Dec 7, 2011

* MELIHAT SEJARAH SOSIAL DI MAKASSAR MELALUI ROMAN DAN CERPEN KARYA H.J. FRIEDERICY

Oleh: Amrullah Amir(1)

Sastra dan sejarah memiliki hubungan timbal balik. Karya sastra dapat menjadikan peristiwa sejarah sebagai obyeknya dan demikian pula sebaliknya, sastra dapat digunakan sebagai sumber penulisan sejarah. Fakta-fakta sejarah hubungan antar masyarakat dan pergulatannya dapat ditemukan dalam karya sastra yang dapat digunakan sebagai pelajaran dan warisan intelektual untuk memahami kekinian dan merancang masa depan yang lebih baik.
Tulisan ini melihat Sulawesi Selatan, khususnya wilayah Makassar dari gambaran Herman Jan Friedericy, seorang penulis, ilmuan, dan pernah bertugas sebagai Binnenland-Bestuur di beberapa tempat di Sulawesi Selatan. Karyanya yang diangkat yaitu sebuah roman berjudul De Raadsman atau “Sang Penasihat” dan sebuah cerita pendek bertitel Bloed (Darah). Kedua karya H.J. Friedericy ini merupakan sebuah gambaran sejarah dari keadaan sosial masyarakat Sulawesi Selatan pada masa pemerintahan kolonial Belanda di tahun 1906-1942. Periode ini adalah masa pemerintahan penuh secara administrasi oleh Pemerintah Kolonial Belanda setelah penaklukan kerajaan-kerajaan Bugis dan Makassar hingga kedatangan Jepang di nusantara.

1. H.J. Friedericy dan Dunia Kolonial di Makassar

Herman Jan (Han) Friedericy, lahir pada tanggal 8 Juni 1900 di Stadskanaal, Onstwedde dekat Geldorp bagian selatan Noord-Brabant, Belanda. Ayahnya Jan Friedericy, pegawai pada Kantor Pos dan ibu bernama Harmanna Hillinga. Setahun kemudian, pada 17 September 1901, Ratu Wilhelmina yang baru naik tahta menegaskan dalam pidato pembukaan Parlemen Belanda, bahwa pemerintah Belanda mempunyai panggilan moral dan hutang budi (een eerschuld) terhadap bangsa pribumi di Hindia Belanda. Friedericy berkembang dalam suasana Politik Etis mempengaruhi pandangan orang-orang di Belanda.

Setelah tamat HBS, ia masuk ke Universitas Leiden tahun 1918 dan masuk jurusan Indologi. Di sini para calon ambtenar akan dilatih dan diberi pendidikan agar siap menjalankan tugas langsung dan administrasi di Hindia Belanda. Friedericy menamatkan pendidikannya di Universitas Leiden tanggal 16 Desember 1921. Kemudian berdasarkan surat keputusan Gubernur Hindia Belanda tertanggal 18 Maret 1922, Friedericy resmi bergabung dalam jajaran BB untuk Hindia Belanda dan ditempatkan di Sulawesi Selatan.

Sebagai pencinta sastra, Friedericy mendapatkan banyak pengaruh dari karya-karya sastra yang dihasilkan para pendukung politik etis. Diantaranya karya-karya Pieter Brooshooft, Kartini, Augusta de Wit dan Marie van Zeggelen 2 memenuhi jiwa Friedericy selain karya Multatuli dan Couperus yang dikenalnya lebih awal. Karya-karya penulis era Etis inilah yang kelak mempengaruhi karya-karya sastra Friedericy kelak seperti yang ditulis oleh R. Nieuwenhuys.3

2. Gambaran Umum Makassar 1906-1942

Setelah penaklukan sebagian besar kerajaan Sulawesi Selatan, utamanya atas kerajaan Gowa dan Bone dengan berbagai dalih yang digunakan oleh Gubernur Jenderal van Heutz seperti melepaskan rakyat dari penindasan kaum bangsawan maka mereka melakukan penertiban atas kerajaan-kerajaan. Dengan dalih pasifikasi, tindakan militer dilaksanakan di Sulawesi Selatan dan berakhir sekitar 1906, dengan ditawannya raja Bone, La Pawawoi dan tewasnya penguasa Makassar, Karaeng Lembang Parang.
Pemerintah kolonial Belanda memaksa para raja-raja di Sulawesi Selatan untuk menandatangani Korte Verklaring atau Perjanjian Pendek yang berisi pengakuan takluk dan pernyataan kesetiaan kepada Ratu Belanda dan Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Serta akan melaksanakan segala peraturan yang di buat oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda dan para wakilnya.
Setelah para raja-raja di Sulawesi Selatan menandatangani Perjanjian Pendek tersebut, pemerintah kolonial merombak wilayah kekuasaan kerajaan-kerajaan tersebut. Pemerintah kolonial membuat gubernemen Celebes yang berkedudukan di Makassar dan membagi daerah-daerah kerajaan ke dalam afdeling dan onderafdeling. Sulawesi Selatan yang Friedericy datangi di awal abad 20 adalah suatu masyarakat yang yang sedang mengalami desintegrasi, kebanggaan yang hilang, dan degenerasi nilai-nilai setelah penaklukan tahun 1906. Friedericy menulis gambarannya tentang Kerajaan Gowa sekitar tahun dua puluhan :

Lebih empat tahun di Sulawesi Selatan ... Apa yang ditemukannya? Tidak ada nasionalisme, yang diorganisir maupun tidak. Ia menemukan orang-orang Bugis dan Makassar, masih tetap sedikit banyaknya berkelompok dalam kerajaan-kerajaan besar atau kecil, suatu dunia feodal. Suatu dunia, memang, yang sudah kehilangan pamor dan kegairahannya. Keluarga-keluarga raja, kalau tidak sudah diruntuhkan, sudah banyak kehilangan kekuasaannya, tidak ada lagi perang-memerangi, tidak ada lagi gerombolan-gerombolan, perampok berkeliaran di dalam negeri, golongan bangsawan tidak lagi mendapat kesempatan untuk memeras penduduk, perbudakan sudah dihapuskan, dan ada pengadilan yang pada umumnya adil.

3. Kehidupan para bangsawan

Diantara jarak Makassar dan Sungguminasa, terletak desa Jongaya, yang merupakan tempat kediaman penguasa Kerajaan Gowa dan keturunan serta kerabat utama kerajaan yang terpenting. Jongaya, dahulu merupakan bekas ibukota kerajaan Gowa sebelum rusak berat setelah ekspedisi militer 1906. Kemudian dialihkan ke Sungguminasa karena Gubernur Celebes menganggap Jongaya terletak di luar pusat. Sebagai daerah Zelfbestuur Gowa terhitung tanggal 1 Januari 1937, Sungguminasa dianggap daerah baru yang tidak lagi kuat terikat pada tradisi. Keadaan Jongaya, tempat tinggal keturunan Raja Gowa dan bangsawan, digambarkan oleh Friedericy :

Raja terakhir Goa, Kulau Karaeng Lembangparang ketika pada tahun 1906 melarikan diri dari orang Belanda, jatuh ke dalam jurang dan tewas. Putra mahkota Mappanyukki, yang pada waktu itu berusia enam belas tahun, diasingkan ke Pulau Salayar. Kelompok keturunan raja dan bangsawan istana, kehilangan pemimpinnya, sang raja, dan kehilangan pula kekuasaannya; mereka tidak bisa memeras rakyatnya lagi dan banyak anak Karaeng jatuh miskin. Namun demikian Jongaya masih besar pengaruhnya – di sana pernah di simpan pedang „Sudang‟ yang sakti, di tengah berpuluh barang perhiasan yang lain, sebelum di bawa Belanda ke Betawi. Perkataan seorang keturunan raja berdarah murni masih tetap lebih berharga daripada perkataan seribu orang merdeka; meskipun orang Belanda tidak memberikan kekuaasan lagi kepada keluarga raja, mereka masih terpandang, meskipun anggota-anggotanya hina dan papa.4


Di bekas ibu kota Jongaya dahulu, yang terletak beberapa kilo meter dari Makassar, beratus-ratus keturunan Raja Goa dengan pelayan-pelayan dan hamba sahayanya laki-laki dan perempuan, tinggal di berpuluh-puluh rumah panggung yang besar, terdiri atas dua puluh lima tiang. Budak-budak dan hamba sahaya tersebut sudah bertahun-tahun di bebaskan oleh penguasa Belanda, dimasukkan dalam golongan orang merdeka, tapi mereka lebih suka hidup di bawah naungan bekas raja-raja besar itu daripada berdiri di atas kakinya sendiri.
5


Para keluarga raja dan bangsawan di Jongaya dan sebagian di daerah Gunung Sari hidup dalam keadaan miskin. Setelah Karaeng Lembang Parang, raja Gowa terakhir gugur di tahun 1906, harta mereka di sita. Regalia (kalompoang) kerajaan Gowa di rampas oleh pemerintah Hindia Belanda dan dijadikan alat untuk memperkuat kewibawaan Gubernemen di mata rakyat. Karena dalam sejarah dan adat Gowa, pemegang regalia adalah pemegang sesungguhnya atas Kerajaan Gowa. Untuk sementara tercipta ketenangan di wilayah ibukota dan sekitarnya.

4. Kriminalitas dan Persaingan Antar Bangsawan

Di wilayah pedalaman bangsawan-bangsawan yang kehilangan kekuasaannya tetap melakukan gerakan-gerakan perlawanan. Itulah sebabnya Sulawesi Selatan di beri julukan „De Onrust Eiland‟, „Pulau Keonaran‟ oleh Pemerintah Kolonial. Dalam banyak laporan Memorie van Overgave pejabat kolonial banyak memuat laporan tentang tindakan perampokan dan balas dendam yang menimbulkan kekacauan dalam masyarakat. 6
Perampokan bukanlah hal baru dalam masyarakat Sulawesi Selatan, dalam sejarah masyarakat Sulawesi Selatan penculikan untuk tujuan dijadikan budak atau dijual telah berlangsung lama.7 Perbuatan melakukan perampokan hewan atau melarikan anak gadis sebagai kegiatan untuk menguji keberanian dan ketangkasan sering dilakukan dikalangan bangsawan di daerah ini. Tindakan perampokan menjadi ukuran suatu kelompok bangsawan yang merampok lebih kuat dari pada yang di rampok, dan hal ini menimbulkan pembalasan oleh pihak yang di rampok untuk mengembalikan rasa malu mereka. Tindakan perampokan bertujuan untuk menguji kemampuan, keberanian dan kekuasaan.8 Namun tampaknya di masa pemerintahan Belanda, intensitasnya meningkat akibat pertentangan antara pemerintah Belanda dengan bangsawan maupun antara para bangsawan itu sendiri. Salah satu gambaran yang ditampilkan oleh Friedericy mengenai persaingan dan pertentangan antara para bangsawan seperti ditampilkan dalam cerita pendeknya “Bloed” 9 sebagai berikut:

Karaeng Katapang Tua tersenyum. Bola matanya yang gelap terlihat lelah. Di bawah bulu matanya yang terlihat lentik terlihat berair. Selama lebih setengah abad dalam hidupnya terlibat dalam permainan asmara dengan gadis-gadis muda yang pemalu yang bertubuh ramping, namun masa-masa itu telah berlalu kini. Tahun-tahun yang lampau. Pada tangannya yang diam dan putih bersandar pada kursi rotan terdapat jemari yang dipenuhi cincin Makassar yang besar. Tangannya bukanlah tangan seorang prajurit, ia bukan seorang pejuang yang melawan dengan keris atau badik…. Di dekat kedua kakinya duduk dua orang cucu lelakinya beserta cucunya yang paling muda. Ia tersenyum karena mereka memintanya mengisahkan sebuah cerita tentang kisah balas dendam dari Hadji Moestapa.


"Wahai anak-anakku,"katanya, "Hadji Moestapa adalah seorang pemberani. Seorang laki-laki yang sangat pemberani. Tetapi ia telah melupakan bahwa darah saya lebih murni darinya. Dan dia telah lupa bahwa hal itu berbahaya bagi seorang bajingan untuk untuk ikut campur dalam urusan yang menyangkut darah seorang pangeran. Meskipun, ia sendiri adalah seorang saudara dari Karaeng Katangka, raja ketiga puluh Gowa, tetapi ibunya adalah seorang wanita dari rakyat biasa, putri seorang kepala kampong di kaki pegunungan Malakadji. Karaeng Bontolangkasa menghamili ibunya dalam suatu perburuan rusa di daerah itu dan kemudian dengan ibu dan anaknya dibawanya serta ke istana.


Sebagai anak muda, Mostapa tidak tahan menerima kenyataan bahwa ia harus menghormati orang yang dianggapnya lemah seperti kita ini , para keturunan pangeran muda berdarah murni. Saya tidak menyangkal bahwa dia lebih kuat daripada kita. Kami, saudara-saudara saya, sepupu saya dan saya, semua mungil, seperti adanya kalian. Yang kalau berjalan seperti wanita yang berjalan gemulai dengan panggul, lengan dan bahu berayun santai.


"Dia ingin memiliki apa yang kami punyai" kata Karaeng Katapang dan melanjutkan ceritanya, "dan dia juga memiliki banyak kasus. Dari semua itu, darah tidak dapat dibersihkan dan kita bisa katakan dalam warisan besar dari rumah tangga Kerajaan Gowa hingga tahun 1906 – seperti yang ia saksikan: beras kita ladang, kebun kelapa, kolam ikan, rumah bata, belati dan tombak bertahtakan emas, perhiasan senilai puluhan ribu real. Dengan melihat hal tersebut ia kemudian berhubungan dengan orang-orang jahat yang menjadikan dia dan mereka semakin kuat karena keberaniannya. Ia menjadi pelindung mereka karena darah kerajaan terdapat dalam venanya. Ia adalah pemimpin para pengacau, bandit, bajingan, perampas istri orang, penyelundup opium dan para perampok.


Selain kenyataan budaya di atas, perampokan di Sulawesi Selatan juga melibatkan para bangsawan. Persaingan antara bangsawan dan keadaan politik dalam negeri menjadi fenomena tersembunyi dalam kegiatan perampokan ini.

Gerakan perampokan yang dipimpin oleh Tolo‟ Daeng Magassing, mantan kepala satuan pasukan Kerajaan Gowa, memiliki pengikut dan pendukung beberapa orang bangsawan tinggi di Gowa dan daerah sekitarnya. Diantaranya, Macan Daeng Barani, cucu dari Arung Matoa Wajo Karaeng Mangepe; Abasa Daeng Manromo Karaeng Bilaji, saudara tiri dari dari Karaeng Lembangparang, raja Gowa terakhir yang gugur melawan Belanda; Paciro Daeng Mapata, bangsawan tinggi Kerajaan Gowa yang menjabat duta Gowa di Kerajaan Bone sebelum masa penaklukan. Selain itu terdapat Daeng Patompo dan Daeng Manyengka yang merupakan saudara dan keponakan dari regen Polombangkeng. 10

Keadaan ini membuat I Mappanyukki, Karaeng Kabalokang, dan Karaeng Lengkese memutuskan untuk melakukan pengejaran dan mengakhiri kegiatan perampokan. Usaha ini akhirnya berhasil menemukan persembunyian dan menewaskan I Tolo‟ beserta beberapa pengikutnya di Kampung Kalanipa pada tanggal 17 November 1915.11

Coenen dalam laporannya menyimpulkan bahwa perampokan yang melibatkan para bangsawan Gowa, regen, kepala kampung dan pengikutnya bersifat politis berhubungan dengan hilangnya kebesaran dan kekuasaan mereka disamping balas dendam atas tewasnya Macan Daeng Barani. Ia juga berpendapat bahwa kekuatan militer dibutuhkan untuk mengamankan wilayah ini. Menurutnya hanya yang terkuat yang memegang kekuasaan. Namun persoalan sesungguhnya yang menyebabkan perlawanan para bangsawan itu diabaikan. Ketika pemerintah mengambil alih tanah-tanah kerajaan dan bangsawan mengakibatkan mereka kehilangan sumber utama pendapatan dan kekuasaan. Belanda mengalihkan persoalan besar ini menjadi tindakan kriminal dan perlawanan.

5. Kehidupan Pangreh Praja

Untuk kebutuhan lapangan pada awalnya Gubernur Celebes Baron Quarles de Quarles meminta kepada para ambtenaar BB yang masih muda menjadi ahli mengenai negeri dan rakyat dan mampu berbicara dengan menggunakan bahasa daerah setempat. Namun dalam kenyataannya hal itu sulit karena di Sulawesi Selatan terdapat lima belas bahasa dan seringnya terjadi mutasi membuat hal itu menjadi mubazir saja. Belakangan pejabat Belanda biasanya dibantu oleh para ambtenaar bumiputra yang berpendidikan baik, lagipula pengetahuan bahasa Melayu yang digunakan secara umum di Hindia Belanda dikuasai oleh ambtenaar Belanda semakin luas.


Anwar Daeng Situju yang menjadi penasihat bagi pemerintah kolonial Belanda di Sungguminasa, sebenarnya seperti yang diakui oleh Friedericy adalah dua sosok pejabat bumiputra yang pernah dekat dengannya. Karakter dua sosok ini menjadi gambaran ideal Friedericy dan ambtenaar Belanda lainnya sebagai pegawai pangreh praja pribumi : tidak menegak minuman beralkohol, taat pada agama namun moderat utamanya di bidang pendidikan dan dekat dengan rakyat serta setia kepada pemerintah.12 Adapun „Tuan Anwar‟ dalam roman Friedericy digambarkan sebagai sosok pangreh praja ideal:

…Anwar, yang paling pendiam dari ketiga anak Karaeng itu, setelah selesai sekolahnya, diantarkan oleh ayahnya kepada Tuan Petoro Pangkajene, dengan permohonan untuk mendidik dia dikantornya. Untuk apa, tidak ditanyakan oleh Tuan Petoro yang menghormati ayah Anwar sebagai orang yang mempunyai kebanggaan dan tak tergoyahkan. Anak itu memperlihatkan kecerdasan dan kerajinan, dari seorang magang atau juru tulis pembantu ia menjadi juru tulis dan dari juru tulis ia menjadi orang yang mengerjakan segala macam pekerjaan dan dari orang yang mengerjakan segala macam pekerjaan ia menjadi asisten pangreh praja – “Tuan Asisten” – di Maros dan sekarang ia menjadi asisten pangreh praja kelas satu di Sungguminasa… namanya dikenal oleh semua pegawai pangreh praja, Belanda atau pun Makassar, dan oleh banyak kepala….


Ia seorang yang sangat taat pada agama dan menunaikan semua kewajiban sebagai orang Islam, sepanjang pekerjaannya memungkinkan. Alkohol tidak pernah disentuhnya, kecuali jika ia, itu pun amat jarang, terkena salesma yang berat dan minta diambilkan anggur di toko Cina di pasar….. dalam bulan Ramadhan, bulan puasa, ia bahkan tidak menelan ludahnya pada waktu siang hari; apabila ia berada di kantor hampir tiap sepuluh menit ia membuang ludahnya dalam tempat ludah tembaga yang besar, yang tersedia di samping meja tulisnya. Keinginannya yang sangat ialah melakukan perjalanan ke Mekah dalam waktu yang tidak terlalu lama.
13


… Ketika Tuan Anwar, lebih sepuluh tahun yang lalu, mulai bekerja di Goa, seluruh Jongaya memandang rendah kepadanya. Tapi Tuan Anwar, ia sendiri bangsawan, mengetahui tempatnya dalam susunan masyarakat Makassar. Sebagai seorang bangsawan ia penuh berbudi bahasa. Meskipun berada dalam posisi yang sulit ia tetap sangat sopan santun. Dan setelah beberapa tahun, beberapa keturunan raja yang sangat berpengaruh mulai memberika kepercayaan kepadanya dan menghargainya. Ia menjadi penasihat mereka dalam banyak urusan. Tapi sekalipun ia sangat sopan santun – dan dengan cara yang hampir berlebihan ia menghormati anak-anak terunan raja yang disisihkan, penuh dendam, dan penggerutu itu – dalam percakapan ia tidak pernah menunjukkan rasa takut. Memang – meskipun seorang bangsawan, ia bukanlah orang yang pernah mendapat nama harum karena berburuan berkuda mengejar rusa yang cepat larinya; ia pun tidak pernah, sesudah percekcokan, menikam seseorang dengan keris atau badiknya. Tidak – dalam hal fisik Tuan Anwar bukanlah pahlawan. Tapi pada saat yang tepat ia mengeluarkan pendapatnya dengan suara lembut agak serak, dengan kata-kata yang terpilih dengan baik. Dan itu dilakukannya terhadap anggota-anggota bangsawan yang paling tinggi maupun sep atasannya, Tuan Petoro.
14


… Ia seorang yang mengenal Goa, berbicara kecuali bahasa Makassar – bahasanya sendiri – juga bahasa Melayu yang bagus, bahasa Bugis, sedikit bahasa Arab, dan bahasa Belanda.
15
… Tuan Petoro jarang melihat Tuan Anwar marah dan murka. Sekali ia melihatnya marah sewaktu pemeriksaan Kepala Kampung Kassi… kali lain ia memarahi Karaeng Mandalle,… dengan pucat dan gemetaran, karena pemfitnah tua itu memburuk-burukkan beberapa anggota keluarga raja yang terkemuka.
16


Tokoh Tuan Anwar sejatinya bernama Mauraga Daeng Malliungang yang diangkat sebagai Karaeng Pangkajene pada tahun 1912 menggantikan ayahnya. Ia mendapat pendidikan di OSVIA. Mauraga adalah kepala daerah yang baik, seperti yang dilaporkan oleh kontrolir M.A. Los, bahwa ia penuh ambisi dan bersemangat memimpin daerahnya. Pada tanggal 31 Agustus 1931, menerima bintang perak karena kesetiaannya dan pengabdiannya yang besar kepada rakyat dan pemerintah Hindia Belanda. Beberapa putranya menyelesaikan pendidikannya di MULO dan AMS di Yogya, yang diharapkan dapat menggantikannya.17 Salah satu anak Mauraga Daeng Malliungang yaitu Andi Burhanuddin, pernah menjabat sebagai Menteri Sosial NIT dalam kabinet Putuhena.18 Sebagaimana disampaikan oleh Friedericy bahwa salah seorang anak Tuan Anwar pernah menjabat sebagai menteri dalam suatu kabinet di Negara Indonesia Timur. Namun ia tidak menjelaskan lebih jauh pada kabinet siapa meski ia menyebutkan sebagai Menteri Pengajaran.
Gambaran ideal pangreh praja ini merupakan kebalikan dari penggambaran para bangsawan tinggi Makassar lainnya, utamanya para bangsawan istana yang digambarkannya berbahaya seperti saudara raja Gowa, Boenta Karaeng Mandalle, yang dijuluki si lila padalle, berlidah kadal.19 Dalam sebuah laporan Friedericy mengingatkan kepada pejabat Belanda tentang putra ketiga dari Raja I Mangi-mangi Karaeng Bontonompo, yang ternyata kelak diangkat sebagai Raja Gowa yang diangkat tahun 1946, yang bernama La Ijo Karaeng Lalolong, menggantikan ayahnya sebagai Raja Gowa. Friedericy menggambarkan, bangsawan muda ini :

Putra yang ketiga dari I Mangi-mangi, La Idjo Karaeng Lalolong, yang dilahirkan tahun 1903, sekarang tinggal di Pare-Pare. Pada tahun 1922 diusir oleh ayahnya dari rumah karena mempunyai hutang dalam jumlah besar, dan kini telah menikah dengan putri seorang pedagang kaya dari kalangan bawah yang berasal dari Pare-Pare. Raja ini sama sekali tidak mempunyai pengetahuan tentang pemerintahan. Dia hanya mencari kekayaan dan kesejahteraannya sendiri, dan hidup terlalu boros. Ia membuat banyak hutang, dan karena itu dia tidak malu melakukan praktek-praktek yang tidak sepadan dengan status kebangsawannya. Dia tidak memiliki sifat-sifat kritis terhadap perbuatannya sendiri, memanfaatkan jabatannya untuk memperkaya diri dengan mengorbankan rakyatnya dengan demikian memberikan contoh yang berdampak merusak seluruh organisasi pemerintahan.


Di kantor ia tidak tahu harus melakukan apa selain mondar mandir. Dengan mengadakan pesta dan memberikan hadiah serta bantuan, ia berusaha mengokohkan kedudukannya, karena pemerintahan Swapraja ini tidak memiliki atau hanya sedikit memiliki pengaruh nyata. Karena orang di Makassar tidak tahu lagi hal lain, selain ia adalah raja kerajaan Gowa yang pernah sedemikian terkenal, ia mendapat pernyataan hormat yang membuat ia melihat dirinya di luar proporsi kedudukannya. Ia senantiasa ikut arus, dan selalu mencari muka pada orang yang dianggap memiliki kekuasaan, dan karena itu ia terus berada di Makassar, sehingga karena itu juga tidak dapat dikatakan bahwa ia melaksanakan pemerintahan. 20


6. Gerakan Modernis: Kasus PKI

Munculnya gerakan modernis di Sulawesi Selatan tidak lepas dari gerakan nasionalisme yang berkembang di nusantara di awal abad 20. Salah satu gerakan yang memiliki pengaruh besar bagi perkembangan nasionalisme adalah berdirinya Sarekat Islam (SI) tahun 1912 di Surakarta.21 Pada tahun-tahun pertama berdirinya SI mencakup banyak kaum Marxis yang mempunyai pengaruh cukup besar di berbagai cabang SI. Setelah Partai Komunis Indonesia terbentuk tahun 1920, pimpinan SI melarang keanggotaan rangkap dan memecat para SI “Merah”.
Pada tahun 1920, seorang ahli propaganda PKI datang ke Makassar untuk mengorganisasikan suatu gerakan. Pada tahun 1924, PKI cabang Makassar merupakan salah satu di antara empat cabang di luar Jawa yang mengirim utusan ke kongres PKI ke-9.22 Akibat pemberontakan yang dilancarkan oleh partai ini di Jawa dan Sumatra pada tahun 1926-1927 maka partai ini dianggap terlarang, demikian juga ditahannya banyak pemimpin pergerakan nasional selama tahun 1930 oleh pemerintah Belanda. sehingga selama tahun 1930-an gerakan nasionalis merupakan ancaman kecil bagi pemerintah Belanda.
Konsep Batara Gowa, banyak dipinjam oleh gerakan-gerakan yang tidak puas melihat kenyataan di masa 1915-1930. Konsep itu juga dipinjam oleh Partai Komunis Indonesia yang mulai mencoba menancapkan kukunya di Makassar. Pertumbuhan ini juga meminjam konsep Batara Gowa I Sangkilang, sebagaimana di kisahkan oleh Friedericy :

….Barombong, sebuah kampung yang terletak kira-kira pada perbatasan onderafdeling Makassar. Suatu pagi kedatangan seorang tamu yang tidak dikenal masuk rumah Kepala Kampung…. Tamu itu berbicara bahasa makassar dengan logat Jawa yang kental….dan meramalkan bahwa tidak lama lagi akan terjadi perubahan besar: orang Belanda akan pergi meninggalkan negeri dan tidak akan pernah kembali lagi; kemudian akan tiba masa kemakmuran dan kebahagiaan yang tiada akhirnya, orang tidak perlu membayar pajak lagi; tidak ada yang perlu melakukan rodi lagi; panen akan berlimpahan dan uang akan mengalir… ia berkata bahwa „Pekaieng‟ akan memerintah negeri… kata “Pekaiaeng” yang misterius itu ialah perubahan dari kata PKI, Partai Komunis Indonesia.


….Tuan Anwar berkata,”Sepertinya Sangkilang, Tuan. Sangkilang adalah budak Pangeran Bone yang melarikan diri; kira-kira tahun 1770 budak itu mengaku dirinya Batara Goa II, yakni Raja Goa yang diasingkan oleh Kompeni ke Sailan. Dalam beberapa bulan saja ia mendapat banyak pengikut. Bahkan dua putra raja dan raja-raja Sanrabone dan Tello percaya kepadanya. Akhirnya pengikutnya menjadi begitu banyak, sehingga Raja Goa yang sah terpaksa meninggalkan kerajaannya dan mencari perlindungan Kompeni di Makassar.
23


Peristiwa rencana teror yang dilakukan oleh PKI di Gowa, dikenal dengan nama „Kassizaak‟ terjadi pada bulan November 1926, melibatkan Kepala Kampung Kassi dan anaknya serta warga kampung tersebut.24 Mereka berencana melakukan tindakan sabotase pada pembangkit tenaga listrik di Sungguminasa, membunuh kontrolir dan pejabat pribumi. Penangkapan anggota PKI ini dilakukan oleh pejabat pemerintah, pihak militer dan pihak bangsawan tinggi yang diantaranya diwakili Karaeng Katangka. Adapun jalannya pemeriksaan setelah penangkapan mereka yang terlibat setelah peristiwa tersebut dikisahkan oleh Friedericy dalam bab Pekaieng :


Pemeriksaan menunjukkan, berita-berita yang ditemukan Tuan Anwar kemarin memang benar. Putra Kepala Kampung Kassi itu menerima instruksi dari Makassar agar bersama pengikutnya menghentikan pekerjaan pusat tenaga listrik dengan membunuh para pekerja, juru-juru mesin, dan direkturnya, dan menghentikan pekerjaan mesin-mesin dengan cara bagaimanpun juga. Sekelompok lain harus membunuh Tuan Petoro, Tuan Anwar, Tuan Jaksa, dan Tuan Abdulkadir. Untuk maksud itu ia (anak Kepala Kampung Kassi, penulis) beberapa kali mengadakan pembicaraan-pembicaran dengan lebih dari seratus orang Kassi. Tapi menjelang turunnya malam yang nahas itu dengan naik sepeda putra kepala kampung itu memberi tahu orang-orang Kassi yang ia libatkan dalam persekongkolan itu, bahwa rencana itu dibatalkan. Esok paginya di dalam hutan di luar kampung ia mengancam akan membunuh semua orang laki-laki di kampung itu jika mereka berani membocorkan rencana-rencana yang dibatalkan itu.


Kebanyakan orang dari Kassi tidak dituntut…. Sembilan orang mendapat hukuman dari dua hingga tiga tahun. Yang kesepuluh mendapat hukuman empat tahun penjara. Ia adalah putra Kepala Desa, yang sampai saat terakhir tidak mau mengatakan siapa yang memberikan instruksi untuk menyerang pusat tenaga listrik dan membunuh tuan-tuan di Sungguminasa, dan siapa pula yang menarik kembali instruksi itu. Ayahnya minta berhenti dan diberhentikan, dan meninggal dunia dalam waktu dua bulan.
25


Sebagaimana tanggapannya mengenai persoalan komunisme di Hindia Belanda sejak 1913 hingga tahun 1920-an, Friedericy berpendapat bahwa penelitian yang dilakukan mengenai sebab-sebab „pemberontakan‟ di Jawa dan Sumatera Barat, tidak saja terungkap kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh pemerintah tetapi juga cara yang dipergunakan para agitator komunis yang dapat mempengaruhi pikiran masyarakat yang masih sederhana, sehingga mereka dapat melakukan tindakan-tindakan teror. Agen-agen komunis menjanjikan akan datang dalam waktu dekat „negara yang adil dan makmur‟. Di mana tidak ada pajak, kerja paksa dan keadilan. Namun sebelum itu mereka harus membunuh mereka yang memerintah sekarang, orang-orang Belanda, para pegawai pemerintah, dan juga pemuka masyarakat. 26
Salah satu keberhasilan Friedericy dalam meredam persoalan kebangkitan nasionalisme pada masa itu, adalah usulannya mengembalikan peran para penguasa pribumi dengan menghidupkan kembali kerajaan-kerajaan pribumi dan simbol-simbol yang mereka miliki, serta berbagai penyesuaian-penyesuaian dengan pemerintah kolonial Belanda. Di Sulawesi Selatan, orang-orang Belanda akhirnya dapat diterima dan kekuasaan pemerintah Belanda disesuaikan ke dalam sistem feodal menurut ukuran tertentu dan dengan cara yang menakjubkan. Ratu Belanda dianggap memiliki kekuatan yang lebih besar daripada Raja Bugis atau Raja Makassar, dan Ratu ditempatkan pada puncak susunan hierarki feodal, dan dibawahnya di tempatkan Gubernur Jenderal lalu Gubernur Celebes dan seterusnya berurut ke jenjang pemerintahan dibawahnya. 27

7. Munculnya Elit Modern

Kebanyakan elit modern Sulawesi Selatan berasal dari daerah yang diperintah langsung oleh Belanda. Seperti misalnya, Mauraga Daeng Malliungang, 28 Karaeng atau bangsawan dari daerah Pangkajene, berpendidikan kelas 4 OSVIA, pada tahun 1912 diangkat menjadi regen Pangkajene menggantikan ayahnya. Saudara laki-lakinya menjadi penguasa di masyarakat adat Mandalle dan keponakannya menjadi Karaeng di Maros. Beberapa putranya menyelesaikan pendidikannya di MULO dan AMS di Yogyakarta.

Salah satu putranya yaitu Andi Burhanuddin yang menggantikannya sebagai Karaeng Pangkajene pada tahun 1942, kemudian dicopot tahun 1945, karena bersimpati pada Republik Indonesia. Andi Burhanuddin pernah menjadi Menteri Penerangan NIT pada Kabinet Anak agung Gde Agung I pada tahun 1947. Ia juga pernah menjabat sebagai Gubernur Sulawesi tahun 1955-1956. Friedericy menggambarkan sosok ini yang dalam romannya bernama Musa :

Tuan Petoro bertemu Musa, putra Tuan Anwar…ia seorang anak yang pendiam, dengan wajah yang tenang seperti merenung….Musa selalu berpakaian sederhana tapi rapi. Kadang ia memakai songkok Makassar, kadang-kadang kopiah sutera hitam. Kadang-kadang ia memakai pakaian Eropa dengan pantalon panjang, kadang-kadang ia memakai sarung. Ia bergerak dengan sikap ningrat…meskipun masih begitu muda, ia sama sekali tidak tampak merendah-rendah atau memperlihatkan adab sopan santun yang semu. 29


Dari kalangan bangsawan Gowa, diantaranya yang kelak menjadi tokoh yang berpengaruh di Sulawesi Selatan yaitu Andi Pangerang Petta Rani, yang merupakan Karaeng Tumabicara Butta atau wakil raja. Friedericy, kontrolir Gowa menggambarkan tokoh ini sebagai orang yang baik dan suka belajar serta dianggap paling cerdas diantara kaum muda keturunan raja-raja dan menempuh pendidikan di OSVIA.30 Ia menjadi Gubernur Sulawesi tahun 1956-1960.

8. Penutup

Karya-karya Friedericy penting untuk digunakan melihat hubungan masyarakat kolonial di Sulawesi Selatan sehari-hari. Interaksi antara pejabat Belanda dengan bangsawan dan rakyat digambarkan secara manusiawi lengkap dengan pikiran-pikiran mereka, yang memiliki pengalaman dan sudut pandang yang berbeda dan bertemu di suatu tempat atau peristiwa. Karya sastra merupakan refleksi sosial dari kehidupan sehari-hari yang dapat digunakan sebagai salah satu sumber bersama-sama dengan sumber inkonvensional lainnya untuk menulis sejarah masyarakat, sejarah orang kebanyakan, atau sejarah sosial dari kehidupan sehari-hari. Dengan memadu karya tersebut dengan sumber konvensional yang tersedia, maka diharapkan penulisan sejarah tentang suatu masyarakat dapat menggambarkan suasana sejarah pada kurun waktu yang diangkat.


Fote Note :
1 Amrullah Amir, pengajar pada jurusan Ilmu Sejarah pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin Makassar.
2 Beberapa karya Marie van Zeggelen menampilkan keadaan rakyat Sulawesi Selatan seperti Onderworpenen (Mereka yang dikalahkan) yang mengisahkan tentang rakyat Sulawesi Selatan setelah ditaklukkan oleh Belanda dan De Gouden Kris (Keris Emas) yang mengisahkan petualangan La Ballo yang menghadapi Belanda sebagai orang asing dan musuh. Marie van Zeggelen pernah berdiam di Sulawesi Selatan mengikuti suaminya yang seorang perwira militer Belanda (dalam Dick Hartoko, Bianglala Sastra,Bunga Rampai Sastra Belanda tentang Kehidupan di Indonesia. (Jakarta: Djambatan, 1985) hlm. 200.
3 Ibid.
4 H.J. Friedericy, Sang Penasihat, (Jakarta: Graffiti, 1990) hlm. 8
5 H.J. Friedericy, Sang Penasihat… hlm. 7-8.
6 E.L. Poelinggomang, Perubahan Politik dan Hubungan Kekuasan: Makassar 1906-1942 (Yogyakarta: Ombak. 2004) hlm. 153.
7 Anwar Thosibo, Historiografi Perbudakan di Sulawesi Selatan (Magelang: Indonesiatera, 2002), hlm. 75-77.
8 Lihat laporan tentang tindakan dan pola kriminalitas dalam W.G. van der Wolk, Memorie van Overgave Onderafdeeling Maros 1946-1947,hlm. 131-39. M.A.Los, Memorie van Overgave Onderafdeeling Pangkadjene, van 2 Mei 1931 tot 3 Juli 1934, hal. 91-92. Lihat juga tulisan G.J. Resink, Negara-negara Pribumi di Nusantara Timur 1873-1915 dalam Raja dan Kerajaan yang Merdeka di Indonesia 1850-1910 (Jakarta: Djambatan, 1987), hlm. 149-196. Juga dalam Edward L. Poelinggomang, Perubahan Politik dan Hubungan Kekuasan: Makassar 1906-1942 (Yogyakarta: Ombak, 2004), hlm. 150-191.
9 Diterjemahkan bebas dari cerpeb “Bloed”, dalam H.J. Friedericy, Verzameld Werk (Amsterdam: Em. Querido‟s Uitgeverij B.V, 1984), hlm. 125-128
10 Ibid., hlm. 160-162.
11 Dalam Edward L. Poelinggomang, Perubahan Politik, hlm. 173.
12 Dalam pengantar oleh Rob Nieuwenhuys dalam Verzameld Werk, hlm. 14-16. Lihat A.M. Goedhart dalam Adatrechtsbundel XXXVI tanggal 25 Maart 1920. Abd. Razak Daeng Patunru, Bingkisan Patunru, Sejarah Lokal Sulawesi Selatan (Ujung Pandang: PusKit-Lephas, 2004), hlm. 53. Lihat juga Memori Serah Terima Jabatan di Daerah Pangkajene di bawah Pengawasan Pemerintah Dalam Negeri, M.A. Los, 2 Mei 1931-3 Juli 1934, hlm. 3.
13 H.J. Friedricy, Sang Penasihat, hlm. 6-7.
14 H.J. Friedericy, Sang Penasihat, hlm. 8-9.
15 Ibid., hlm. 12.
16 Ibid., hlm. 91. Kepala Kampung Kassi, adalah pimpinan sebuah kampung di Gowa yaitu di Kassi, di mana pada bulan November tahun 1926, hampir sebagian besar warganya terlibat PKI. Sedangkan Karaeng Mandalle, atau lengkapnya Bunta Karaeng Mandalle adalah saudara kandung Raja Gowa ke-33, Karaeng Lembangparang yang tewas saat penaklukan Belanda atas Gowa 1906. Ia adalah salah satu bangsawan tinggi dalam Kerajaan Gowa, lebih jauh lihat H.J. Friedericy, “Gids door het voormalige Gowasche Vorstenhuis”, hlm. 2
17 M.A. Los, Memorie van Overgave, hlm. 3.
18 Abd. Razak Daeng Patunru, Bingkisan Patunru: Sejarah Lokal Sulawesi Selatan (Ujung Pandang: PusKit-Lephas, 2004), hlm. 52. Republik Indonesia Propinsi Sulawesi Selatan (Propinsi Sulawesi Selatan: Jawatan Penerangan RI, 1953), hlm. 171.
19 “Nota behoorende bij de Gids door het voormalie Gowasche Vorstenhuis”, ARSIP NIT 81 (Makassar: Badan Arsip dan Perpustakaan Daerah Proponsi Sulawesi Selatan Makassar), hlm. 2.
20 Dalam MR. J.T.K. Poll, Laporan Serah Terima Kontrolir Kelas I Kementerian Dalam Negeri, 1948 (Makassar: Badan Arsip dan Perpustakaan Daerah, 2005), hlm. 3-4. Lihat salinan Surat Karaeng Karuwisi tanggal 22 Juni 1946 dan surat Karaeng Bontonompo tertanggal 20 Juni 1946 sebagai perwakilan Hadat Gowa kepada Residen Selebes di Makassar tentang usulan pengangkatan La Idjo Karaeng Lalolang sebagai calon Raja Gowa pengganti ayahnya I Mangi-mangi yang wafat.
21 M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1995), hlm. 247-273
22 Ruth T. Mc. Vey, The Rise of Indonesian Communism (Ithaca, N.Y.: Cornell University Press, 1965), hlm. 184,434.
23 H.J. Friedericy, Sang Penasihat, hlm. 70-73.
24 Sangat disayangkan laporan Friedericy tentang Kassizaak ini tidak dapat ditemukan lagi. Demikian juga dinyatakan oleh Fred Vinken dalam tesisnya tentang kehidupan Friedericy sebagai penulis dan ambtenar. Namun kebenaran peristiwa itu ditegaskan oleh Friedericy dalam tulisannya “Penduduk Hindia Belanda dan Kekuasaan Belanda dalam Dasawarsa sebelum Serbuan Jepang”, dalam H.Baudet dan I.J. Brugmans (ed.), Politik Etis dan Revolusi Kemerdekaan (Jakarta: YOI, 1987), hlm. 84-85.
25 H.J. Friedericy, Sang Penasihat, hlm. 81.
26 H.J. Friedericy, “Penduduk Hindia Belanda”, hlm. 84-85.
27 Ibid., hlm. 85. Friedericy mengisahkan sering menjumpai pengalaman yang menarik selama tugasnya di Sulawesi Selatan, orang-orang Belanda yang menjadi pegawai BB kadang-kadang disentuh secara diam-diam oleh orang-orang tua, pria atau wanita, dengan maksud agar kekuatan gaib yang dimiliki para BB ini berpindah ke tubuh orang-orang tua ini. Sapu tangan yang ketinggalan, tidak di cuci lagi disimpan sebagai sesuatu yang mengandung kekuatan gaib.
28 M.A. Los, Memorie van Overgave Onderafdeeling Pangkadjene 1931-1934, hlm. 3.
29 H.J. Friedericy, Sang Penasihat, hlm. 90-91.
30 Mr. J.T.K. Poll, Memorie van Overgave Bestuurmemorie, hlm. 4


Daftar Pustaka :

Anwar Thosibo. Historiografi Perbudakan di Sulawesi Selatan. Magelang: Indonesiatera. 2002.
Baudet, H. dan I.J. Brugmans, penyunting. Politik Etis dan Revolusi Kemerdekaan. Jakarta: YOI. 1987.
Dick Hartoko. Bianglala Sastra,Bunga Rampai Sastra Belanda tentang Kehidupan di Indonesia. Jakarta: Djambatan, 1985.
Edward L. Poelinggomang. Perubahan Politik dan Hubungan Kekuasan: Makassar 1906-1942. Yogyakarta: Ombak. 2004.
Friedericy, H.J. Sang Penasihat. Jakarta: Graffiti. 1990.
__________. Verzameld Werk. Amsterdam: Em. Querido‟s Uitgeverij B.V., 1984.
__________. “De Gowa Federatie”. Adatrechbundel XXXI: 1929, hlm. 364- 427.
Luk√°cs, Georg. The Historical Novel. London: Merlin Press. 1962.
Los, M.A. , Memorie van Overgave Onderafdeeling Pangkadjene, van 2 Mei 1931 tot 3 Juli 1934 Poll, M.J.T.K., Memorie van Overgave Kontrolir Kelas I, 1948.
Mukhlis PaEni. Dinamika Bugis – Makassar, Jakarta: P.T. Sinar Krida. 1986.
____________. Edward L. Poelinggomang, dan Ina Mirawati, Batara Gowa: Messianisme dalam Gerakan Sosial di Makassar. Jakarta: ARNAS-Gadjah Mada University Press. 2002.
Nieuwenhuys, R. The Mirror of The Indie, A History of Dutch Colonial Literature. HK: Periplus. 1999.
Nordholt, Henk Schulte, Bambang Purwanto, Ratna Saptari (editor). Perspektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia. Jakarta: YOI-KITLV-Pustaka Larasan. 2008.
Penders, Chr. L.M. (ed.). Indonesia: Selected Documents on Colonialism and Nationalism 1830-1942. Queensland: University of Queensland Press. 1977.
Poll, MR. J.T.K. Laporan Serah Terima Kontrolir Kelas I Kementerian Dalam Negeri, 1948.
Ricklefs, M.C. Sejarah Modern Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 1995.
Wal, S.L. van Der (penyunting), Kenang-Kenangan Pangreh Praja Belanda 1920-1942. Jakarta: Penerbit Djambatan. 2001.



Sumber tulisan dikutip dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Konferensi Nasional Sejarah IX, Hotel Bidakara Jakarta, 5 – 7 Juli 2011

0 komentar:

Post a Comment