12 Des 2010

* Menelisik Prasasti Kerajaan Sambaliung Berau hubungannya dengan Bugis Makassar

Di keraton Sambaliung yang juga merupakan peninggalan Kerajaan Sambaliung terdapat situs peninggalan Kerajaan yang terbuat dari kayu. Keadaan situs/prasasti peninggalan kerajaan Sambaliung tersebut sudah mulai lapuk termakan usia sehingga perlu mendapat perhatian sebagai upaya penyelamatan maupun menyebarluaskan arti serta pesan yang dituliskan kepada seluruh masyarakat.

KERATON SAMBALIUNG



Penyelamatan situs dalam rangka mengingatkan generasi muda bahwa kerajaan mempunyai norma-norma dan tata tertib tentang etika pergaulan, pernah ada di Kabupaten Berau. Agar dapat dipahami dan sekaligus sebagai paya penyelamatan situs tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Upaya menerjemahkan situs dilaksanakan bekerja sama dngan Balai Penelitian Arkeologi Banjarmasin yang pelaksanaannya dilakukan pada blan September 2003. Sebagai upaya untuk mendokumentasikan dan pengamanan situs/prasasti maka dibuatkan rumah pelindung yang ditempatkan di halaman Keraton Sambaliung dan terjemahannya dibukukan secara khusus.

Hasil terjemahan Tugu 1
Prasasti berhuruf arab dan melayu

“Pasal jika sultan jika ada duduk dimuka lawang atau dimuka lawang sakapi maka siapa siapa mau melewati maka itu orang duduk dulu tidak boleh terus melewati”

Penjelasan :
Prasasti tersebut menunjukkan adanya suatu pasal tentang tata karma orang yang lewat didepan istana sambaliung, terutama saat raja berada didepan pintu istana, maka apa bila ada seseorang yang akan lewat depan istana tersebut terlebih dahulu harus duduk sebentar (sebagai tanda hormat kepada raja)baru melanjutkan perjalanan.

Hasil terjemahan Tugu II
Prasasti berhuruf lontaran Bugis

Naraekko engkai sulu tangnge ri yolo na bolana babang sakkepe ngnge ngi-nigi meloq ilalo tudakko yoloq nappako ilalo deq na wedding matteruq-teruq ilalo yatteyangngi rita ale temmappa ddupa ri yolo na bola massuq iyareqqa? Marola ki adeq e
Deq nawedding mangkagagangeng ki lalenna babang sakkepengnge engkamana bi appangngewangeng

Yappesangkang toi mencawa-cawa makkitra ki bolae nakko e ngka tau yatte yangngi ttudang ki lalengnge ri yolona bolae ki wi rinna wdding mua ttudang.


Deq na wedding makkita ki bolona sulutangnge nakko deq sabaqna pakkita madeceng


Ajaq mulunnangi yareqqamuipolo o lona makku nraiye ki tengngana lalengnge mo ata muita iko boranewe lesseko ceddeq nawedditto noqkiq tappeyngnge nakko enka marainang ko engka makkunrai rita noq pole ki bolae ta, kiq yoloq borane ki lalengnge ajaq na tomatteruq mappolo nakko labeqni makkunrayye nappani borane mopa.


Nigi-nigi tau tau teppegauq iyareqna nayi tayae yinatu tau mpelaiwi atturengnge gangka nattue petta sulutangnge. La mappatangka sambaliyung



Terjemahan :

Apabila Sultan berada di depan pintu gapura, maka barang siapa yang lewat harus duduk dahulu kemudian mneruskan langkahnya. Tidak boleh terus berjalan sebelum Sultan memperlihatkan diri ketika Sultan sedang berada di luar. Demikian aturan adat.
Tidak boleh bereleisih di dalam wilayah istana meskipun ada perkara yang dipertentangkan.
Tidak diperkenankan ketawa-ketawa saat memandang ke istana. Dilarang pula orang duduk di jalanan istana, tetapi di samping istana diperbolehkan duduk.
Tidak boleh melihat-lihat ke istana Sultan apabila tidak ada hal yang sebaiknya dilihat.
Jangan menutup atau memotong arah jalan perempuan di tengah jalan meskipun di pandangmu adalah seorang budak kalian para lelaki menepilah sedikit, jika perlu turunlah dari jalanan. Apabila ada perempuan bersama dengan ibunya yang kamu lihat yan g turun dari rumah. (menuju jalanan), maka laki-laki berhenti dahulu dan jangan langsung memotong arah jalannya.
Barang siapa saja tidak melaksanakan atau mengabaikan maka ia meninggalkan peraturan yang ditetapkan oleh petta sultan. La mappata (ng) ke Sambaliyung.


RUMAH PELINDUNG SITUS 2 (DUA) BUAH PRASASTI KERATON SAMBALIUNG

Situs yang terdiri atas dua buah prasasti yang bertuliskan huruf Arab Melayu dan huruf Bugis merupakan peninggalan sejarah yang perlu dilindungi karena di dalamnya terkandung beberapa aturan, etika, dan tata cara menghormati perempuan serta penghormatan terhadap keraton yang merupakan tempat tinggal raja.



Untuk menghindari dari serangan jamur bakteri yang mengakibatkan kerapuhan kedua prasasti tersebut, maka pemerintah kabupaten Berau melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan membuat “Rumah Pelindung Situs” beserta terjemahannya yang disalin di batu marmer dan dibuatkan duplikatnya.

Dengan terlindunginya situs tersebut dalam rumah pelindung diharapkan masih mampu bertahan dalam waktu lama sebagai bukti peninggalan sejarah yang tak ternilai sekaligs bisa dijadikan sumber informasi bagi pihak yang memerlukannya.

Sumber :
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Berau
http://www.disbudpar-berau.net/

0 komentar:

Poskan Komentar