Apr 19, 2011

* AWARANINGENG MASAGALA (BERANI ITU INDAH)

Oleh Renaldi Maulana

Berawal dari tag note dari teman-teman facebooker membuat "kecemburuan" dan kemauan kuat saya untuk menulis sudah pada stadium akhir, dengan berbekal secuil KEBERANIAN akhirnya saya beranikan diri untuk menyentuh tuts dengan lincahnya (pada saat jam kerja) sehingga terciptalah catatan kecil saya ini, meskipun catatannya sana-sini masih amburadul dan tidak karuan tapi semangat untuk menulis akhirnya terlaksana juga. Terus terang sudah lama terpendam dalam diri untuk mencoba menulis sebuah catatan, artikel, buku atau semacamnya. Bukannya tanpa alasan, karena menurut saya menulis adalah sebuah hobby terkeren yang pernah ada, selain itu menurut sebuah penelitian mengemukakan bahwa, menulis bisa menghilangkan stress serta memperpanjang umur (mudah-mudahan efeknya kelihatan heheeehehe..)


Yah, berawal dari secuil KEBERANIAN. Keberanian memang seharusnya ada pada diri manusia, tanpa keberanian seseorang tak akan pernah tahu bagaimana menjalani dan merasakan suatu proses. Kata BERANI itu sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti mempunyai hati yang mantap dan rasa percaya diri yang besar dalam menghadapi bahaya, kesulitan, dsb; tidak takut (gentar, kecut). Hmmmm... dari pengertian itu bisa disimpulkan bahwa selama ini saya berkutat dengan kesulitan untuk menulis karena merasa takut salah atau tidak yakin akan diri sendiri serta merasa tidak percaya diri.


Kata BERANI sendiri dalam bahasa Bugis disebut WARANI/MATERRU, dalam bahasa Makassar disebut REWA, dalam bahasa Mandar dan Toraya disebut BARANI. Tak jarang WARANI sering disematkan kepada personal manusia BMMT (Bugis, Makassar, Mandar Toraya), hal itu terlihat dari watak manusia BMMT sebagai risktaker di manapun meraka berada, tak ketinggalan pula dalam berbagai literatur dan lontrak Bugis seringkali disinggung WARANI sebagai perwujudan dari manusia BMMT.


Sebuah pepatah Bugis mengatakan LEBBI’I CAU-CAURENGNGE NA PELLORENGNGE yang berarti lebih baik sering kalah dariapada penakut, pepatah tersebut menyiratkan bahwa bagaimana pun seorang yang SERING KALAH dalam perjuangan hidup pada dasarnya masih memiliki semangat juang meskipun lemah, karena ia masih mencoba meskipun berluang-ulang mengalami kegagalan. Tetapi seorang PENAKUT sama sekali tidak berani menghadapi tantangan hidup dan tantangan orang lain. Senada dengan pepatah tesebut salah satu tokoh sejarah terkenal sekaligus cendikiawan Bugis ARUNG BILA LAWANIAGA pernah berpesan bahwa :

Agguruiwi gau’na tau waranié énrengngé ampena. Apa iya gauna towaranié seppuloi uwangénna naséuwai mua ja’na, jajini aséra décénna. Nasaba’ iyanaro nariaseng ja’na séddié malomoi naola amaténgeng. Naékiya mau tau péllorengnge matémuto apa’ déssa temmaténa sininna makkényawaé.


Naiya décenna aséraé :


a. Tettakini napoléi karéba maja’ karéba madeceng .
b. De’najampangiwi kareba naengkalingaé, naikiya napasilaongngi sennang ati pikkiri’ madeceng.
c. Temmétauni ripariolo.
d. Temmétauni riparimunri.
e. Tettéyani mita bali
f. Rialai passappo ri wanuaé.
g. Matinuli’i pajaji passurong.
h. Rialai paddebbang tomawatang.
i. Masiri’ toi riyasiri toi ripadanna tau.


artinya :
Pelajarilah tingkah laku pemberani. Sebab tingkah laku pemberani ada sepuluh macam tetapi cuma satu keburukannya, jadi sembilan kebaikannya. Sebab dikatakan satu keburukannya karma gampang menghadapi maut. Namun demikian penakut pun takkan luput dari maut, sebab tak terelakkan kematian bagi setip yang bernyawa.

Kebaikan yang sembilan itu antara lain :

a. Tak terkejut mendengar kabar buruk maupun kabar baik.
b. Tak mengacuhkan kabar yang didengar, tetapi di iringi dengan ketenangan serta pikiran sehat.
c. Tidak takut didepankan
d. Tidak takut dibelakangkan
e. Tidak takut melihat musuh
f. Dijadikan perisai oleh Negara.
g. Tekun melaksanakan kewajiban.
h. Menjadi pembela terhadap orang yang berlaku sewenang-wenang
i. Menyegani, serta disegani pula oleh sesamanya manusia.


Pesan dan pepatah tersebut di atas seyogianya bisa diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, mengingat pola pikir masyarakat kita (BMMT) kini sudah tergerus oleh zaman akibat tidak adanya "penyaringan" dalam hal penerimaan budaya luar yang begitu kuat, hal itu diperparah oleh sebagian "pendidik" yang acuh tak acuh atau kurangnya pemahaman terhadap kearifan budaya sendiri sehingga proses transformasi kepada generasi penerus seolah-olah terputus.



Akibat kurangnya transformasi tersebut mau tidak mau generasi kini berusaha mencari pelarian untuk bisa dijadikan sebagai acuan akan pencarian jati dirinya. Makanya tak heran tindakan anarkis, pengrusakan, dan gejolak jiwa yang berlebihan pun tak terhindarkan. Roh dari filosofi WARANI pun hilang yang tinggal hanyalah WARANI ARIANGING (Keberaniannya bak angin yang tak menentu arahnya, kosong, tak ada tujuan). Hal tersebut senada dengan pepatah Bugis yang mengatakan MATEMUWA MAPATA'E MATEPI DUA TELLU MASSOLA-SOLLAE yang artinya mati jua yang tenang setelah mati dua atau tiga yang nekad (keberanian kosong/tak berdasar). Olehnya itu marilah secara sadar dan bersama-sama untuk senantiasa menjaga KEBERANIAN kita agar tetap selalu terjaga dan berada pada koridor yang benar, sehingga segala tindakan yang akan diperbuat bermanfaat bagi sendiri serta orang lain dan lingkungan sekitarnya

1 komentar:

DiagnoVeritas said...

Mantap tulisan nya dinda.

TuahBugis

Post a Comment