Jan 12, 2010

* Bugis In New York City

*******
Legenda mereka tumbuh dari cerita-cerita mengerikan para pelaut pelaut Eropa di abad pelayaran awal masuknya mereka di Asia Tenggara. Sebagai bajak laut paling ditakuti dan disegani di Asia Tenggara, Para Pelaut Bugis yang ada beberapa menjadi bajak laut yang tangguh sering memangsa kapal-kapal dagang Eropa memasuki Selat Malaka dan Laut China selatan hingga Formosa. Para keturunan pelaut-pelaut Eropa yang membuat hidup kembali cerita kisah tentang pertempuran-pertempuran di laut, Para bajak laut Bugis yang ganas dan menggambarkan hanya ketakutan ke dalam setiap pelaut Eropa ... "Mereka menyebutnya BUGIMEN." Di Indonesia sekitar Danau Tempe dan Danau Sidenreng di Sulawesi Selatan, Bugis melanjutkan tradisi berlayar dan memancing, bahkan mereka telah melupakan tentang cerita oleh para pelaut Eropa. Selama berabad-abad, Namun, sekarang masyarakat Bugis banyak sebagai pedagang sukses itu juga tercermin pada abad 15 tentang dunia perdagangan di Asia Tenggara yang menjadikan mereka salah satu pion terutama para pedagang dari Wajo.


Where Do They Live?

Masyarakat Bugis telah menetap di Elmhurst, Corona dan Daerah Woodside Queens.


What Are Their Lives Like?

Beberapa wanita Bugis terampil dalam sutra tenun yaitu sarung dan telah menemukan pasar untuk ini di antara penduduk Indonesia di New York. Laki-laki Bugis yang paling sering bekerja berjam-jam sebagai tipe masyarakat pekerja keras dan bertanggung jawab pada keluarganya. Mereka memiliki sejarah dalam seni visual dan pertunjukan, seperti tari dan pembacaan dari puisi epik, yang sebagian besar telah digantikan oleh hiburan modern seperti karaoke atau temapt hiburan malam. Di New York Masyarakat Bugis paling sering ibadah di Masjid Al-Hikmah tepatnya di Long Island City bersama masyarakat Indonesia atau muslim lainnya. Meskipun sulit untuk mempertahankan dalam budaya baru yang mengelilingi mereka,
Bugis tetap setia untuk mepertahankan inti adat dan ritual Bugis yang sesuai dalam kaidah Islam.

When Did They Come to New York?

Sebagai rasa kekecewaan terhadap pemerintah Indonesia sampai akhir 1980-an, banyak Bugis mulai bermigrasi salah satunya ke Amerika terutama ke New York. Mereka datang karena godaan kebebasan dan, tentu saja, karena kesempatan ekonomi dan pendidikan yang begitu luas. Diperkirakan khusus untuk wilayah Metro City saja bahwa ada sekitar 70 Kepala Keluarga masyarakat Bugis secara turun temurun menetap dan menjadi warga Negara U.S.A. Setidaknya persentase kecil ini tidak memiliki dokumentasi yang benar belum termasuk wilayah lain atau distrik lain di kota New York atau yang berada berada di Negara-negara bagian.

How Are Their Believe Now ?

Bugis memeluk Islam pada awal 1600-an. Sehingga pada umumnya masyarakat Bugis mayoritas adalah beragama Islam Namun mereka tetap juga memelihara spiritisme yang mendalam yang dimanifestasikan dalam tindakan penghormatan terhadap leluhur mereka sehingga mereka sangat menjunjung adat dan istiadat leluhur mereka.
Dengan persentase kecil Bugis menjadi Kristen (sekitar 0,5%), dengan mudah kita menyimpulkan sangat pesimis tentang prospek masyarakat Bugis untuk menerima Injil. Bagi mereka Allah adalah Satu Keyakinan mereka dalam Islam. Dan mereka sering berkata “Berdoalah bahwa Ia akan mengulurkan tangan dan membuka Hati untuk menerima-Nya”. Gereja-gereja berbasis Bahasa Indonesia di lingkungan tempat tinggal masyarakat Bugis. Berharap bahwa mereka akan secara efektif menjangkau Bugis sehingga berharap perpindahan ke Amerika akan membuat masyarakat Bugis lebih bisa diterima dengan merubah keyakinan mereka juga merubah Pandangan Bugis tentang pandangan dunia untuk meninggalkan agama mereka tumbuh dengan menjadi pengikut Kristus. Namun fakta keyakinan masyarakat Bugis akan Islam dan adat sangat kokoh.


Terjemahan lepas Oleh Nor Sidin
Adopted from Journal ALL PEOPLE SINITIATIVE New York Tracking System ( recorded Interview New York Church )

1 komentar:

Ranmaru said...

Keren messa tau ogi`e :)

Post a Comment