18 Agt 2011

* Puasa dalam Kesetiakawanan sosial (Assimellereng)

Melihat atau dengan metode hermeneutic yang harus dimengerti, menafsirkan dan menerapkan sebuah teks apakah makna puasa dalam kesetiakawanan sosial (assimellereng). Harapan besar puasa menjadi salah satu fondasi dasar bagi setiap upaya untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat, bagi setiap pencari kebenaran dan kesempurnaan diri dan kehidupannya.

Puasa memberikan deskripsi dalam melihat sisi ontology bahwa puasa memberikan tempaan kecintaan kepada Allah.S.W.T sehingga adab dan perilaku tercermin baik dalam kehidupan sosial. Manusia dihadapkan dalam lingkungan yang dituntun agar bertindak tidak merugikan bagi diri dan orang lain. Kesetiakawanan sosial (assimellereng) tercermin dengan pesan bahwa “Jangan engkau melakukan yang tidak patut terhadap sesamamu manusia” (aja mugaukengngi padamu tau ri gau’ tessitinajae)(6)


Gambar http://www.rahmadfauzi.co.cc/


Eksistensi puasa memberikan gambaran bagaimana diri akan menjaga hati agar adab tercermin sebagai sebuah sikap yang beradab dalam peradaban yang perannya sebagai manusia. Mencegah diri dari perbuatan jahat, berbicara buruk dan berpikir akan keburukan ( pisangkaiengngi alewe ma’gau maja, makkeda ada-ada maja mauni nawa-nawanna mannawa nawa maja). Pergauli manusia dengan adab kita dan ambillah “sebab”, tetap putuslah hati kita dari ‘sebab’.Itulah yang dinamakan ‘tawakal, sebagaimana yang dikatakan para ulama, “harapan manusia akan pupus, jika sebab-sebabnya terputus. (3) Jika sebab terputus,manusia akan sering mengalami keterpurukan dan kesedihan , tetapi seorang muslim akan mengatakan, Alhamdulillah, Pasti akan ada jalan keluar.(3)

.... Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya...” (Ath Talaq:3) (1)

Tawakal merupakan ibadah hati dan tidak terkait dengan anggota tubuh, anggota tubuh kita-kaki,tangan atau lisan-harus bekerja keras seolah tidak ada tawakal, sedangkan hati kita tidak menggubris keberadaan anggota badan itu,sehingga tidak memikirkan hukum sebab akibat, dan hanya terkait kepada Allah saja. (3)

Sesungguhnya keyakinan kita akan Allah S.W.T bisa dilihat dari kodrat dan iradat Allah.S.W.T akan segala sesuatu (Majeppu ri Allah S.W.T, iyanatu irita koderak irada ri sininna seuwa-seuwae, ala masseya-seya muwa rupa).

Spiritualisme manusia dapat dilakukan dalam segala bentuk , akhlaqul korimah menjadi hal penting dalam Kesetiakawanan sosial (assimellereng). Tawakal memberikan jembatan emas dalam kehidupan madani. Etos kerja ( reso) menjadikan kebangkitan agar manusia tersebut tidak lari dari ketidakberdayaan dan mampu mengatasi tantangan hidupnya.

"Bukankah menghadaphan wajahmu ke arah timur dan Barat itu satu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang betaqwa." (Al Baqarah: 177) (1)

Ketika berbicara tentang akhlaq, maka bukanlah akhlaq itu hanya menyangkut hubungan antara manusia dengan manusia saja, akan tetapi ia mencakup hubungan manusia dengan penciptannya juga. Akhlaq memberikan eksistensi ke depan agar lebih saling mengarahkan (Taujih), saling memperkuat (Tatshit), dan saling memelihara (Himaayah).

Dalam sejarah Islam telah memberikan sejarah bagaimana hubungan antar manusia telah memerangi fanatisme ataupun egosentris yang berlebihan apalagi sifat kebanggaan dengan segala macamnya. Tidak heran, karena misi diutusnya Rasulullah adalah untuk menyempurnakan akhlaq manusia."Nabi SAW bersabda:


"Sesungguhnya aku diutus tiada lain kecuali untuk menyempurnakan, akhlaq." (HR. Bukhari, Hakim dan Baihaqi) (2)

Sehingga manusia dalam pemikiran dan perasaannya, dalam akhlaq (moralitas) dan keutamaannya, yang bercirikan dalam tata kehidupan yang memiliki aqidahnya dalam kaidah-kaidah norma-norma Islam. Aqidah tersebut terikat dalai syahadatain (dua kalimat syahadat) yaitu:

"Syahaadatu an laa ilaaha illallaah wa anna Muhammadan Rasuulullaah." Aqidah inilah yang mempengaruhi pandangan kaum Muslimin terhadap alam semesta dan penciptannya, terhadap alam metafisika, kehidupan ini dan kehidupan setelahnya, terhadap alam yang terlihat dan yang tidak terlihat, terhadap makhluq dan khaliq, dunia dan akhirat, dan terhadap alam yang nampak dan alam gaib (5)

Kesepadanan (assitinajangeng) sesama manusia dalam kesetiakawanan sosial (assimellereng) akan terus terbina demi kemajuan Islam.

"Kami, melihat orang-orang yang beriman itu dalam mencintai, lemah lembut dan saling mengasihi (di antara mereka) seperti tubuh yang satu, apabila ada anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuh ikut sakit, demam dan tidak bisa tidur." (HR. Muslim)(2)

Konsep akhlaq dalam ikatan kekeluargaan dalam kehidupan sosial sangat penting, hal ini bisa dilihat dalam bentuk pesan moral (pappaseng) yakni :

Nia pedecengiengngi assijingEngnge iyanaritu siamesenangnge messeajing,siaddampangEng pulanae, tessicirinnaiangnge ri silasanna’e sipakaingE ri gau’ patujue enrengnge ri decengnge.
Hubungan kekeluargaan adalah saling mengasihi, saling memaafkan yang kekal, saling membantu satu sama lain dan serta saling mengingatkan dalam kebaikan serta kebajikan. (6)


Hal ini pula yang di sabda oleh Rasulullah yakni :

"Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian, sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya." (HR. Bukhari-Muslim) (2)

Dan dalam Al-Qur’an Allah S.W.T berfirman :

"Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara." (Al Hujurat: 10) (1)

Sikap hati baik (kalawing ati madeceng dan sikireng ati madeceng) dan perbuatan yang benar (gau pattuju), didapatkan pada orang yang mengolah potensi nuraninya , menjadikannya berpikir selayaknya sebagai manusia. (4) Banyaknya konsep dalam kesetiakawanan sosial (assimellereng) dapat pula tercermin dalam konsep olakku uakkolakeng. Berdasarkan konsep ini mengukur orang bagaikan mengukur diri sendiri (4)

Puasa sebagai salah satu sarana penyucian jiwa dan akal manusia, semoga mampu selalu menjadi sarana penting untuk mewujudkan misi penting untuk kembali suci (fitrah).



17 Agustus 2011 (17 Ramadhan 1432H)
Nor Sidin



Sumber tulisan

1) Al-Qur’an
2) Al Hadist
3) Hati Sebening mat air oleh Amru Khalid
4) Hukum Adat kesusilaanMalaweng kesinambungan dan perubahannya
oleh Dr.H.Ahmad Ubbe.Sh,MH,APU
5) Sistem Masyarakat Islam dalam Al Qur'an & Sunnah oleh Dr. Yusuf Qardhawi
6) Lontara Pappaseng


0 komentar:

Poskan Komentar