Jan 8, 2012

* GAGASAN KEBANGSAAN NADJAMOEDDIN DAENG MALEWA

GAGASAN KEBANGSAAN NADJAMOEDDIN DAENG MALEWA
DI SULAWESI SELATAN TAHUN 1907-1947
Oleh Siti Junaeda


A. Pengantar


Abad ke-20 sering disebut sebagai zaman modern, oleh Furnivall diterjemahkan sebagai zaman ”ekspansi, efisiensi, dan kesejahteraan”.[1] Salah satu penanda zaman ini adalah perluasan sistem pendidikan Barat untuk menghasilkan bumiputera terpelajar yang diproyeksikan sebagai pegawai pemerintah atau perusahaan swasta. Bumiputera yang mendapatkan pendidikan Barat ini pada akhirnya muncul sebagai kelompok sosial baru yang akrab disebut sebagai elit.[2] Melalui pemikiran mereka, ide kebangsaan muncul dan ditransformasikan secara luas dalam masyarakat melalui berbagai bentuk organisasi dan atau partai politik yang saat itu mulai muncul. Dalam organisasi atau partai politik inilah tempat munculnya bibit nasionalisme sebagai sebuah dorongan untuk menentukan nasib sendiri. [3] Nasionalisme dimaknai sebagai upaya untuk membangun karakter dalam menentukan nasib sebuah bangsa. [4]

Ide-ide Nasionalisme di Sulawesi Selatan ditandai dengan mulai masuknya beberapa organisasi nasional yang membentuk cabang-cabang di Makassar. Makassar bukan hanya sebagai pusat kota administrasi maupun pusat politik tetapi juga menjadi barometer bagi kawasan timur Indonesia menjadi tempat yang dituju oleh beberapa organisasi nasional. Sarekat Islam merupakan organisasi modern pertama yang didirikan di Makassar pada tahun 1916 disusul dengan Muhammadiyah, Assiratal Mustaqim, NU, PKI, PNI, PARTINDO, PARINDRA, dan lain-lain. Selain sebagai tempat dari beberapa organisasi nasional untuk membentuk cabang, di Sulawesi Selatan juga muncul organisasi kedaerahan seperti Perserikatan selebes, kemudian berubah menjadi Partai selebes, dan Persatuan Selebes Selatan.

Pemaknaan dan penterjemahan ide nasionalisme di Sulawesi Selatan, dapat ditelusuri dari azas maupun program kerja dari masing-masing organisasi tersebut. Nadjamoeddin adalah salah satu tokoh pergarakan di Sulawesi selatan yang secara aktif ikut menyebarkan ide nasionalisme dan kebangsaan dengan aktif pada organisasi partai politik yang bercorak lokal maupun nasional. Dia membangun persatuan dalam merealisasikan pergerakan nasional melalui organisasi atau partai lokal dan nasional seperti Perserikatan Selebes, Partai Selebes, Parindra, dan Partai Selebes Selatan. Dalam beberapa tulisan dan pidatonya ia berpendapat bahwa untuk mencapai kemakmuran bagi seluruh rakyat Sulawesi khususnya dan Indonesia pada umumnya, maka tiga hal penting harus terpenuhi. Pertama: persatuan seluruh suku bangsa; Kedua: Pendidikan yang merata; dan Ketiga: Sistem perekonomian yang kuat. Ketiga bagian inilah menjadi syarat penting untuk mencapai sebuah bangsa yang kuat dan mandiri.

B. Mewujudkan Persatuan Bumiputera dalam Partai Politik

Nadjamoeddin daeng Malewa mengawali karir politiknya di Sulawesi Selatan dengan bergabung dalam Perserikatan Selebes. Melalui kecakapan dan kemampuan personal yang dimiliki, Nadjamoeddin diberi kesempatan untuk memimpin Cabang Makassar. Lebih dari itu, ia juga didaulat sebagai pimpinan Padoman Besar dalam struktur Perserikatan Selebes. Nadjamoeddin bersama pengurus yang lain berhasil mengembangkan Perserikatan Selebes sebagai organisasi massa yang bercorak lokal dan menjadikan kebangsaan sebagai azas dari perjuangan organisasi. Masuknya Nadjamoeddin dalam Perserikatan Selebes mampu memberikan warna, sehingga Perserikatan Selebes lebih dinamis. Dinamisasi itu sangat tampak karena Perserikatan Selebes menjadi media untuk mentransformasikan ide kebangsaan Nadjamoeddin di Sulawesi. Ide kebangsaan ini dipropagandakan baik melalui tulisan di berbagai surat kabar, juga diutarakan melalui berbagai pidatonya dalam berbagai forum partai.

Pilihan Nadjamoeddin untuk bergabung dalam Perserikatan Selebes lebih didasari oleh ketertarikannya pada tujuan organisasi ini yang ingin memajukan kepentingan lokal rakyat Selebes sebagai penopang kemajuan pada skala yang lebih besar yaitu nasional Indonesia. Harapan ini dimaksudkan untuk mewujudkan sebuah kemajuan seluruh daerah di Indonesia seperti di Jawa dan Sumatra. Kemajuan sebuah bangsa dapat terwujud ketika persatuan dapat terrealisasi. Demikian cuplikan pidatonya:

Mencari persatoean dalam pergerakan kebangsaan, itoelah yang teroetama diamalkan oleh pemimpin-pemimpin bangsa di waktoe sekarang. Kaoem pergerakan kita di Indonesia semoeanya adalah berbesaran hati bahwa semangat persatoean indonesia soedah masoek kemana-mana, djoega pada kita di noesa selebes ini. Semangat itoe soedah melekat di atas bibir tiap-tiap orang pergerakan Indonesia, mendalam kehati tiap-tiap orang Indonesia jang berdjoeang membela keselamatan tanah air dan bangsa mendjadi dasar jang tegoeh bagi gerak dan terdjangnya Perserikatan Selebes...

...dan wadjib kita koeboerkan segala perasaan kekotaan, kepoelaoean dan keprovincian dan wadjib poela kita insjaf dengan seinsjaf-insjafnja bahwa kita sekalian adalah poeteri-poeteri dan potera-poetera indonesia. Kota-kota seperti Makassar, Manado dll itoe hanjalah masing-masing kota kelahiran kita dan Indonesialah iboe dan negeri kita jang haroes kita tjintai, sebab nasinja jang kita makan dan airnja jang kita minoem. Djadi tidak lebih dari kewadjiban kita djika kita memperhambakan, memperboedakkan diri kita oentoek iboe Indonesia. Cinta bangsa dan tanah air haroes kita menanam dengan sedalam-dalamnja dalam hati sanoebari kita sekalian.[5]

Nadjamoeddin sangat menyadari bahwa roh dari pergerakan untuk membela tanah air membutuhkan persatuan dari semua belah pihak. Perbedaan-perbedaan daerah asal menjadi tidak penting lagi diperdebatkan dalam rangka perjuangan kebangsaan. Ikut serta dalam perjuangan pergerakan adalah kewajiban bagi seluruh rakyat yang tidak boleh ditawar sebagai manifestasi dari kecintaan terhadap Indonesia.

Para pengurus Perserikatan Selebes memiliki latar belakang politik serta latar belakang sosial budaya yang berbeda-beda. Pada perkembangannya, perbedaan latar budaya menjadi pemicu munculnnya persoalan dalam internal organisasi ini yang bermuara pada konflik antara ”utara” dan ”selatan.[6] Konflik ini akhirnya berujung pada perpecahan dimana Nadjamoeddin yang saat itu menjabat sebagai ketua Perserikatan Seceles Cabang Makassar mengambil alih dan menggantinya dengan nama Partai Selebes. [7] Perubahan cabang Makassar juga diikuti oleh cabang Barranglompo, sehingga pada awal pembentukan Partai Selebes, memiliki anggota sekitar 400 orang dari gabungan Cabang Makassar dan Cabang Barranglompo.[8] Untuk pengembangan partai, segera dibentuk beberapa cabang seperti Cabang Surabaya pada 17 Januari 1932, Cabang Bonthain, Cabang Boetoen, Cabang Palembang, dan Cabang Sungai Gerong.[9]

Ketika Nadjamoeddin terpilih menjadi ketua umum pada partai Selebes, pengembangan partai semakin meningkat. Partai Selebes memiliki azas yang sama dengan Perserikatan Selebes. Persatuan dan Kebangsaan tetap menjadi azas partai, demikian juga dengan tujuan yang ingin dicapai tetap pada tiga hal yakni persatuan yang ditopang oleh sistem pendidikan yang merata, kemandirian ekonomi, serta penguatan basis politik sebagai media dalam mencapai tujuan pergerakan.

Sebagai upaya untuk pengembangan partai, Nadjamoeddin dan rekan-rekannya bersepakat untuk melebur dalam sebuah fusi yang besar yakni bergabung dengan PARINDRA. Sayangnya Nadjamoeddin bukan termasuk tipe orang yang cepat puas dengan hasil yang telah dicapainya. Demikian juga dengan bergabungnya Partai Sarekat Selebes yang dipimpinnya ke dalam PARINDRA, hal ini tidak menjadikan Nadjamoeddin puas dengan apa yang diperoleh selama bergabung dengan Parindra. Salah satu hal yang mungkin membuatnya kecewa dengan Parindra adalah ketika gagal dalam pencalonan dirinya masuk menjadi anggota Volksraad periode periode 1935-1939. Salah satu penyebab gagalnya pencalonan tersebut adalah karena tidak didukung oleh sebagian pengurus pusat (Parindra) di Surabaya yang lebih cenderung memilih Ahmad daeng Siala yang saat itu adalah pengurus Parindra cabang Makassar.

Kekecewaan Nadjamoeddin itu ditunjukkan sikapnya yang memilih untuk memisahkan diri dari Parindra tempat dimana dia mengawali gagasannya untuk memajukan pelayaran bumiputera. Di bawah kepemimpinannya, Nadjamoeddin keluar dari Parindra diikuti oleh 250 orang lainnya pada bulan april 1939. [10] Setelah keluar dari Parindra, Nadjamoeddin segera membentuk partai baru yang bernama Persatuan Selebes selatan. Persatuan dan kebangsaan tetap menjadi azas dari partai baru ini sama ketika mendirikan Partai Selebes maupun Perserikatan Selebes. Meskipun memiliki azas yang sama dengan partai yang pernah dibesarkannya sebelumnya, namun Partai secara tegas menyatakan diri sebagai partai yang loyal terhadap pemerintah. Hal itu dinyatakan secara tertulis pada azas partai poin keempat Dalam pekerdjaan oentoek mentjapai kemoelia’an Selebes selatan, maka Persatoean Selebes Selatan bersikap loyal terhadep pemerentahan negeri.[11]

Pernyataan sikap dari Persatuan Selebes selatan yang terang-terangan menyatakan kesediaan untuk bekerjasama dengan pihak pemerintah Hindia Belanda pada awalnya mengundang banyak pertanyaan dari kelompok pergerakan lainnya di Sulawesi selatan. Nadjamoeddin mengemukakan alasannya yang memilih bekerjasama dengan pihak pemerintah dilakukan tetap dalam rangka memperjuangkan kemajuan bagi rakyat Selebes Selatan. Kemajuan yang diperjuangkan mencakup kemajuan bidang pendidikan, ekonomi, sosial dan politik.

C. Memajukan Pendidikan Bagi Bumiputera

Ketika persatuan bangsa telah terwujud, maka selanjutnya yang harus dipenuhi adalah terwujudnya sistem pendidikan yang merata. Pada tahap inilah Nadjamoeddin bersama rekan-rekannya seperti Lindoe marsajit, Nyonya Lumenta, Salawati daud, D. Th. N. Lengkong melalui Perserikatan Celebes berinisiatif membentuk Perhimpunan Perguruan Rakyat selebes (PPRS). PPRS adalah lembaga bentukan Perserikatan Selebes yang secara khusus mengurusi pendidikan dengan mendirikan beberapa sekolah perguruan nasional dan kursus-kursus. Dalam sebuah laporan PPRS, disebutkan bahwa pada awal tahun 1930, hanya 526 siswa yang diterima pada Inlandscheschool (sekolah bentukan pemerintah), sedangkan 215 calon siswa ditolak. [12] Kondisi inilah yang menjadikan PPRS ikut berpartisipasi secara aktif dalam memajukan pendidikan di Sulawesi Selatan. Alasan lain yang lebih penting adalah kemandirian bangsa dalam menyelenggarakan pendidikan. Demikian Nadjamoeddin menjelaskan :

...Djikalaoe kita maoe madju, maka djangan menanti-nanti tolongannya orang lain, djikalaoe kita maoe berdiri, djoega djangan menanti-nanti sokongan dari orang lain. Hanja kepertjajaan pada kekoeatan dan kebiasaan sendiri jang akan membawa Iboe Indonesia ketempat jang kita tjita-tjita. Inilah faktor jang penting sekali dan inilah sebab-sebabnja, sampai ditempat jang ketjil-ketjil, timboelnja pergoeroean nasional. Djoega itoelah sebabnja maka PPRS berdiri di kota Makassar, ditengah-tenganja ra’jat Bugis dan Makassar ini.

...Djoega boekoe-boekoe yang dipakainja sehari-hari di itoe sekolahan penoeh dengan penghinaan dan merendahkan bangsa kita. Oempamanja sadja itoe boekoe dari Toean Croes jang telah tersohor di seloeroeh indonesia: ”De dief” disitoe kita batja, dan soedah tentoe sadja si dief ataoe maling hanja lain perkataan sadja dengan si Inlanders. Sekali lagi sadja oelangkan, bahwa alat-alat pengadjaran di soewatoe Pergoeroean Barat penoeh dengan penghinaan terhadap perasaan bangsa kita.[13]

Lebih lanjut ia menjelaskan:

Pergoeroean nasional haroes memakai kebangsaan sebagai ia poenya pundament; artinja pedjaran2 jang diberikan kepada moerid2 ”haroes tjotjok” dengan kehidoepan dan penghidoepan kita.

Djikalaoe pergoeroean2 ta’ memakainja ini, soedah tentoe anak akan tinggal asing terhadap kalangannja sendiri (djadi sama sadja dengan boeah pendidikan Barat) dan ini berarti bahwa sang anak tadi akan ta’ mengetahoei keperloeannja biarpoen keperloeannja lahir ataoe bathin ataoe lain perkataan perasaan kebangsaan akan tinggal di bibir sadja. [14]

Pernyataan ini semakin menegaskan betapa pentingnya memberikan pengajaran yang sesuai dengan kebutuhan bangsa, karena berkaitan erat dengan penguatan nasionalisme bagi bumiputera. PPRS menganggap bahwa yang paling tahu apa yang kita butuhkan adalah diri kita sendiri dan bukan pihak lain. Sangat jelas terlihat bahwa misi PPRS adalah mencapai persatuan bangsa dengan ditopang oleh pendidikan yang merata.

PPRS membuka tiga jenis sekolah pagi yaitu Perguruan Rendah yakni sekolah kelas II ditambah materi bahasa Belanda dan boekouden, Perguruan Rendah Penambah (P.R.P) atau sama dengan Schakelschool ditambah materi bahasa Inggris dan boukhouden, dan Perguruan Rendah Umum (P.R.O) atau sama dengan HIS ditambah materi bahasa Inggris dan bookhouden. Untuk kelas petang dibuka Taman Pendidik Pengajar Pembantu atau Normaalcuursus yang ditempuh selama dua tahun, dan beberapa kursus singkat seperti bahasa Belanda, bahasa Inggris, kursus dagang, kursus stenografie, dan Cuursus Algameene Ontwikkeling (Pengetahuan Umum).

Materi yang diberikan cukup beragam, namun demikian diberikan porsi yang cukup besar bagi materi sejarah. Materi tersebut antara lain Babad Indonesia diajarkan oleh L. Marsajit, Aturan Pemerintahan Negeri oleh H.A. Lumenta, Pergerakan India, Mesir, Tiongkok, dan Pilipina oleh Lengkong, dan Ringkasan Pergerakan Barat atas Pengaruhnya Fransche Revolutie oleh Nadjamoeddin.[15] Selain mengajarkan Sejarah Eropa, olehrekan-rekannya, Nadjamoeddin dipercayakan untuk mengajar Bahasa Belanda oleh karena dibanding dengan temannya, dia dianggap sangat fasih menguasai Bahasa Belanda dibanding lainnya.[16] Perhatian Nadjamoeddin dalam pendidikan di Sulawesi Selatan menyebar luas hingga di bagian terluar wilayah Sulawesi Selatan yaitu Buton, seperti dinyatakan berikut ini:

Atas oesahanja saudara Nadjamoeddin wakil ketua Padoman Besar maka PS dan PPRS Tjabang Boeton telah didirikan. Inilah adalah soeatoe nationaledaad dari saudara Nadja terseboet karena dimasa ia mengasoh (verlof) ke Boeton ia pergoenakan waktoenja dan tenaganja oentoek memadjoekan bangsa dan tanah air. Akan djasanja itoe kita haroes djoenjoeng tinggi”.[17]

Komitmen Nadjamoeddin untuk memajukan pendidikan bagi bumiputera cukup tinggi, hal ini terbukti dengan kepercayaan teman-temannya yang memilihnya sebagai direktur PPRS menggantikan Ny. Ticolau. Kondisi PPRS saat itu dalam kondisi ukup buruk bermasalah dalam hal keuangan. Nadjamoeddin selaku direktur baru, segera menyelesaikan masalah hutang PPRS dan menggunakan uang pribadinbya memiliki masalah keuangan dengan sejumlah hutang pada tukang kayu dan hutang sewa rumah sebesar f.110 untuk menutupi hutang sewa rumah dan hutang pada tukang kayu. Apa yang telah dilakukan oleh Nadjamoeddin ini memperoleh apresiasi positif dari rekannya maupun dari komisi verifikasi yang terbentuk.

Kami Verificatiecommisie berpendapatan pada waktoe pemeriksaan, bahwa verantwoording beliau (Nadjamoeddin) itoe dikerdjakan dengan saksamanja dan sebagaimana moestinja, sehingga kita menjatakan, bahwa pekerdjaan orang jang sedemikian itoe, jang sekian berat tanggoengannja, serta dia tiada mengeloeh dan dikorbankannja temponja jang akan dipakainja oentoek bersenang-senang, serta tenaganja terhadap kepada bangsa dan tanah airnja, maka ta’ dapatlah rasanja kita menilainja, apalagi pekerjaan itoe, pekerkaan jang semoelia-moelianja. [18]

Perhatian Nadjamoeddin untuk memajukan pendidikan bagi bumiputera juga terlihat pada keinginannya untuk memajukan pendidikan khususnya kaum perempuan. Sekolah yang dimaksud bertujuan untuk memberi bekal keahlian bagi perempuan di Sulawesi Selatan. Sekolah ini diperuntukkan bagi lulusan Volkschool yang jenjang pendidikannya 3 tahun (onderbouw), dan lulusan HIS atau (Schakelschool) yang jenjang pendidikannya 4 tahun (bovenbouw). Untuk jenjang pendidikan 4 tahun diberi keahlian: 1) urusan rumah tangga (huishouddelijke vakken); 2) menjahit, bordir, dan menyulam (handwerken); 3) menjadi guru sekolah (Frobel-onderwijzeres). Dalam upayanya itu, Nadjamoeddin berhasil mengumpulkan sejumlah 64 siswa yang akan masuk pada kelas 3 tahun (onderbouw), kelas 4 tahun 70 siswa. Rencana Nadjamoeddin ini diuraikan dalam tulisannya secara detail dilengkapi dengan kurikulum yang akan digunakan. [19]

Keinginan untuk memajukan kaum perempuan tidak hanya dilakukan lewat pidato maupun tulisan. Nadjamoeddin telah mempraktekkan dalam keluarga dengan memberi kesempatan kepada istrinya Nyonya Hadidjah ikut serta dalam organisasi pergerakan, baik di Perserikatan Selebes maupun di Partai Selebes. Nyonya Hadidjah ikut aktif dalam menggerakkan kaum perempuan Sulawesi Selatan dengan bergabung dalam Serikat Istri Selebes yang terbentuk pada bulan April 1931 di Makassar. Dalam sebuah tulisannya, Ny. Khadidjah menyatakan sebagai berikut:

Pergerakan kaoem isteri adalah pergerakan nasional jaitoe oentoek membakti pada keboetoehan nasional, pada ra’jat dan tanah air Indoenesia. Kita perempoean jang lebih bisa merasakan kesengsaraan dan kebingoengan dan jang lebih-lebih bisa merasakan ketjintaan pada ra’jat.

Wahai para perempoean, korbankanlah perasaan-perasaanmoe djikalau itoe bertentangan dengan pekerdjaan nasional. Koebankanlah ia oentoek keperloean oemoem karena djika tidak begitoe tersia-sialah teriakan tentang ketjintaan kepada bangsa dan tanah air. Koeatkanlah barisan Sarekat Isteri Selebes soepaja dapat kita mempeladjari dan menjelidiki keadaan-keadaan yang boesoek oentoek memperbaikinja. Moedah-moedahan Iboe Indonesia memperlindoengi kita sekalian dan membri kebidjaksanaan dan ketegoehan soepaja kita bisa membakti dengan sempoerna padanja.[20]

Pernyataan diatas menunjukkan betapa Nadjamoeddin telah memberikan ruang kepada isterinya untuk ikut aktif dalam dunia pergerakan. Inilah bentuk keseriusan Nadjamoeddin dalam memajukan kaum perempuan khususnya di Sulawesi Selatan.

D. Membangun Basis Ekonomi Kerakyatan

Nadjamoeddin melihat ketika Persatuan yang ditopang oleh pendidikan yang merata telah terpenuhi, maka proses berikutnya adalah memperkuat basis ekonomi kerakyatan. Basis ekonomi menjadi penopang pergerakan untuk mencapai kemandirian bagi terbentuknya sebuah kelas middendstand sehingga menjadi sebuah bangsa yang besar dan mandiri. Dalam sebuah rapat Protest-Vergadering, Nadjamoeddin menjelaskan bahwa faktor kapital (ekonomi) menjadi penopang utama dalam sebuah negara. Demikian ia menjelaskan :

...lihatlah sadja pada Amerika Pendoedoek aseli dari Amerika itoe adalah bangsa Indian, akan tetapi bangsa Indian itu terdapat lagi di kota-kota Amerika, hanja di goenoeng-goenoeng sadja, oleh sebab bangsa-bangsa Europa jang moela-moela datang disitoe sebagai tamoe soedah mendapat tanah dan oleh kekoeatan kapitaal maka dalam peperangan economi bangsa Indian kala dan terpaksa lari pergi di goenoeng. Demikianpoen djoega keadaan di Kanada dan di Australie. Djoega keadaan demikian akan terjadi di Indonesia ini, kalau hak tanah kita diberikan pada bangsa lain, soedah tentoe djoega anak tjoetjoe kita oleh kerna kekoerangan kapitaal akan terpaksa tinggal di goenoeng dan bangsa lain jang lebih koeat economienja akan tinggal di kota-kota negeri kita. Oleh kerna itoe, soepaja keadaan demikian tidak akan terdjadi di negeri kita ini, maka soedah pada tempatnja kalau kita menolak permintaan kaoem Indo itoe.[21]

Nadjamoeddin menganggap begitu penting fungsi kapital (modal), sehingga wajib dimiliki oleh sebuah bangsa. Dengan modal yang kuat, bangsa dapat menguasai bahkan mengusir bangsa lain, begitu juga sebaliknya. Dari pendapatnya itu, wajar jika ia menganggap bahwa basis ekonomi adalah syarat wajib yang harus dipenuhi oleh sebuah bangsa yang besar. Bagi Nadjamoeddin, untuk mencapai kemerdekaan secara politik, terlebih dulu harus merdeka secara ekonomi.

1. Memajukan Pelayaran Bumiputera

Ketika aktif di PARINDRA, Nadjamoeddin diberikan kesempatan untuk merealisasikan gagasannya untuk mengembangkan perekonomian bumiputera. Nadjamoeddin memulainya dengan usahanya memajukan pelayaran bagi bumiputera yang selama ini telah dimonopoli oleh Koninklijke Paketvaart Maatschappij (K.P.M.)[22] Kebijakan monopoli KPM seperti pemberlakuan pajak yang tinggi sangat merugikan pelayaran bumiputera. Kebijakan ini tidak hanya merugikan pelayaran bumipiutera tetapi juga pengusaha kapal kecil Cina maupun.[23] Kebijakan lainnya adalah mewajibkan tiap perahu yang berlayar untuk membayar biaya wewenang tanggungan yang sebelumnya terlebih dahulu harus membayar biaya 40% dari barang-barang yang dimuat.[24] Kendati pemilik perahu telah memenuhi kewajiban dengan membayar cukup tinggi kepada K.P.M. tetap tidak ada jaminan asuransi terhadap kerusakan atau kehilangan barang selama pelayaran. Uang tanggungan akan dinyatakan hilang dan akan masuk ke kas milik pemerintah. Demikian ditulis dalam sebuat koran:

Menjaingi KPM memang bisa dijalankan, tetapi tidak bisa tahan lama, selama poebliek ataoe saudagar2 tiada bersatu hati membantoe oesaha itoe. Kedjadian jang seroepa di atas boekan sadja terdjadi disini akan tetapi dimana-mana tempat, dimana orang Mentjoba menyaingi K.P.M. tetapi kesoedahannja terpaksa toendoek dan K.P.M. mengibarkan bendera kemenangan.[25]

Menghadapi kondisi di atas, Nadjamoeddin membentuk Roekoen Pelayaran Indonesia (ROEPELIN) pada Nopember 1935. Roepelin ini memiliki tujuan sebagai berikut:

1. Akan bekerdja bersama-sama oentoek mendapat moeatan dengan oepah jang sebaik-baiknja.
2. Akan berdaja oepaja dengan djalan jang sah oentoek mendapat keringanan dari beban-beban pelajaran.
3. Akan menjiarkan pengetahoean tentang pelajaran dan jang berhoeboengan dengan itoe.
4. Akan menggiatkan nafsoe anggautanja oentoek menyimpan oeang pada perserikatan.
5. Menolong anggautanja memberi pindjaman dengan djalan jang moedah dan berarti pendidikan oentoek mentjapaikan maksoed-maksoednja jang mendatangkan faedah
.[26]

Sejak Roepelin terbentuk, pelayaran bumiputera mengalami kemajuan yang cukup. Diantaranya adalah trayek pelayaran semakin banyak dan meluas hingga besar. Kemajuan yang dicapai seperti lamanya pelayaran dan semakin meluasnya daerah yang bisa dicapai. Masa pelayaran yang dulunya hanya dilakukan pada musim angin timur (antara bulan April hingga November), maka tempo pelayaran tidak tergantung pada kondisi alam.

“…mereka adalah djoeragan La Djato dengan perahunya Toeroetjinna Kadjoeara telah berangkat dari Selebes dalam pertengahan boelan desember menoedjoe ke Borneo…”
…Djoeragan Zain dengan perahoenja Tjinna Mattola, telah mentjoba poela berangkat ke Soerabaja dalam moesim barat…
…Djoeragang Tahir dengan perahunja “Senang Hati” tiada hendak ketinggalan poela melakoekan pelajaran dimoesim barat dan sampai ketoedjoean hanja dalam tempo 25 hari…”[27]


Perubahan ke arah perbaikan pelayaran bumiputeta juga terjadi pada peningkatan kuantitas armada angkutan. Untuk jenis perahu yang memiliki kapasitas 800 hingga 1000 pikul, diperkirakan kurang dari sepuluh, menjadi lebih dari sepuluh. Jenis perahu yang berkapasitas 500 hingga 700 pikul, jumlahnya telah mencapai ratusan. Perubahan yang sangat signifikan adalah peningkatan secara drastis perahu ukuran mulai 300 pikul hingga 1000 pikul jumlahnja tidak kurang dari 1000 buah. Selain perubahan-perubahan itu, prestasi lain yang dicapai oleh Nadjamoeddin adalah bergabungnya lebih dari 200 perahu layar Bugis dan Makassar dalam organisasi Roepelin. Perahu layar ini dapat terorganisir dan terkontrol secara maksimal dibawah kendali Roepelin.

2. Merintis Pembentukan Koperasi

Selain memajukan pelayaran bumiputera, Nadjamoeddin mengembangkan basis ekonomi kerakyatan lain yaitu koperasi. Program ini telah dirintisnya ketika aktif di PARINDRA dengan membina kampung-kampung untuk dijadikan kampung keperasi. Ia membentuk 54 kampung koperasi di Surabaya, akan tetapi program ini tidak berjalan maksimal. Ketika pindah ke Makassar, Nadjamoeddin kembali menghidupkan koperasi dengan membentuk koperasi Minasa badji [28] dimana dia menjadi ketuanya. Sebagai koperasi yang baru dirintis, Minasa Badji belum memiliki modal sehingga Nadjamoeddin selaku pimpinan berusaha keras untk memperoleh bantuan dari pemerintah. Usahanya ini membuahkan hasil dan mendapat subsidi dari pemerintah sehingga koperasi ini bisa memiliki omzet sebesar f 24.000. Demikian ia menyampaikan :

“…bagimana baeknja bercooperatie itoe dan apa goenanja Bank Cooperatie, sebagai boektinja Cooperatie itoe (Koperasi Minasa badji) jang di Makassar ini mampoe memberi pindjam sebanjak lima roepiah kepada tiap2 pedagang ketjil oentoek dipake mendjadi modal soepaja bertambah madjoe peroesahannja dan semakin banjak diperoleh keoentoengan…pedagang2 di negeri Belanda sampe ada poela kaoem pendjoeal sajoer jang mendapat soebsidi…”.[29]

Dengan membentuk koperasi, diharapkan dapat meningkatkan taraf hidup dan memperbaiki dunia usaha khususnya bagi pedagang yang bermodal kecil. Pemberian modal usaha bagi pedagang kecil dinilai sangat membantu untuk tetap mempertahankan eksistensi para pedagang kecil. Selain di Makassar, Nadjamoeddin juga mempelopori pembentukan koperasi di Selayar sebagai salah satu daerah penghasil kopra terbanyak di Sulawesi Selatan.[30] Pembentukan koperasi ini sebagai solusi dari menurunnya tingkat penjualan Kopra dari selayar ke Makassar.

“…dari kapal kelihatan dengan njata bahwa poelaoe Saleier itoe penoeh dengan pohon kelapa anak negeri. Pada seorang pedagang anak negeri, jang saya tahoe banyak berdagang kopra dan lain-lain hasil anak negeri poela, jang senantiasa mengirim dengan perahoe lajar, djoega ke poelaoe Djawa, saja telah tanjakan apakah sebabnja, maka tidak ada kopra sekarang jang keloear dari poelaoe Saleier, sedang dahoeloe saja tahoe beriboe2 karoeng kopra jang dikirim ke Makassar, tidak sadja dengan perahoe, tetapipoen dengan kapal djoega…”[31]

Kuota minimal aturan yang dikeluarkan Kopra-Fonds makassar ini sulit dipenuhi pedagang kopra Selayar. Kondisi ini mengakibatkan munculnya tengkulak-tengkulak kopra. Tengkulak kopra memanfaatkan kondisi ini dengan mengambil keuntungan tinggi. Harga beli tengkulak pada petani hanya f 1,50 per 100 kg dan dijual dengan harga tinggi.[32] Mendapati kondisi seperti ini Nadjamoeddin memberi solusi dengan menyarankan membentuk sebuah koperasi.

Pada tempatnja sekali kalau anak negeri jang mempoenjai pohon kelapa itoe, mengadakan organisasi jang beroepa productie-cooperatie, soepaja dengan djalan bekerdja bersama-sama, segala kopra mereka dikoempoelkan dan didjoeal bersama-sama langsung ke kopra-fonds di Makassar, sehingga dengan djalan ini, maka soal 25 ton itoe tidak akan mendjadi halangan lagi.Dengan organisasi koperasi sebagai itoe, maka mereka akan mendapat harga jang lebih tinggi daripada sekarang dan bisa poela memperdengarkan keberatan-keberatannja pada jang berwadjib.[33]

Pembentukan koperasi ini dimaksudkan untuk meminimalkan kerugian yang dialami oleh petani kopra. Petani kopra diharapkan bisa bekerjasama untuk mengumpulkan kopranya sehingga bisa memenuhi standar minimal yang ditentukan oleh kopra-fonds Makassar. Kondisi yang sama juga didapati di Gowa, Nadjamoeddin menghidupkan kembali sebuah koperasi yang sudah tidak produktif. Koperasi yang awalnya dibnetuk oleh Daeng Boeang (seorang bangsawan Gowa) ini akhirnya dihidupkan kembali oleh Nadjamoeddin yang dinamai koperasi ”Tamalate”. [34]

Konsentrasi Nadjamoeddin dalam pembangunan basis ekonomi kerakyatan terus dilakukan hingga pasca kemerdekaan 1945. Ketika ia menjabat perdana menteri NIT dan juga sebagai menteri perekonomian, pengembangan basis ekonomi kerakyatan menjadi kebijakan penting dalam program kerjanya.

E. Mengusung Gagasan Federal Sebagai Bentuk Ketatanegaraan Indonesia

Ketika terpilih menjadi Perdana Menteri NIT yang sekaligus merangkap sebagai menteri perekonomian, dalam manifes politiknya Nadjamoeddin menyampaikan kelebihan bentuk negara federal dan beberapa hal yang berhubungan dengan tanggungjawabnya sebagai menteri perekonomian. Bentuk federal dianggapnya sebagai sebuah solusi bagi Indonesia yang terdiri dari banyak pulau. Selain itu bentuk federal juga dianggap sebagai evaluasi dan perbaikan atas bentuk ketatanegaraan yang sentralistik yang diterapkan oleh pemerintah Hindia Belanda selama ini. Jarak yang jauh antara pusat dan daerah akan memberi pengaruh yang cukup signifikan atas besarnya kekuasaan yang bisa diserahkan kepada daerah.

Keyakinan Nadjamoeddin akan segala kelebihan dari bentuk ketatanegaraan yang federatif ini begitu kuat. Menurutnya, federasi menjadi sebuah syarat mutlak untuk mewujudkan cita-cita bagi kemandirian sebuah negara. Mandiri secara politik terlebih lagi kemandirian dalam hal ekonomi untuk memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya. Hal ini disampaikannya pada bagian penutup dari manifes politiknya :

Akan tetapi sekali lagi pada penoetoep pemandangan ini, pemerintah berkehendak memberitahoekan bahwa sebagai sjarat moetlak oentoek mewoedjoedkan toedjoean dan tjita2 jang dianoetnja itoe ialah bentoek negara jang federatief. Tidak ada cara jang lain jang bisa melindoengi kita terhadap pemeliharaan jang tak sepertinja jang akibatnja memang telah lama kita alami itoe. Tak ada lain tjara lagi jang memoengkinkan kita akan meniadakan segala kekoerangan2 kita di atas berbagai-bagai lapangan, tak ada lain tjara oentoek mengembangkan soesoenan perekonomian dan keinginan2 kita jang menghendaki kehidoepan dan penghidoepan sesoeai dengan perasaan dan kebiasaan2 sendiri, tak ada poela lain tjara jang dapat mendjaga kita terhadap bahaja jang pasti akan menarik kita kedalam kekatjaoean ekonomi disoeatoe bagian, jang kita sendiri soedah mentjegahnja dengan melaloei djalan2 jang legaal. Dan oleh karena ini telah mendjadi kejakinan pemerintah jang sesoenggoehnja sangat prinsip ini akan melipoeti seloeroeh kebidjaksanaannja maka ia menaroeh kepertjajaan sepenoeh2nja bahwa didalam tindakan2nja ia akan mendapat sokongannja bahagian jang terbesar dari golongan2 bangsa di Indonesia Timoer dan daripada badan jang mewakilinja itoe. [35]


Dengan sistem federal, Indonesia yang kelak terdiri dari beberapa negara bagian akan memberikan keleluasaan bagi negara-negara bagian untuk mengembangkan daerahnya masing-masing sesuai dengan kebutuhannya. Hal ini akan menunjang percepatan pembangunan di masing-masing negara bagian. Terkait dengan kedudukannya sebagai menteri perekonomian, Nadjamoeddin pernah mengusulkan mengusulkan pembentukan atau pengadaan suatu dana pembangunan yang secara khusus untuk meningkatkan perdagangan dan perkapalan dengan modal 5 juta gulden. [36] Hal ini dilakukan untuk memajukan usaha pelayaran masyarakat pribumi yang telah dirintisnya ketika membentuk ROEPELIN.

Usaha yang pernah dirintis Najamuddin daeng Malewa pada tahun 1930-an untuk memajukan pelayaran pribumi, setidaknya telah kelihatan hasilnya sekitar tahun 1947. Pemerintah Hindia Belanda akhirnya membentuk sebuah otorita pemilik kapal bersama. Mula-mula dibentuk Maskapai Kapal Sulawesi Selatan (MKSS) yang kemudian berubah nama menjadi Perusahaan Pelayaran Sulawesi Selatan (PPSS) dan Pelayaran Rakyat Indonesia (PERINDO) di Manado Sulawesi Utara.
Menurutnya, dalam memajukan pembangunan politik, tidak bisa tidak harus didahului dengan pembangunan bidang ekonomi yang kokoh. Cita-citanya adalah menempatkan bangsa Indonesia pada posisi yang layak dalam pembangunan ekonomi. Sehingga apa yang menjadi tujuan jangka panjangnya untuk mewujudkan suatu kelas menengah (middenstand) dapat tercapai. Pandangan-pandangan Najamuddin daeng Malewa dalam memajukan pembangunan di bidang ekonomi dapat ditelaah dari cuplikan pidatonya berikut ini:

…Kewadjiban kita ialah mengoeatkan dan mendjahterakan Negara Indonesia Timoer. Tujuan kita ialah menaikkan tingkat kemadjoean dan kema’moeran dari ra’yat banyak. Toedjoean kita ialah menghapoeskan keadaan yang tidak sama terhadap lain-lain Negara agar soepaya kita tidak sadja mendjadi parter yang sama harga menoeroet hoekoem tetapi djoega yang sama harga didalam hal ekonomis, financieel dan culkturee. [37]

F. Penutup

Pada dasarnya gagasan kebangsaan Nadjamoeddin di Sulawesi Selatan dapat disederhanakan menjadi tiga pokok pikiran utama. Pertama, Persatuan. Yang dimaksud persatuan adalah hilangnya batas-batas kesukuan diantara bangsa-bangsa di Indonesia yang kemudian dilembagakan dalam sebuah organisasi atau partai politik. Inilah yang menurut Nadjamoeddin dianggap sebagai dasar dari identitas kebangsaan. Kedua, Pendidikan. Memajukan pendidikan bagi bumiputera menjadi hal yang sangat penting karena menjadi gerbang utama dalam membuka wawasan untuk mencapai kemajuan yang lebih baik. Sehingga masyarakat dapat menjadi peka terhadap segala perubahan yang terjadi disekitarnya. Ketiga, Basis ekonomi. Ekonomi menjadi bagian vital bagi sebuah bangsa agar mampu menjadi bangsa yang kuat dan mandiri sehingga bisa berdiri sejajar dengan bangsa lain.

Makalah ini disampaikan pada Konferensi Nasional Sejarah (KNS) ke-9, 5-7 Juli 2011 di Jakarta.
*Dosen Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Makassar.


FOTE NOTE

1 Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926, Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1997, hlm 35-36.
2 T.B. Bottomore, Elite dan Masyarakat, Jakarta: Akbar Tandjung Institute, 2006. Bandingkan dengan Heather Sutherland Terbentuknya Sebuah Elite Birokrasi, Jakarta: Sinar harapan, 1983.
3 Menurut Hans Kohn nasionalisme adalah suatu paham yang berpendapat bahwa kesetiaan tertinggi individu harus diserahkan kepada negara kebangsaan. Perasaan sangat mendalam akan adanya suatu ikatan yang erat dengan tanah tumpah darahnya, dengan tradisi-tradisi setempat, dan pada penguasa-penguasa resmi di daerahnya selalu ada disepanjang sejarah dengan kekuatan yang berbeda-beda, lihat Hans Kohn, Nasionalisme Arti dan Sejarahnya, Jakarta: Erlangga, 1984., hlm. 11. Lebih lanjut lagi, E. J. Hobsbawm berpendapat bahwa antara tahun 1870-1918 adalah masa transformasi nasionalisme, sedangkan puncak nasionalisme terjadi pada kurun waktu 1918-1950, Lihat E. J. Hobsbawm, Nasionalisme Menjelang Abad XXI, Jogjakarta: Tiara Wacana, 1992.
4 Hans Kohn, Nasionalisme Arti dan Sejarahnya, Jakarta: Erlangga, 1984., hlm. 11. Bandingkan dengan E. J. Hobsbawm, Nasionalisme Menjelang Abad XXI, Jogjakarta: Tiara Wacana, 1992 
5 Perdjoeangan Kebangsaan, Suara Perdamaian, No.1 Maret 1931,tahun I.
6 Menurut data sensus tahun 1930, ±80% penduduk Sulawesi selatan buta huruf dan berbanding terbalik dengan penduduk Sulawesi Utara dan Ambon. Ketua umum Padoman Besar D. Th. N. Lengkong berasal dari Manado. Lihat, Chaniago, Menuju Negara kesatuan
Republik Indonesia: Peranan Pemimpin Lokal Dalam Dinamika Politik di Sulawesi selatan dan Sumatra Timur 1950, Disertasi UGM 2002, hlm.128-129
7 Barisan Kita, No. 7, September 1931.
8 Barisan Kita, No. 7, September 1931, Tahoen I, hlm. 1
9 Barisan Kita, No.2, 30 januari 1932.
10 Barbara Sillars Harvey, Pemberontakan Kahar Muzakkar Dari Tradisi Ke DI/TII, Jakarta: Grafiti Pers, hlm. 80; Drs. Sarita Pawiloy dkk., Sejarah Perjuangan Angkatan 45 di Sulawesi Selatan (17 Agustus 1945 - 17 Agustus 1950), Ujungpandang: Dewan Harian Daerah (DHD) Angkatan 45 Provinsi Sulawesi Selatan, 1987, hlm. 49.
11 Persatuan Selebes Selatan Keterangan Azas, Pemberita Makassar, 25 Juli 1939, Nomor 166, Tahun XXXVII, Lembar Kedua.
12 Lihat, Suara Perdamaian, Nomor 2, Juli 1930 Tahun I, hlm 1.
13 Barisan Kita, Nomor 2, Pebruari 1931 tahun I, hlm. 4.
14 L. Mars, “Pergoeroean Kebangsaan”, Barisan Kita No. 5,6 Juli- Agustus 1931 Tahun I, hlm.3.
15 Materi yang diajarkan Nadjamoeddin pada perguruan ini kebanyakan tentang sejarah Eropa. Pengetahuannya tentang sejarah dan pergerakan di Barat cukup luas dibuktikan dengan beberapa tulisan-tulisannya seperti: Philippina Merdeka, Barisan Kita, Nomor 5 s/d 7, Maret s/d Mei 1932, Tahun II, hlm. 1., Fascisme di Italie dan Nationale-Socialisme di Djerman, Soeara Parindra, Mei 1936, Tahun I, hlm. 7-9., Politiek, Barisan Kita, Nomor 3-4, 15 dan 29 Pebruari 1932, Tahun II, hlm. 1.,
16 Sunardjo adalah salah seorang advokat di Makassar dan juga aktif pada organisasi pergerakan di Sulawesi Selatan, Soelawesi, 22 September 1934, Nomor 25, Tahun I, hlm. 1.
17 “Boeton Bangoen dari Tidoernja”, Barisan Kita, Nomor 5-6, Juli-Agustus 1931 tahun I, hlm. 4
18 Kekosongan kas perguruan disebabkan adanya masalah interen PPRS. Komisi verifikasi independent dibentuk untuk memeriksa bendahara Salawati daud (Halida Djoenaid) yang saat itu mengatakan bahwa buku kasnya hilang. Hasil pemeriksaan komisi verifikasi keuangan perguruaan PPRS dimuat secara lengkap dalam Barisan Kita Nomor 5,6,7 bulan Maret, April, dan Mei 1932 Tahun II Halaman 2, 3.
19 Nadjamoeddin, “Daeng Talele School”, Pemberita Makassar, Hari Sabtu 10 Pebruari 1940, Tahun ke XXXVIII, Nomor 34 , lembar kedua.
20 Hadidjah Nadjamoeddin, Taman Keputrian, Barisan Kita, No.3-4, 15 dan 29 Pebruari 1932, Tahun II, hlm. 2.
21 Barisan Kita, Nomor 2, 30 Januari 1932 tahun II.
22 K.P.M. adalah perusahaan swasta milik Belanda yang melayani jasa pelayaran antar pulau, lihat. H.W. Dick, Industri Pelayaran Indonesia Kompetisi dan Regulasi., (Jakarta: Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial LP3ES, 1990).
23 Armada pelayaran pengusaha Cina dijuluki armada semut.
24 H. W. Dick. Industri Pelayaran Indonesia Kompetisi dan Regulasi Op.cit., hlm. 18-22.
25 “Tjara K.P.M. Mengalahkan Saingannja”, Soelawesi, Sabtu 15 Desember 1934, Nomor 44,Tahun I, hlm. 1
26 Soeara Parindra, Nomor 1, Januari 1936, hlm. 19-20.
27 “Roch Pelajaran di Soelawesi Selatan”, Soelawesi, Nomor 3, 21 April 1934 Tahun I, hlm 4.
28 Minasa Badji dalam bahasa Makassar berarti adalah sebuah perharapan tentang sesuatu supaya hasilnya baik.
29 Pemberita Makassar, Kamis 7 desember 1939, Nomor 256, Lembar kedua.
30 Data tentang perdagangan kopra di Sulawesi selatan dapat dilihat pada majalah, Handels Vereeniging “Makassar” Jaar Verslag over 1929-1930, Celebes: Drukkerig Makassar; Rasyid Asba, Kopra makassar Perebutan Pusat dan Daerah Kajian Sejarah Politik Ekonomi Regional di Indonesia, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2007.
31 Nadjamoeddin Daeng Malewa, “Sepandjang Pesisir Selebes-Selatan”, Pemberita Makassar, Selasa 4 Pebruari 1941, Nomor 26 Lembar kedua.
32 Harga tersebut sangat rendah jika dibandingkan harga di Batavia yang berkisar dari f 2,80 sampai f 3,25 per 100 kg. harga yang f 1,50 itu belum termasuk upah buruh. Sehingga petani hanya memperoleh harga netto f 0,70. Aturan kouta minimal yang dikeluarkan Kopra-Fonds Makassar, berbeda dengan di Batavia. Di Batavia tidak ada aturan minimal penjualan harus 25 ton, sehingga pemilik kopra bisa menjual kopranya meskipun hanya satu karun, ibid.
33 Nadjamoeddin Daeng Malewa, “Sepandjang Pesisir Selebes-Selatan”, Pemberita Makassar, Rebo, 5 Pebruari 1941, Nomor 26, Tahun ke XXXIX, Lembar kedua.
34 Nadjamoeddin Daeng Malewa, “Sepandjang Pesisir Selebes-Selatan”, Pemberita Makassar, Senin, 17 maret 1941, Nomor 60, Tahun ke XXXIX, Lembar kedua.
35 Manifes Politik Nadjamoeddin, Negara Baroe 24 April 1947.
36Lihat Ide Anak Agung Gde AGung, Dari Negara Indonesia Timur Ke Republik Indonesia Serikat., op.cit, hlm.85-87.
37Pidato ini disampaikan oleh Nadjamuddin daeng Malewa dihadapan parlemen NIT. Secara lengkap, naskah pidato ini dimuat pada koran harian Negara Baroe Harian Oentoek Negara Indonesia Timoer, tanggal 24 April 1947.


DAFTAR PUSTAKA

A. Buku

- Chaniago, Menuju Negara kesatuan Republik Indonesia: Peranan Pemimpin Lokal Dalam Dinamika Politik di Sulawesi selatan dan Sumatra Timur 1950, Disertasi UGM 2002.
- Dick, H.W., Industri Pelayaran Indonesia Kompetisi dan Regulasi., (Jakarta: Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial LP3ES, 1990).
- Harvey, Barbara Sillars, Pemberontakan Kahar Muzakkar Dari Tradisi Ke DI/TII, Jakarta: Grafiti Pers, 1989.
- Hobsbawm, E. J., Nasionalisme Menjelang Abad XXI, Jogjakarta: Tiara Wacana, 1992.
- Ide Anak Agung Gde AGung, Dari Negara Indonesia Timur Ke Republik Indonesia Serikat, Jogjakarta: Gadjah Mada University Press, 1985.
- Kohn, Hans., Nasionalisme Arti dan Sejarahnya, Jakarta: Erlangga, 1984
- Rasyid Asba, Kopra makassar Perebutan Pusat dan Daerah Kajian Sejarah Politik Ekonomi Regional di Indonesia, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2007.
- Sarita Pawiloy dkk., Sejarah Perjuangan Angkatan 45 di Sulawesi Selatan (17 Agustus 1945 - 17 Agustus 1950), Ujungpandang: Dewan Harian Daerah (DHD) Angkatan 45 Provinsi Sulawesi Selatan, 1987.
- Shiraishi, Takashi., Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926, Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1997, h
- Bottomore, Elite dan Masyarakat, Jakarta: Akbar Tandjung Institute, 2006.
- Sutherland, Heather Terbentuknya Sebuah Elite Birokrasi, Jakarta: Sinar harapan, 1983

B. Koran, Majalah dan Arsip

- “Djawaban Pemerintah terhadap Pemandangan Oemoem dari Anggota-Anggota
- Parlemen, Pidato P.J.M. Nadjamoeddin dg. Malewa-Perdana Menteri”, Nomor Reg. 8 (Kantor Arsip pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, Makassar).
- Barisan Kita: No. 2, Pebruari 1931 tahun I; No. 7, September 1931, Tahoen I; Nomor.2, 30 Januari 1932 tahun II; Nomor 5, Maret 1932, Tahun II; Nomor 6, April 1932, Tahun II; Nomor 7, Mei 1932, Tahun II.
- Negara Baroe, tanggal 24 April 1947.
- Pemberita Makassar, Kamis 7 desember 1939, Nomor 256, Lembar kedua.
- Soeara Parindra: Nomor I, Januari 1936, Tahun I; Nomor I, Mei 1936, Tahun I
- Soelawesi, Nomor 25, 22 September 1934, Tahun I
- Suara Perdamaian, Nomor 2, Juli 1930 Tahun I.
- “Boeton Bangoen dari Tidoernja” dalam Barisan Kita, Nomor 5-6, Juli-Agustus 1931 tahun I
- “Perdjoeangan Kebangsaan”, Suara Perdamaian, No.1 Maret 1931,tahun I.
- Hadidja Nadjamoeddin, “Taman Keputrian”, Barisan Kita, No.3-4, 15 dan 29 Pebruari 1932, Tahun II
- Handels Vereeniging “Makassar” Jaar Verslag over 1929-1930, Celebes: Drukkerig Makassar
- L. Mars, ”Pergoeroean Kebangsaan”, Barisan Kita No. 5,6 Juli- Agustus 1931 Tahun I
- Nadjamoeddin daeng Malewa, Manifes Politik, Negara Baroe, 24 April 1947.
- Nadjamoeddin Daeng Malewa, “Sepandjang Pesisir Selebes-Selatan”, Pemberita Makassar, Selasa 4 Pebruari 1941, Nomor 26 Lembar kedua.
- Nadjamoeddin Daeng Malewa, “Sepandjang Pesisir Selebes-Selatan”, Pemberita Makassar, Rebo, 5 Pebruari 1941, Nomor 26, Tahun ke XXXIX, Lembar kedua.
- Nadjamoeddin Daeng Malewa, “Sepandjang Pesisir Selebes-Selatan”, Pemberita Makassar, Senin, 17 maret 1941, Nomor 60, Tahun ke XXXIX, Lembar kedua.
- Nadjamoeddin Daeng malewa “Daeng Talele School”, Pemberita Makassar, Hari Sabtu 10 Pebruari 1940, Tahun ke XXXVIII, Nomor 34 , lembar kedua.
- “Tjara K.P.M. Mengalahkan Saingannja”, Soelawesi, Sabtu 15 Desember 1934, Nomor 44,Tahun I
- “Persatuan Selebes Selatan Keterangan Azas”, Pemberita Makassar, 25 Juli 1939, Nomor 166, Tahun XXXVII, Lembar Kedua.
- ”Politiek”, Barisan Kita, Nomor 3-4, 15 dan 29 Pebruari 1932, Tahun II
- “Roch Pelajaran di Soelawesi Selatan”, Soelawesi, Nomor 3, 21 April 1934 Tahun I,



Sumber Tulisan dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata , Konferensi Nasional Sejarah IX , Hotel Bidakara Jakarta, 5 – 7 Juli 2011.

--

1 komentar:

Hendro said...

Nadjamoeddin Daeng Malewa itu adalah kakek sy. Dia adalah bapaknya ibu sy.

Post a Comment