai). Angka 6 pada angka 60, berfilosofi dengan kata Manenneng (Sedih), sementara angka 5 pada angka 50 berfilosofi dengan kata Lima (Tangan). Secara utuh, dalam filosifi ini terangkum dalam bahasa Bugis yang berbunyi. “ Ruwa-ruwasi lise gumbangmu, anengnengko narekko dee maratte limai lise’na. Penuhilah Gumbang-mu dengan air, bersedihlah jika tanganmu tak lagi mampu menggapai permukaan airnya. “.



Dalam kesehariannya, gumbang ini dipakai untuk menampung air yang akan digunakan untuk keperluan Mandi, Cuci dan Kakus. Ingat, rumah panggung di BMMT pasti memiliki atteme-temeng biasa juga disebut appica’-picakeng. Saat anda melakukan kegiatan MCK tadi, anda pasti dan harus melakukannya dengan posisi jongkok disamping gumbang tadi. Runyamnya, saat persediaan air dalam gumbang tadi menipis dan tangan anda (dengan bantuan gayung), tak mampu lagi menimba airnya. Tentu ada harus berdiri atau setengah berdiri untuk mengambil air. Disaat inilah anda harus merasa manenneng, sebagaimana termaktub dalam filosifi diatas. Pantang dan menjadi aib jika air dalam gumbang anda hanya tersisa setengahnya. Terlebih saat ada orang yang bertandang dirumah atau numpang buang air dirumah anda. Mau ?.

Disebut gumbang karena bentuknya yang menggembung pada bagian pertunya. Ibarat perut manusia yang buncit begitulah rupa badan gumbang ini. Perut buncit dalam bahasa Bugis adalah Maggumbang Babuana. Jadi buncit sama dengan gumbang



Bempa dan Busu

Untuk menyimpan air sebagai bahan baku memasak, masyarakat BMMT menggunakan Bempa. Sedangkan untuk menyimpan air minum yang telah direbus, dipergunakanlah Busu. Meski ada yang terbuat dari bahan batu padas atau batu kali, kebanyak Bempa dan Busu berupah hasil kerajinan tangan berbahan tanah liat.

Meski memiliki ukuran yang sama dengan Gumbang. Bempa dapat dikenali dari bentuknya yang lebih langsing, tapi tidak merit. Silinder serupa tabung dengan mulut lebih kecil. Sementara Busu, ukurannya jauh lebih kecil, tak lebih dari tellu jakka x tellu jakka (Jangka) tangan dewasa. Bentuk serupa dengan Gumbang, dengan perut buncitnya.

Jika bertamu kerumah karib kerabat, saya dapat membedakan mana air yang berasal dari Busu atau berasal dari wadah ember apalagi dari galon. Air minum dari busu akan terasa segar dengan hawa dingin yang unik. Berbeda dengan rasa dingin dari lemari pendingin. Anda bisa merasakan juga ?. Jika tidak, kacian deh lu !.


Pernahkah anda disuguhi air minum berwarna semburat merah, tapi tak menyertakan rasa manis ataupun pahit. Inilah yang disebut wai seppang, sesungguhnya ia adalah air minum biasa yang dipewarna, hasil dari penguraian warna alami yang terkadung dalam aju seppang (Kayu Secang / Latin : Sappan lignum). Cara membuatnya mudah, serpihan-serpihan aju seppang cukup dimasukkan dalam busu, biarkan ia disana sepanjang waktu. Kandungan warna alami pada sekerat aju seppang seberat 1 ons, akan mampu mewarnai 10 liter air minum. Bila anda sedang di kota Yogyakarta atau Solo, carilah minuman Wedang Uwuh, didalamnya ada aroma dan warna aju seppang tadi.


Si Labu Pahit

Satu pertanyaan lagi, jika anda berasal dari suku BMMT dan beragama Islam. Mungkin anda masih ingat kala belajar mengaji dulu, sekarang sih tergantikan dengan metode Iqra. Berbekal Sarung, Pecis bagi cowok dan kerudung bagi cewek. Saat sore menjelang, anak-anak BMMT (5 – 12 Tahun) rutin mendatangi rumah Guru mengajinya. Pasca belajar mengaji, sebagai bentuk Taqzim pada sang Guru, anak-anak mengaji ini biasanya berbondong-bondong kesumber air untuk mengambil air untuk mengisi bak air dirumah sang guru, atau bak air di Surau kampung. Bak air diisi penuh untuk persedian air wudhu jamaah Shalat Magrib nanti.

Jika anda masih ingat dengan tradisi tersebut. Mungkin juga anda masih ingat dengan wadah untuk membawa air tersebut yang terbuat dari Kaddaro Bila (Pohon Maja / Latin : Aegle marmelo). Atau yang terbuat dari Buah Lawo Pai’ (Labu Pahit/Latin : ), di Tanah Bugis disebut Tarompang. Masih adalagi Bira’ Awo, wadah yang dari bambu.

Kaddaro Bila. Membuat kaddaro bila sangatlah sulit dan memakan waktu setidaknya 1 Bulan. Dimulai dengan memilih buah maja yang sudah tua, dengan batok yang keras dan mengeluar bunyi nyaring bila diketuk. Buah maja selanjut diberi 4 lubang pada bagian atas. Dua lubang berdiameter 3-4 Cm dibuat sejajar. Lubang sebagai lubang saluran memasukkan air, satu lubang lagi untuk jalur keluarnya udara, yang tertekan akibat tekanan massa air yang masuk. Dua lubang lainnya dengan diameter 0,5 cm dibuat berjajar pula tepat diatas 2 lubang besar tadi. Berfungsi sebagai lubang untuk memasukkan tali pengait bagi wadah air ini ketika dijinjing atau dipikul. Ingat, lubang ini harus dibuat tepat ditengah dan presisi. Jika tidak, dipastikan air anda akan terbuang akibat guncangan saat dijinjing atau dipikul.

Setelah lubang dibuat, selanjut isi dari buah maja tadi dikeluarkan semua dengan cara dikerok, lalu dibersihkan. Batok buah maja tadi, kemudian di keringkan, bukan dijemur dibawah terik matahari. Agar lebih awet dan tidak gampang pecah. Setelah kering, sebelum digunakan batok tadi dipendam dilumpur sawah, setidaknya 5 – 7 hari.


TAROMPONG & BIRA AWO. Membuat tarompong sama persih dengan cara membuat kaddaro bila tadi. Termasuk cara lubang dan cara pengawetannya. Dari segi fisik, kaddaro bila berbentuk bulat mirip bola kaki. Sementara Tarompong, berbentuk lonjong cenderung oval, mirip buah Jambu Bol. Sementara untuk membuat bira awo, sangatlah mudah. Pilihlah bambu yang sudah tua, diamater besar dan ruang yang panjang. Sebaiknya pilihlah bambu dari jenis Bambu Petung.

Bagaimana, sudah ingat. Atau generasi anda sudah tidak pernah melihatnya lagi. Kemungkinan yang kedua kayaknya lebih besar. Saya pun hanya mendapatkan sisa-sisa kejayaannya saja. Saat sekolah SD hingga SMEA dulu saya sudah menggunakan ember plastik atau ember bekas wadah cat tembok. Sebelum saya akhiri, satu pertanyaan lagi. Sungguh ini yang terakhir !.

Ingatkah anda dengan benda ini. Cangkiri, Mo’, Cantek, Kaca, Kaca Inungeng, Kaca Toling, Kaca Dadi, dan Cerek. Oh ya, ada yang tahu bahasa Bugisnya Teko, tolong beritahu aku juga yah.
Baca Selanjutnya - * GUMBANG, BEMPA DAN BUSU. Wadah air masyarakat Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja

* AWARANINGENG MASAGALA (BERANI ITU INDAH)

Oleh Renaldi Maulana

Berawal dari tag note dari teman-teman facebooker membuat "kecemburuan" dan kemauan kuat saya untuk menulis sudah pada stadium akhir, dengan berbekal secuil KEBERANIAN akhirnya saya beranikan diri untuk menyentuh tuts dengan lincahnya (pada saat jam kerja) sehingga terciptalah catatan kecil saya ini, meskipun catatannya sana-sini masih amburadul dan tidak karuan tapi semangat untuk menulis akhirnya terlaksana juga. Terus terang sudah lama terpendam dalam diri untuk mencoba menulis sebuah catatan, artikel, buku atau semacamnya. Bukannya tanpa alasan, karena menurut saya menulis adalah sebuah hobby terkeren yang pernah ada, selain itu menurut sebuah penelitian mengemukakan bahwa, menulis bisa menghilangkan stress serta memperpanjang umur (mudah-mudahan efeknya kelihatan heheeehehe..)


Yah, berawal dari secuil KEBERANIAN. Keberanian memang seharusnya ada pada diri manusia, tanpa keberanian seseorang tak akan pernah tahu bagaimana menjalani dan merasakan suatu proses. Kata BERANI itu sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti mempunyai hati yang mantap dan rasa percaya diri yang besar dalam menghadapi bahaya, kesulitan, dsb; tidak takut (gentar, kecut). Hmmmm... dari pengertian itu bisa disimpulkan bahwa selama ini saya berkutat dengan kesulitan untuk menulis karena merasa takut salah atau tidak yakin akan diri sendiri serta merasa tidak percaya diri.


Kata BERANI sendiri dalam bahasa Bugis disebut WARANI/MATERRU, dalam bahasa Makassar disebut REWA, dalam bahasa Mandar dan Toraya disebut BARANI. Tak jarang WARANI sering disematkan kepada personal manusia BMMT (Bugis, Makassar, Mandar Toraya), hal itu terlihat dari watak manusia BMMT sebagai risktaker di manapun meraka berada, tak ketinggalan pula dalam berbagai literatur dan lontrak Bugis seringkali disinggung WARANI sebagai perwujudan dari manusia BMMT.


Sebuah pepatah Bugis mengatakan LEBBI’I CAU-CAURENGNGE NA PELLORENGNGE yang berarti lebih baik sering kalah dariapada penakut, pepatah tersebut menyiratkan bahwa bagaimana pun seorang yang SERING KALAH dalam perjuangan hidup pada dasarnya masih memiliki semangat juang meskipun lemah, karena ia masih mencoba meskipun berluang-ulang mengalami kegagalan. Tetapi seorang PENAKUT sama sekali tidak berani menghadapi tantangan hidup dan tantangan orang lain. Senada dengan pepatah tesebut salah satu tokoh sejarah terkenal sekaligus cendikiawan Bugis ARUNG BILA LAWANIAGA pernah berpesan bahwa :

Agguruiwi gau’na tau waranié énrengngé ampena. Apa iya gauna towaranié seppuloi uwangénna naséuwai mua ja’na, jajini aséra décénna. Nasaba’ iyanaro nariaseng ja’na séddié malomoi naola amaténgeng. Naékiya mau tau péllorengnge matémuto apa’ déssa temmaténa sininna makkényawaé.


Naiya décenna aséraé :


a. Tettakini napoléi karéba maja’ karéba madeceng .
b. De’najampangiwi kareba naengkalingaé, naikiya napasilaongngi sennang ati pikkiri’ madeceng.
c. Temmétauni ripariolo.
d. Temmétauni riparimunri.
e. Tettéyani mita bali
f. Rialai passappo ri wanuaé.
g. Matinuli’i pajaji passurong.
h. Rialai paddebbang tomawatang.
i. Masiri’ toi riyasiri toi ripadanna tau.


artinya :
Pelajarilah tingkah laku pemberani. Sebab tingkah laku pemberani ada sepuluh macam tetapi cuma satu keburukannya, jadi sembilan kebaikannya. Sebab dikatakan satu keburukannya karma gampang menghadapi maut. Namun demikian penakut pun takkan luput dari maut, sebab tak terelakkan kematian bagi setip yang bernyawa.

Kebaikan yang sembilan itu antara lain :

a. Tak terkejut mendengar kabar buruk maupun kabar baik.
b. Tak mengacuhkan kabar yang didengar, tetapi di iringi dengan ketenangan serta pikiran sehat.
c. Tidak takut didepankan
d. Tidak takut dibelakangkan
e. Tidak takut melihat musuh
f. Dijadikan perisai oleh Negara.
g. Tekun melaksanakan kewajiban.
h. Menjadi pembela terhadap orang yang berlaku sewenang-wenang
i. Menyegani, serta disegani pula oleh sesamanya manusia.


Pesan dan pepatah tersebut di atas seyogianya bisa diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, mengingat pola pikir masyarakat kita (BMMT) kini sudah tergerus oleh zaman akibat tidak adanya "penyaringan" dalam hal penerimaan budaya luar yang begitu kuat, hal itu diperparah oleh sebagian "pendidik" yang acuh tak acuh atau kurangnya pemahaman terhadap kearifan budaya sendiri sehingga proses transformasi kepada generasi penerus seolah-olah terputus.



Akibat kurangnya transformasi tersebut mau tidak mau generasi kini berusaha mencari pelarian untuk bisa dijadikan sebagai acuan akan pencarian jati dirinya. Makanya tak heran tindakan anarkis, pengrusakan, dan gejolak jiwa yang berlebihan pun tak terhindarkan. Roh dari filosofi WARANI pun hilang yang tinggal hanyalah WARANI ARIANGING (Keberaniannya bak angin yang tak menentu arahnya, kosong, tak ada tujuan). Hal tersebut senada dengan pepatah Bugis yang mengatakan MATEMUWA MAPATA'E MATEPI DUA TELLU MASSOLA-SOLLAE yang artinya mati jua yang tenang setelah mati dua atau tiga yang nekad (keberanian kosong/tak berdasar). Olehnya itu marilah secara sadar dan bersama-sama untuk senantiasa menjaga KEBERANIAN kita agar tetap selalu terjaga dan berada pada koridor yang benar, sehingga segala tindakan yang akan diperbuat bermanfaat bagi sendiri serta orang lain dan lingkungan sekitarnya
Baca Selanjutnya - * AWARANINGENG MASAGALA (BERANI ITU INDAH)

14 Apr 2011

* To Wajo

Oleh : M. Farid W Makkulau

Saya pernah ke Wajo, beberapa kali. Mengenal banyak orang Wajo, bahkan pernah bekerja bersama dan dipimpin oleh Orang Wajo. Karena itu, saya cukup mengenal karakter sosial dan budaya To Wajo (Orang Wajo). Dibandingkan dengan etnis bugis lainnya, To Wajo memiliki karakteristik tersendiri yang menonjol, yaitu dalam hal pengelolaan usaha dan kepemilikan harta. Hal ini tercermin dalam ungkapan lama, “Ri werengngi pole ri Dewatae’, alebbireng koi ri Luwu, asogireng koi ri Wajo, Awaraniang koi ri Bone, Awatangeng koi ri Gowa”. (Dianugerahkan oleh Dewata, kemuliaan pada Luwu, kekayaan pada Wajo, keberanian pada Bone dan kekuatan pada Gowa).

Orang Wajo sangat ekonomis dan berjiwa perantau – pengusaha (saudagar). Komitmen mereka dalam dunia usaha didasari oleh prinsip, “massiji warang-parang temma siji balu-balu”. (bersaudara dalam hal kepemilikan harta tetapi tidak dalam hal barang jualan), pola adaptasi sosio – cultural dan strategi ekonomi didasarkan pada konsep “Tallu Cappa” (ujung lidah, ujung badik dan ujung kemaluan) yang berarti kecerdasan, keberanian dan perkawinan) serta azas “silellung sirui” (saling mengejar dan menarik) sebagai modal penting dalam membangun rivalitas konstruktif dalam berusaha.

Kebiasaan merantau (sompe) dan mengadu nasib di negeri orang yang melekat pada orang Wajo sehingga seringkali kita mendapati ungkapan yang mengatakan, “padangkang to Wajo’e” (pedagang orang Wajo) atau “Sugi’to Wajo’e adangkangeng’na napakkapong”. (kaya orang Wajo karena mengutamakan perdagangan atau berdagang). Penggambaran kebiasaan merantau orang Wajo ini, yang sekaligus mengungkap konsep “maradeka” (merdeka) bagi orang Wajo, tertuang dalam Lontaraq Sukku’na Wajo (LSW), sebagai berikut :

“Maradeka To WajoE, najajiang alena maradeka, tanaemi ata’, naia tomakketanae maradeka manengngi, ade assamaturusengnami napopuang”.

(Orang Wajo merdeka, dan terlahir dalam kondisi sudah merdeka, hanya tanahlah yang menjadi abdi, setiap mereka yang hidup diatas tanah Wajo memiliki hak kemerdekaan, dan hanya adat turun temurun yang telah disepakatilah yang dijadikan pertuan).

“Naia riasengnge maradeka, laje’ tenriatteangngi, lao maniang, lao manoran, lao alau, lao orai’. Mangnganga tange’na Wajo nassu’ ajenamato mpawai massu’. Mallaja-laja tange’na Wajo nauttama, ajenamato pattamai.”

(Yang dimaksud merdeka ialah ia bebas pergi kemana ia suka, tidak dilarang ke Selatan, Utara, Timur ataupun Barat. Pintu negeri Wajo terbuka lebar, sehingga mereka bisa meninggalkan Wajo, Mereka juga bebas memasuki Wajo kembali sekehendak kaki mereka. Orang Wajo tidak boleh dipaksa, jika mereka tidak mentaati atau melaksanakan perintah yang tak ada dasar hukumnya).

Banyak sebutan yang disematkan kepada To Wajo, ada yang menyebutnya ”bugis kapitalis”, ”orang cinanya bugis”, ”to sekke”, atau ”pabbalu”, malahan sering pula saya mendengar ungkapan, ”jaga-jagai nabaluk wekkaduako to WajoE” (berjaga dan waspadalah, jangan sampai kamu dijual dua kali oleh orang Wajo). Kesemua sebutan dan ungkapan itu tentunya berdasar pada kepandaian berdagang orang Wajo, meski tidak sepenuhnya benar, sebutan dan ungkapan ini seharusnya mendapatkan pelurusan fakta yang bersumber dari akar sejarah sosial orang Wajo. Hanya sayangnya, tidak semua orang, bahkan banyak diantara kita yang tidak lagi memahami identitas kulturalnya.

Jadi, Bagaimanakah ’Manusia Wajo’ itu sekarang ??? (***)


Baca Selanjutnya - * To Wajo

* Laiyolo, riwayatmu nanti ?

Oleh Jimey Rahmawati

Khasanah bahasa dan budaya nusantara di negeri kita sangat beragam. Sungguh elok nian ketika kita mengkaji satu persatu dari keberagamn yang dimiliki. Betapa kita merugi ketika suatu budaya ataupun bahasa harus musnah di muka bumi sebelum sempat diketahui ikhwal keberadaannya.

Adalah salah satu bahasa yang terdapat di Pulau Selayar, Sulawesi Selatan, yakni bahasa Laiyolo yang jarang dilirik oleh linguis lokal (hanya linguis Asing yang sempat turut membandingkan bahasa Laiyolo dengan bahasa di sekitarnya, namun tidak dibahas secara mendalam). Mari sejenak kita tengok peta Pulau Selayar! Bahasa Laiyolo dituturkan di Kecamatan Bontosikuyu, Desa Laiyolo. Mungkin, hanya segelintir dari kita yang mengenal bahasa Laiyolo (orang Sulawesi Selatan sekalipun). Tidak mengherankan, karena penutur bahasa ini memang para orang tua yang telah lanjut usia (40 tahun ke atas). Penelitan SIL (2006) menyatakan bahwa bahasa Laiyolo hanya dituturkan oleh 250 orang. Bahkan, hasil survey terakhir saya pada salah satu kantor pemerintahan di Kabupaten Selayar (Mei, 2010) menyiratkan bahwa bahasa ini sedang mengalami proses kematian (language death).

Bagaimana tidak? jumlah penutur hanya bersisa kurang lebih 10 orang dan mereka pun telah tua dan renta. Hmmm.. ironis sekali. Lalu, kemana generasi pewaris tuturan Laiyolo tersebut?? Oh, rupanya, meraka membaur dalam tuturan bahasa yang lebih dominan dan presticious di wilayahnya, yakni bahasa Selayar dan Makassar.

Sungguh tak dapat dinafikkan, anak muda lah yang seharusnya jadi pemegang tongkat estafet dalam pewarisan bahasa ibu mereka. Namun, mereka pun terjerat dalam lingkungan dimana mereka tidak terlatih untuk memproduksi bahasa tersebut. Misalnya, anak muda saat ini (di Laiyolo, red) menggunakan bahasa Indonesa di sekolah, bahasa Selayar dan Makassar di lingkungan rumah (konteks percakapan sehari-hari). Kesempatan untuk melatih artikulator dalam hal ujaran bahasa ibu mereka tak ada lagi. Lebih ironis lagi, keadaan tersebut didukung oleh AKSI DIAM pemerintah daerah dalam hal pemertahanan bahasa ini (atau mungkin kasus ini belum dilirik). Padahal, bahasa ini merupakan salah satu kekayaan akan keberagaman kita loh! Seumpama berkenan, saya ingin mengusulkan agar bahasa ini dijadikan salah satu mata pelajaran muatan lokal, sehingga eksistesinya tetap terjaga (naluri GURUku mulai menggejolak).

Rasa penasaran pun hinggap dan menggangguku, pertanyaan tentang asal usul bahasa yang hampir punah ini selalu mengusik pikiran. Syukran, titik terang mulai menjawab, ketika saya merupaya mengawalinya dengan melakukan perhitungan leksikostatistik (tehnik perhitungan dengan membandingkan jumlah kata kerabat/sama/kognat) dengan dua bahasa lain yang saling mempengaruhi yaitu bahasa Selayar dan Wolio.

Mengejutkan, dari hasil perhitungan tersebut ternyata tingkat kekerabatan bahasa Laiyolo sangat dekat dengan bahasa Wolio. How come? Padahal, kedua bahasa itu terpisah oleh batas administratif (secara Laiyolo berada di Sulawesi Selatan dan bahasa Wolio di Sulawesi Tenggara) dan geografis (bentangan lautan luas).

Duh, sungguh menggelitik nurani tuk mengetahui ihwal asal usul hubungan antara Wolio dan Laiyolo. Tak enggan saya pun berkunjung ke desa Laiyolo tuk menghilangkan dahaga akan penasaran tersebut. Kisah lisan tentang asal usul Laiyolo beragam tersaji. Salah satunya mengisahkan bahwa:

Dahulu kala terdapat sebuah kerajaan di kepulauan Selayar yang bernama Kerajaan Putabangun. Kerajaan ini mendapat musibah penyakit kulit yang mudah menular, semua rakyat yang tertular harus diasingkan tak terkecuali putra Opu Putabangun. Berbekal cicin pusaka, seekor kucing, dan anjing, dia diasinkan ke sebuah hutan. Penyakit kulit yang dialami putra Opu Putabangun sembuh akibat jilatan kucing dan anjing yang dibawanya. Di dalam hutan dia bertemu dengan rombongan pemburu dari Buton yang terdampar di selatan pulau Selayar. Putra Opu Putabangun diangkat menjadi anak angkat lalu dikawinkan dengan kemenakan Raja Buton. Kemudian dengan diiringi empat puluh kepala keluarga, ia diizinkan meninggalkan Buton lalu kembali membangun perkampungan baru di Selayar, kampung itu sepakat dinamakan Laiyolo. Singkat cerita, putra Opu Putabangun menjadi Opu Laiyolo yang dinobatkan oleh Raja Putabangun.

Bagaimana pun alkisah yang terjadi, tapi ku meyakini bahwa bahasa Wolio dan Laiyolo secara historis memiliki hubungan kekerabatan. Tingginya persentase tingkat kekerabatan kedua bahasa tersebut (melalui perhitungan leksikostatistik seperti yang telah di kisahkan sebelumnya) mendukung bahwa kedua bahasa ini memiliki histori perkembangan yang sama. Sebagai poin tambahan bahwa relasi kekerabatan bahasa dan budaya tidak dapat dibatasi oleh batas administrasi, geografis dan bahkan jarak sekalipun.



“Bahasa adalah cerminan budaya” (lupa dikutip dari siapa)
Ketika bahasa Laiyolo mengalami keMATIan. Akankah rela membiarkan salah satu Budaya kita MATI?

Mari kita lestarikan BUDAYA kita !!


SELAYAR
Baca Selanjutnya - * Laiyolo, riwayatmu nanti ?