Dec 7, 2010

* Menelisik tahapan pembangunan Benteng Somba Opu

Mariki di'..........
" SAVE BENTENG SOMBA OPU"






Lontara’ Gowa dan Tallo merupakan naskah yang memuat dokumentasi perihal bangunan pertahanan terbuat dari tanah, batu bata dan batu-batuan yang dibangun di antara masa pemerintahan Somba Gowa Karaeng Tumapa’risi Kallona ( 1511-1547 ) dan Sultan Hasanuddin ( 1653-1669 ). Berkat adanya penggalian di Somba Opu dalam kaitan dengan miniatur Sulawesi Selatan, Somba Opu merupakan benteng pertahanan yang paling baik di dokumentasikan dari kesembilan benteng Makassar yang sejauh ini telah dipelajari. Sejumlah 1300 bata dari benteng Somba Opu telah diukur, dan dibagi dalam tiga kelas yakni :

- Bata besar, sedikitnya 35cm panjangnya;
- Bata yang kecil, kurang dari 35cm panjangnya; dan
- Bata Pattukangan yang lebih besar yang lebih lebar dan tebal daripada bata yang berukuran kecil.

Bata Pattukangan ini biasanya hanya ditemukan di dinding Pattukangan dan dinding kedua Barombong utara yang dibangun oleh kepala kewedanan Gowa, pada tahun 1661 dan 1662.Penelitian silang yang dilakukan pada sisa-sisa dinding benteng menunjukkan adanya lima (5) variasi dalam sistem kontruksi bangunan. Selain itu, adanya penambahan bahan bangunan pada dua lokasi :

- Pintu masuk utama sebelah barat ; dan
- Di sepanjang bagian depan Benteng Tallo’ dengan sumber batuan yang tidak diketahui asalnya.

Tidak diperoleh bukti tentang cetakan-cetakan keramik untuk membentuk batu bata yang pernah ditemukan. Bahkan beberapa batu bata memiliki desain dan ciri-ciri lain yang menunjukkan bahwa bagian atas dari batu bata terdedah saat tanah liatnya masih basah. Kemungkinan batu bata dibentuk di atas sebuah papan kayu, dengan ujung-ujungnya yang dibentuk dalam cetakan kayu, atau dengan papan-papan kayu yang diletakkan tegak lurus di atas garis-garis batas yang digambarkan pada papan kayu dibawahnya. Hal ini dapat menjelaskan keberadaan ketiga kelas batu bata tersebut yang bervariasi.

Berdasarkan asumsi logis tentag evolusi yang terjadi dalam teknologi pembuatan benteng pertahanan di Makassar, dan dikombinasikan dengan catatan-catatan teks yang ada, data arkeologi itu menunjukkan adanya sejarah pembangunan kontruksi bangunan adalah sebagai berikut :

1. Dengan menerapkan teknologi berupa gundukan tanah pada kedua sisi dari satu baris batu bata berukuran besar, Karaeng Tunipalangga memperkuat tembok-tembok batu yang sudah ada sebelumnya di Kale Gowa dan Somba Opu dan membentuk benteng pertahahan kecil yang disebut Ana’ Gowa.

2. Enam puluh (60) tahun kemudian Sultan Tallo yakni Abdullah Awalul Islam, meresmikan penggunaan teknologi dari dua garis sejajar batu bata berukuran kecil ketika beliau membangun Tallo’.

3. Pada saat yang sama Somba Gowa yakni Sultan Alauddin menerapkan teknologi ini pada Kale Gowa yang menghasilkan adanya garis sejajar batu bata pada bagian-bagian dinding yang semula diperkuat oleh Karaeng Tunipalangga,

4. Segera setelah itu dibangunlah kedua bagian yang lain dari dinding-dinding istana dengan dua baris batu bata yang diisi tanah dibagian tengahnya, yakni dikenal dengan nama Sanrabone, dan dinding di bagian barat di Somba Opu.

5. Pada tahun 1631 sampai dengan 1632 istana Maccini’dangang di Somba Opu dibangun, yang menggunakan tembok bata yang padat sepanjang bagian timur dan selatan Somba Opu dan pada tahun 1634 dibangun tambahan untuk bagian dalam tembok bata yang padat sepanjang dinding bagian barat.

6. Pada tahun 1634 Sultan Abdullah membangun sebuah dinding pertahanan sepanjang pantai dari Ujung Tana’ ke Somba Opu, di Barombong dan kemungkinan ddari Somba Opu ke Pa’na’kukang.

7. Setelah penghancuran Pa’na’kukang dan pertahanan disekitarnya oleh Belanda pada tahun 1660, Sultan Hasanudddin membangun kembali benteng-benteng pertahanan ini dengan model yang baru termasuk konstruksi sebuah dinding bata di pantai Pa’na’kukang dan Barombong, dan memperbaiki di dinding pantai utara dari Somba Opu.


Benteng-benteng Makassar tidak hanya sekedar merupakan struktur-struktur pertahanan, tetapi juga mengandung makna hubungan sosial.Kedua pusat istana dan terutama benteng-benteng pertahanan di pantai, dibangun sedemikian rupa untuk dapat sekaligus melibatkan beberapa makam yang sudah ada pada bagian-bagian sudut benteng tertentu.Hal ini mencerminkan maksud tujuan para insinyur untuk menyerap kekuasaan nenek moyang sebagai perlindungan bagi dinding-dinding benteng pertahanan itu. Pusat dari benteng juga dianggap sebagai pusat dari kekuatan spiritual, sebagaimana ditunjukkan oleh adanya sepasang makam raja dan dan istana raja di tengah-tengah benteng di Kale’ Gowa dan Sanrabone.

Somba Opu nampaknya berbeda karena memiliki sudut-sudut dan pusat, yang kemungkinan mencerminkan keyakinan yang lebih besar pada penggunaan teknologi pada pembuatan benteng dari pada penggunaan pembangunan dengan kekuatan spiritual.


Tulisan ini di adopsi dari
Tulisan David Bulbeck , Konstruksi sejarah dan arti dari benteng Makassar.


Sumber Gambar :
- kaskusnews.us
- mycoratcoretz.blogspot.com


Editor tulisan oleh Tim Passompe Blogspot

1 komentar:

Ten Mild said...

terima kasih infonya....
sangat menarik dan bermamfaat....
mantap....

Post a Comment