Jan 10, 2011

‘Pocci Butta’

Oleh : M. Farid W Makkulau


‘Pocci Butta’. Istilah ini saya perkenalkan pertama kali saat menjadi pembicara pada seminar sehari ”Mencari Jejak Sejarah Kerajaan Siang”, Rabu, 28 Oktober 2009 lalu dalam rangkaian kegiatan Revitalisasi dan Reaktualisasi Budaya Lokal. Seminar ini diselenggarakan oleh Yayasan Tomanurung bekerjasama dengan Pemkab Pangkep di Gedung Kesenian Mattampa, Bungoro dan menghadirkan tiga pembicara, Prof Dr Rasyid Asba (Sejarawan UNHAS), HM Taliu, BA (Budayawan Pangkep), dan saya sendiri (bukan Sejarawan dan bukan Budayawan). Oleh Panitia Seminar, saya kebagian membawakan materi “Tradisi Lisan tentang Kerajaan Siang”.
Saat saya menyebut istilah ‘Pocci Butta’ (Makassar : Pusat Tanah atau Pusat Daerah), nampaknya sebagian besar peserta seminar yang umumnya tokoh masyarakat, tokoh adat, pemerhati sejarah dan budaya, serta tokoh pemuda, ketika itu menganggap istilah ini ‘asing’. Yang umum mereka kenal adalah Possi Bola atau Pocci Balla (titik pusat rumah). Tanpa bermaksud meremehkan peserta seminar yang sebagian besar adalah orang tua dan guru saya, saya mengatakan, ”Punna nia pocci balla, ngapa na tena pocci butta”. (Makassar : kalau ada titik pusat rumah, kenapa tidak ada titik pusat daerah). Istilah ”Pocci Butta” inilah yang kemudian saya pakai menjelaskan kejatuhan Kerajaan Siang, suatu kerajaan tua, yang berpusat di Pangkep, yang diyakini banyak sejarawan, seumur bahkan lebih tua dari Kerajaan Ussu (Luwu).

Kalau Possi Bola (Makassar : Pocci Balla) dimaknai sebagai titik pusat kekuatan sekaligus titik kelemahan suatu bangunan rumah, maka Pocci Butta (Bugis : Possi Wanua) adalah titik pusat kekuatan sekaligus titik kelemahan suatu daerah atau wanua. Yang menentukannya letak possi bola adalah panrita bola, seorang yang dianggap ahli bangunan rumah dan yang menentukan letak possi wanua adalah ”panrita wanua”--- sebut saja begitu---seorang yang tentu saja dipercaya untuk ‘melihat’ letak strategis suatu wanua atau daerah. Dalam konteks kerajaan, saya sepakat, istilah yang memiliki makna sama dengan pocci butta, yang disebut HM Taliu, BA sebagai ”batanna kotayya” (pusat kota).

Kalau dibawa ke masa sekarang, istilah ‘Pocci Butta’ atau ‘Batanna Kotayya’ bolehlah dikatakan sama dengan ibukota kabupaten. Ibukota kabupaten tidak hanya berfungsi sebagai pusat pemerintahan, tapi juga pusat ekonomi perdagangan masyarakat. Dalam konteks kerajaan di masa lampau, Di Sekitar Pocci Butta atau Batanna Kotayya, ada akses perdagangan yang menghubungkan Kerajaan dengan dunia luar, ada sumber penghidupan rakyat yang menopang ekonomi kerajaan serta ada bungung di sekitar istana kerajaan---termasuk bungung tobarania---sebagai simbolisasi tempat para prajurit ‘menimba’ keberanian sebelum berangkat perang. Saya menduga---berdasarkan banyak narasi tutur dan konfirmasi penelitian---setelah komunitas gaukeng terbentuk dan ‘melahirkan’ Tomanurung, salah satu tugas dari Tomanurung adalah menentukan pocci butta (possi wanua), suatu hal sangat penting yang mewarnai proses awal terbentuknya kerajaan.

* * *

Menurut tradisi yang berlaku di daerah Bugis dan Makassar, proses awal dan faktor penting yang harus ada dari terbentuknya suatu masyarakat dan permukiman adalah keharusan adanya suatu benda yang disebut gaukeng (Bugis) / gaukang (Makassar). Benda ini sangat dihormati sebagai makhluk halus penjaga pada sebuah komunitas tertentu. Gaukeng bisa berupa apa saja yang bentuknya tidak biasa atau mempunyai ciri aneh ; bisa berupa biji buah yang telah kering, tunggul pohon, bajak tua, namun lebih sering berupa batu.

Pada suatu waktu di masa lampau beberapa anggota dari komunitas gaukeng ini menemukan benda keramat itu, mereka kemudian menyediakan tempat, pelayan, kebun dan kolam untuk merawat benda itu dan penemunya. Penemu itu kemudian menjadi pemimpin komunitas baik dalam urusan keagamaan maupun politik, sebagai juru bicara untuk gaukeng itu. Inilah permulaan menurut sumber – sumber lisan ini, adanya pemimpin – pemimpin dari komunitas gaukeng. Meski hampir tidak ada pembahasan mengenai asal usul gaukeng atau arti pentingnya, kita masih dapat memahaminya melalui contoh serupa di tempat lain di Asia Tenggara. Kepercayaan terhadap dewa penjaga yang bersemayam di batu – batu dapat ditemukan di Asia Tenggara, India dan Cina. (Andaya, 1981 dan 2004).

Komunitas gaukeng seperti ini ada di banyak tempat di seluruh Sulawesi selatan, tidak lama, mereka mulai bersinggungan dan perselisihanpun tidak terhindarkan, khususnya dalam memperebutkan hak terhadap tanah dan air. Kekuatan fisik sering digunakan untuk mengatasi perselisihan ini karena tidak ada cara lain untuk menyelesaikan pertengkaran antar komunitas gaukeng ini. Menurut tradisi lisan, pada tahap ini---setelah terjadi ‘sianre balei tauwe’---muncullah Tomanurung (Bugis) / Tu-manurung (Makassar), yaitu orang yang dipersepsi sebagai dewa yang turun atau diturunkan dari langit atau kayangan. (Andaya, 1981 dalam Makkulau, 2005).

Tomanurung, orang yang turun dari langit (kayangan) ke bumi tanpa diketahui dengan pasti asal – usulnya, dipercaya memiliki sejumlah kelebihan dibandingkan dengan manusia lainnya, seperti cerdas, berani, sakti (termasuk kebal), bijaksana, adil, bicara seperlunya saja, disegani tapi simpatik. Meski sebelumnya dalam suatu daerah ada beberapa penguasa lokal, namun bagi mereka, sumber legitimasi terkuat dan bisa menyatukan diantara mereka dan rakyatnya tersebut haruslah yang benar-benar teruji kepemimpinannya, dan orang yang terpilih itu seharusnyalah “bukanlah manusia biasa”, tapi seseorang yang diyakini berasal (diturunkan) dewa dari langit.

Kelahiran dan masa awal sejarah Siang juga tak lepas dari konsep Tomanurung. Hampir semua kerajaan di Sulawesi Selatan mempunyai dongeng, mitos atau cerita tentang Patturioloang (tentang orang – orang dahulu kala) yang menyatakan bahwa raja pertama kerajaan dalam wilayah Sulawesi Selatan itu adalah Tu-manurung (bahasa Makassar) atau To-manurungE (‘tu’ atau ‘to’ berasal dari kata ‘tau’ = orang ; ‘manurung’ = yang turun dari langit atau dari kayangan). Bahkan, tidak hanya berhenti disitu, ‘perempuan’ yang menjadi istri, yang kemudian menjadi ratu, ibunda dari pangeran yang akan melanjutkan dinasti kerajaan juga biasa disebut Tu-manurungE, orang yang juga turun dari langit/kayangan. Beberapa kerajaan, seperti Siang dan Gowa malahan disebutkan raja pertama atau penggagas/pendiri dinasti adalah seorang tokoh perempuan. (Makkulau, 2005 : 31)

* * *

Bagaimanakah sebenarnya pocci butta itu dipilih dan ditetapkan. Meski masih memerlukan kajian dan penelitian mendalam, saya menduga pemilihan dan penetapan pocci butta (possi wanua) didasarkan pada tempat awal ‘ditemukannya’ Tomanurung atau tempat perjanjian (Ulu Ada) antara Tomanurung dengan rakyat, yang diwakili para pemimpin kaumnya. ‘Tamalate’, bisa menjadi contoh kasus, dimana Daerah itu pernah menjadi ‘batanna kotayya’ Kerajaan Gowa, karena disitulah tempat awal turunnya atau ditemukannya, ‘Tomanurunga ri Tamalate’.

Mari kita lihat apa yang ada di Pocci Buttana Siang, yang pernah menjadi pusat pemerintahan dan ekonomi perniagaan Kerajaan Siang. Di sekitar batanna kotayya, terdapat sungai dan pelabuhan Siang, yang saat ditemukan Pelaut Portugis, Antonio de Payva, 1542---Siang sedang menurun pengaruhnya---kemasyhuran dan pamor politik Siang sangat bergantung pada akses Sungai dan pelabuhan ini. Sangat disayangkan, pendangkalan dan pengendapan yang dialami Sungai ini mengakibatkan para pedagang internasional dari sebelah barat kepulauan Nusantara mengalihkan jalur perniagaannya ke sebelah selatannya, Pelabuhan Sombaopu, yang menaikkan kemasyhuran dan pamor kekuasaan ekonomi politik Gowa.

Pelras sempat mencatat benteng keliling Kerajaan Siang merupakan benteng tanah (muraille de terre), yang diperkirakan mencakup luas satu km2. Sekedar gambaran bahwa alur benteng Siang dalam kompleks batanna kotayya diperkirakan berbentuk huruf U, kedua ujungnya bermuara di Sungai Siang. Kepentingan benteng dalam kasus eksistensi Kerajaan Siang kuna adalah untuk membatasi sekaligus melindungi bangunan utama kota, kompleks Barugayya (bangunan audiensi) yang merupakan bagian pelengkap istana yang disebut Balla Lompoa dalam terminologi masyarakat sekarang. Penduduk sekitar hanya menyebut Barugaya untuk keseluruhan kompleks istana raja. (Fadhillah, et.al, 2001 : 27).

Akses ke pusat kota Siang (batanna kotayya) adalah melalui Sungai Siang. Pintu masuk pertama terdapat di bagian timur : akses dari pedalaman, yaitu di bagian ujung benteng sebelah timur. Akses kedua terletak di bagian barat : konon dahulu dapat dicapai dari laut, yaitu di bagian ujung benteng sebelah barat. Penduduk setempat malahan menyebut ujung benteng sebelah barat : Soreang (Makassar = tempat berlabuh) atau Labuang Padaganga (Pelabuhan Niaga). Hal tersebut dapat memberikan estimasi bahwa transportasi air dahulunya dapat mencapai pusat kota sebelum terjadinya pengendapan yang mengakibatkan mundurnya garis pantai dan menjadikan situs kota Siang sekarang berada pada jarak 5 km dari garis pantai. Informasi ini menginterpretasikan bahwa Labuang Padaganga berfungsi sebagai tempat singgah para saudagar dan pedagang yang hendak bertemu raja. (Fadhillah, et.al, 2001)

Dalam kompleks benteng, juga terdapat tempat yang disebut Batara Bori, yang fungsinya sebagai lokasi upacara ritual bagi prajurit Siang yang hendak menghadapi peperangan. Untuk menunjang fungsinya, kompleks ini dilengkapi dengan Bungung Tubarania, yakni sumber air suci yang digunakan untuk intronisasi para prajurit agar memperoleh keberanian di medan perang. Para prajurit itu terdiri dari para elit yang dikenal sebagai Karaeng Pasombala, yaitu pasukan yang mengontrol teritori dan Pallapa Baro-Baro (para pengawal istana). (Fadhillah, et.al, 2001).

Sumber air penting pada masa itu terdapat di sebelah barat kompleks benteng, disebut Bungung Tallua (tiga buah sumber air), letaknya di tepi selatan Sungai Siang. Menurut HM Taliu BA, Bungung Tallua merupakan simbolisasi hubungan antara Kerajaan Luwu, Bone dan Gowa dengan Siang. Bubung Tallua adalah sumur besar yang lubangnya dibagi tiga sanrangan, semacam silinder kecil dari batang pohon lontar. Konon, rasa air ketiga sanrangan kecil berbeda. Dahulu, bila orang Luwu dan Bone ingin ke Gowa atau sebaliknya, biasanya singgah mengambil air di Bungung Tallua. Jadi, simbolisasi Bungung Tallua merefleksikan kedudukan Siang sebagai melting-pot ketiga masyarakat negeri, bukan hanya manusianya, tetapi juga budaya. (Fadhillah, et.al, 2001 dalam Makkulau, 2005)

* * *

Di sebelah selatan bekas pusat wilayah Kerajaan Siang, terdapat juga kerajaan bernama “Barasa”. Barasa saat ini masuk wilayah Kecamatan Minasate’ne, sesudah pemekaran dari Kecamatan Pangkajene-Pangkep. Menurut Fadhillah, et.al (2001), Kemunculan Kerajaan Barasa ini sebagai konsekuensi dari pengakuan Siang atas kedaulatan Gowa sejak masa pemerintahan Raja Gowa IX, Karaeng Tumapa’risika Kallonna (1510 – 1546), selain sebagai wujud resistensi politik atas teritori kuna Siang.

Menurut Arifuddin Dg Ma’bunga, salah seorang pencipta Lambang Daerah Pangkep kepada penulis, menuturkan bahwa Kerajaan Barasa adalah kerajaan otonom, tidak dibawah pengaruh kerajaan manapun, termasuk Siang. Bahkan Kerajaan Gowa jauh sebelum penurunan pengaruh Kerajaan Siang di sebelah selatan Barasa sudah beberapa kali berusaha menaklukkan Barasa. Namun menurut boto di Gowa (boleh dibilang penasehat atau cendekiawan dalam istana Gowa), Barasa tidak akan pernah bisa ditaklukkan karena letaknya yang berada di pocci tana’ (pusat tanah atau pusat bumi). (Makkulau, 2008).

Tradisi lisan yang berkembang di Pangkajene menyebutkan Gowa sangat terobsesi menaklukkan Kerajaan Barasa. Diaturlah strategi yang disepakati, dimana sang boto ini dengan alasan yang dibuat – buat---diusir oleh Karaeng Gowa keluar istana---pergi menghadap Karaeng Barasa yang waktu itu dipimpin oleh seorang Raja perempuan. Tidak perlu waktu yang lama bagi sang boto ini untuk mendapatkan kepercayaan. Ia kemudian menyarankan bahwa kalau mau terhindar dari serangan Gowa maka harus digali sekeliling kerajaan. Namun penggalian inilah yang menjadi petaka bagi Barasa, karena yang digali tersebut ternyata adalah “poccina buttaya” (pusat tanah atau pusat bumi) yang diyakini oleh Gowa sebagai kharisma pertahanan Kerajaan Barasa.

Segera setelah penggalian itu selesai dilakukan dan telah terbentuk muara sungai memanjang yang mengelilingi pusat kerajaan Barasa, sang boto ini segera mengirim pesan kepada Raja Gowa bahwa tugasnya telah ia tunaikan. Gowa kemudian dengan mudah menaklukkan Barasa. Raja Barasa yang mempertahankan kerajaannya sampai akhir hayatnya itu hanya sempat terselamatkan selendangnya. Selendang (berwarna kuning emas) inilah yang kemudian menjadi salah satu pusaka (arajang) kekaraengan Pangkajene. Konon, bekas galian yang diyakini sebagai poccina buttaya itu adalah muara sungai Kalibone sekarang ini. (Makkulau, 2008)

Kepustakaan :

Ali Fadillah, M, et.al. 2000. Kerajaan Siang Kuna – Sumber Tutur, Teks dan Tapak Arkeologi. Balai Arkeologi Makassar dan Lembaga Penerbitan Universitas Hasanuddin : Makassar.

Andaya, Leonard Y, 1981. The Heritage of Arung Palakka, A History of South Sulawesi (Celebes) in the Seventeenth Century, VKI deel 90, The Hague - Martinus Nijhoff : Leiden. dan (2004) Warisan Arung Palakka, Sejarah Sulawesi Selatan Abad XVII (Terjemahan), Ininnawa : Makassar

Makkulau, M. Farid W. 2005. Sejarah dan Kebudayaan Pangkep, Pemkab Pangkep : Pangkep.

Makkulau, M. Farid W. 2008. Sejarah Kekaraengan di Pangkep, Pustaka Refleksi : Makassar.

Mattulada, 1982. Menyusuri Jejak Kehadiran Makassar dalam Sejarah (1510 -1700), Bakti Baru Berita Utama : Makassar.

Taliu BA. 1997. “Sekilas Kerajaan Siam (Siang)”, Stensil. Pangkep.

0 komentar:

Post a Comment