Apr 14, 2011

* Laiyolo, riwayatmu nanti ?

Oleh Jimey Rahmawati

Khasanah bahasa dan budaya nusantara di negeri kita sangat beragam. Sungguh elok nian ketika kita mengkaji satu persatu dari keberagamn yang dimiliki. Betapa kita merugi ketika suatu budaya ataupun bahasa harus musnah di muka bumi sebelum sempat diketahui ikhwal keberadaannya.

Adalah salah satu bahasa yang terdapat di Pulau Selayar, Sulawesi Selatan, yakni bahasa Laiyolo yang jarang dilirik oleh linguis lokal (hanya linguis Asing yang sempat turut membandingkan bahasa Laiyolo dengan bahasa di sekitarnya, namun tidak dibahas secara mendalam). Mari sejenak kita tengok peta Pulau Selayar! Bahasa Laiyolo dituturkan di Kecamatan Bontosikuyu, Desa Laiyolo. Mungkin, hanya segelintir dari kita yang mengenal bahasa Laiyolo (orang Sulawesi Selatan sekalipun). Tidak mengherankan, karena penutur bahasa ini memang para orang tua yang telah lanjut usia (40 tahun ke atas). Penelitan SIL (2006) menyatakan bahwa bahasa Laiyolo hanya dituturkan oleh 250 orang. Bahkan, hasil survey terakhir saya pada salah satu kantor pemerintahan di Kabupaten Selayar (Mei, 2010) menyiratkan bahwa bahasa ini sedang mengalami proses kematian (language death).

Bagaimana tidak? jumlah penutur hanya bersisa kurang lebih 10 orang dan mereka pun telah tua dan renta. Hmmm.. ironis sekali. Lalu, kemana generasi pewaris tuturan Laiyolo tersebut?? Oh, rupanya, meraka membaur dalam tuturan bahasa yang lebih dominan dan presticious di wilayahnya, yakni bahasa Selayar dan Makassar.

Sungguh tak dapat dinafikkan, anak muda lah yang seharusnya jadi pemegang tongkat estafet dalam pewarisan bahasa ibu mereka. Namun, mereka pun terjerat dalam lingkungan dimana mereka tidak terlatih untuk memproduksi bahasa tersebut. Misalnya, anak muda saat ini (di Laiyolo, red) menggunakan bahasa Indonesa di sekolah, bahasa Selayar dan Makassar di lingkungan rumah (konteks percakapan sehari-hari). Kesempatan untuk melatih artikulator dalam hal ujaran bahasa ibu mereka tak ada lagi. Lebih ironis lagi, keadaan tersebut didukung oleh AKSI DIAM pemerintah daerah dalam hal pemertahanan bahasa ini (atau mungkin kasus ini belum dilirik). Padahal, bahasa ini merupakan salah satu kekayaan akan keberagaman kita loh! Seumpama berkenan, saya ingin mengusulkan agar bahasa ini dijadikan salah satu mata pelajaran muatan lokal, sehingga eksistesinya tetap terjaga (naluri GURUku mulai menggejolak).

Rasa penasaran pun hinggap dan menggangguku, pertanyaan tentang asal usul bahasa yang hampir punah ini selalu mengusik pikiran. Syukran, titik terang mulai menjawab, ketika saya merupaya mengawalinya dengan melakukan perhitungan leksikostatistik (tehnik perhitungan dengan membandingkan jumlah kata kerabat/sama/kognat) dengan dua bahasa lain yang saling mempengaruhi yaitu bahasa Selayar dan Wolio.

Mengejutkan, dari hasil perhitungan tersebut ternyata tingkat kekerabatan bahasa Laiyolo sangat dekat dengan bahasa Wolio. How come? Padahal, kedua bahasa itu terpisah oleh batas administratif (secara Laiyolo berada di Sulawesi Selatan dan bahasa Wolio di Sulawesi Tenggara) dan geografis (bentangan lautan luas).

Duh, sungguh menggelitik nurani tuk mengetahui ihwal asal usul hubungan antara Wolio dan Laiyolo. Tak enggan saya pun berkunjung ke desa Laiyolo tuk menghilangkan dahaga akan penasaran tersebut. Kisah lisan tentang asal usul Laiyolo beragam tersaji. Salah satunya mengisahkan bahwa:

Dahulu kala terdapat sebuah kerajaan di kepulauan Selayar yang bernama Kerajaan Putabangun. Kerajaan ini mendapat musibah penyakit kulit yang mudah menular, semua rakyat yang tertular harus diasingkan tak terkecuali putra Opu Putabangun. Berbekal cicin pusaka, seekor kucing, dan anjing, dia diasinkan ke sebuah hutan. Penyakit kulit yang dialami putra Opu Putabangun sembuh akibat jilatan kucing dan anjing yang dibawanya. Di dalam hutan dia bertemu dengan rombongan pemburu dari Buton yang terdampar di selatan pulau Selayar. Putra Opu Putabangun diangkat menjadi anak angkat lalu dikawinkan dengan kemenakan Raja Buton. Kemudian dengan diiringi empat puluh kepala keluarga, ia diizinkan meninggalkan Buton lalu kembali membangun perkampungan baru di Selayar, kampung itu sepakat dinamakan Laiyolo. Singkat cerita, putra Opu Putabangun menjadi Opu Laiyolo yang dinobatkan oleh Raja Putabangun.

Bagaimana pun alkisah yang terjadi, tapi ku meyakini bahwa bahasa Wolio dan Laiyolo secara historis memiliki hubungan kekerabatan. Tingginya persentase tingkat kekerabatan kedua bahasa tersebut (melalui perhitungan leksikostatistik seperti yang telah di kisahkan sebelumnya) mendukung bahwa kedua bahasa ini memiliki histori perkembangan yang sama. Sebagai poin tambahan bahwa relasi kekerabatan bahasa dan budaya tidak dapat dibatasi oleh batas administrasi, geografis dan bahkan jarak sekalipun.



“Bahasa adalah cerminan budaya” (lupa dikutip dari siapa)
Ketika bahasa Laiyolo mengalami keMATIan. Akankah rela membiarkan salah satu Budaya kita MATI?

Mari kita lestarikan BUDAYA kita !!


SELAYAR

0 komentar:

Post a Comment