Jan 10, 2011

‘Pocci Butta’

Oleh : M. Farid W Makkulau


‘Pocci Butta’. Istilah ini saya perkenalkan pertama kali saat menjadi pembicara pada seminar sehari ”Mencari Jejak Sejarah Kerajaan Siang”, Rabu, 28 Oktober 2009 lalu dalam rangkaian kegiatan Revitalisasi dan Reaktualisasi Budaya Lokal. Seminar ini diselenggarakan oleh Yayasan Tomanurung bekerjasama dengan Pemkab Pangkep di Gedung Kesenian Mattampa, Bungoro dan menghadirkan tiga pembicara, Prof Dr Rasyid Asba (Sejarawan UNHAS), HM Taliu, BA (Budayawan Pangkep), dan saya sendiri (bukan Sejarawan dan bukan Budayawan). Oleh Panitia Seminar, saya kebagian membawakan materi “Tradisi Lisan tentang Kerajaan Siang”.
Saat saya menyebut istilah ‘Pocci Butta’ (Makassar : Pusat Tanah atau Pusat Daerah), nampaknya sebagian besar peserta seminar yang umumnya tokoh masyarakat, tokoh adat, pemerhati sejarah dan budaya, serta tokoh pemuda, ketika itu menganggap istilah ini ‘asing’. Yang umum mereka kenal adalah Possi Bola atau Pocci Balla (titik pusat rumah). Tanpa bermaksud meremehkan peserta seminar yang sebagian besar adalah orang tua dan guru saya, saya mengatakan, ”Punna nia pocci balla, ngapa na tena pocci butta”. (Makassar : kalau ada titik pusat rumah, kenapa tidak ada titik pusat daerah). Istilah ”Pocci Butta” inilah yang kemudian saya pakai menjelaskan kejatuhan Kerajaan Siang, suatu kerajaan tua, yang berpusat di Pangkep, yang diyakini banyak sejarawan, seumur bahkan lebih tua dari Kerajaan Ussu (Luwu).

Kalau Possi Bola (Makassar : Pocci Balla) dimaknai sebagai titik pusat kekuatan sekaligus titik kelemahan suatu bangunan rumah, maka Pocci Butta (Bugis : Possi Wanua) adalah titik pusat kekuatan sekaligus titik kelemahan suatu daerah atau wanua. Yang menentukannya letak possi bola adalah panrita bola, seorang yang dianggap ahli bangunan rumah dan yang menentukan letak possi wanua adalah ”panrita wanua”--- sebut saja begitu---seorang yang tentu saja dipercaya untuk ‘melihat’ letak strategis suatu wanua atau daerah. Dalam konteks kerajaan, saya sepakat, istilah yang memiliki makna sama dengan pocci butta, yang disebut HM Taliu, BA sebagai ”batanna kotayya” (pusat kota).

Kalau dibawa ke masa sekarang, istilah ‘Pocci Butta’ atau ‘Batanna Kotayya’ bolehlah dikatakan sama dengan ibukota kabupaten. Ibukota kabupaten tidak hanya berfungsi sebagai pusat pemerintahan, tapi juga pusat ekonomi perdagangan masyarakat. Dalam konteks kerajaan di masa lampau, Di Sekitar Pocci Butta atau Batanna Kotayya, ada akses perdagangan yang menghubungkan Kerajaan dengan dunia luar, ada sumber penghidupan rakyat yang menopang ekonomi kerajaan serta ada bungung di sekitar istana kerajaan---termasuk bungung tobarania---sebagai simbolisasi tempat para prajurit ‘menimba’ keberanian sebelum berangkat perang. Saya menduga---berdasarkan banyak narasi tutur dan konfirmasi penelitian---setelah komunitas gaukeng terbentuk dan ‘melahirkan’ Tomanurung, salah satu tugas dari Tomanurung adalah menentukan pocci butta (possi wanua), suatu hal sangat penting yang mewarnai proses awal terbentuknya kerajaan.

* * *

Menurut tradisi yang berlaku di daerah Bugis dan Makassar, proses awal dan faktor penting yang harus ada dari terbentuknya suatu masyarakat dan permukiman adalah keharusan adanya suatu benda yang disebut gaukeng (Bugis) / gaukang (Makassar). Benda ini sangat dihormati sebagai makhluk halus penjaga pada sebuah komunitas tertentu. Gaukeng bisa berupa apa saja yang bentuknya tidak biasa atau mempunyai ciri aneh ; bisa berupa biji buah yang telah kering, tunggul pohon, bajak tua, namun lebih sering berupa batu.

Pada suatu waktu di masa lampau beberapa anggota dari komunitas gaukeng ini menemukan benda keramat itu, mereka kemudian menyediakan tempat, pelayan, kebun dan kolam untuk merawat benda itu dan penemunya. Penemu itu kemudian menjadi pemimpin komunitas baik dalam urusan keagamaan maupun politik, sebagai juru bicara untuk gaukeng itu. Inilah permulaan menurut sumber – sumber lisan ini, adanya pemimpin – pemimpin dari komunitas gaukeng. Meski hampir tidak ada pembahasan mengenai asal usul gaukeng atau arti pentingnya, kita masih dapat memahaminya melalui contoh serupa di tempat lain di Asia Tenggara. Kepercayaan terhadap dewa penjaga yang bersemayam di batu – batu dapat ditemukan di Asia Tenggara, India dan Cina. (Andaya, 1981 dan 2004).

Komunitas gaukeng seperti ini ada di banyak tempat di seluruh Sulawesi selatan, tidak lama, mereka mulai bersinggungan dan perselisihanpun tidak terhindarkan, khususnya dalam memperebutkan hak terhadap tanah dan air. Kekuatan fisik sering digunakan untuk mengatasi perselisihan ini karena tidak ada cara lain untuk menyelesaikan pertengkaran antar komunitas gaukeng ini. Menurut tradisi lisan, pada tahap ini---setelah terjadi ‘sianre balei tauwe’---muncullah Tomanurung (Bugis) / Tu-manurung (Makassar), yaitu orang yang dipersepsi sebagai dewa yang turun atau diturunkan dari langit atau kayangan. (Andaya, 1981 dalam Makkulau, 2005).

Tomanurung, orang yang turun dari langit (kayangan) ke bumi tanpa diketahui dengan pasti asal – usulnya, dipercaya memiliki sejumlah kelebihan dibandingkan dengan manusia lainnya, seperti cerdas, berani, sakti (termasuk kebal), bijaksana, adil, bicara seperlunya saja, disegani tapi simpatik. Meski sebelumnya dalam suatu daerah ada beberapa penguasa lokal, namun bagi mereka, sumber legitimasi terkuat dan bisa menyatukan diantara mereka dan rakyatnya tersebut haruslah yang benar-benar teruji kepemimpinannya, dan orang yang terpilih itu seharusnyalah “bukanlah manusia biasa”, tapi seseorang yang diyakini berasal (diturunkan) dewa dari langit.

Kelahiran dan masa awal sejarah Siang juga tak lepas dari konsep Tomanurung. Hampir semua kerajaan di Sulawesi Selatan mempunyai dongeng, mitos atau cerita tentang Patturioloang (tentang orang – orang dahulu kala) yang menyatakan bahwa raja pertama kerajaan dalam wilayah Sulawesi Selatan itu adalah Tu-manurung (bahasa Makassar) atau To-manurungE (‘tu’ atau ‘to’ berasal dari kata ‘tau’ = orang ; ‘manurung’ = yang turun dari langit atau dari kayangan). Bahkan, tidak hanya berhenti disitu, ‘perempuan’ yang menjadi istri, yang kemudian menjadi ratu, ibunda dari pangeran yang akan melanjutkan dinasti kerajaan juga biasa disebut Tu-manurungE, orang yang juga turun dari langit/kayangan. Beberapa kerajaan, seperti Siang dan Gowa malahan disebutkan raja pertama atau penggagas/pendiri dinasti adalah seorang tokoh perempuan. (Makkulau, 2005 : 31)

* * *

Bagaimanakah sebenarnya pocci butta itu dipilih dan ditetapkan. Meski masih memerlukan kajian dan penelitian mendalam, saya menduga pemilihan dan penetapan pocci butta (possi wanua) didasarkan pada tempat awal ‘ditemukannya’ Tomanurung atau tempat perjanjian (Ulu Ada) antara Tomanurung dengan rakyat, yang diwakili para pemimpin kaumnya. ‘Tamalate’, bisa menjadi contoh kasus, dimana Daerah itu pernah menjadi ‘batanna kotayya’ Kerajaan Gowa, karena disitulah tempat awal turunnya atau ditemukannya, ‘Tomanurunga ri Tamalate’.

Mari kita lihat apa yang ada di Pocci Buttana Siang, yang pernah menjadi pusat pemerintahan dan ekonomi perniagaan Kerajaan Siang. Di sekitar batanna kotayya, terdapat sungai dan pelabuhan Siang, yang saat ditemukan Pelaut Portugis, Antonio de Payva, 1542---Siang sedang menurun pengaruhnya---kemasyhuran dan pamor politik Siang sangat bergantung pada akses Sungai dan pelabuhan ini. Sangat disayangkan, pendangkalan dan pengendapan yang dialami Sungai ini mengakibatkan para pedagang internasional dari sebelah barat kepulauan Nusantara mengalihkan jalur perniagaannya ke sebelah selatannya, Pelabuhan Sombaopu, yang menaikkan kemasyhuran dan pamor kekuasaan ekonomi politik Gowa.

Pelras sempat mencatat benteng keliling Kerajaan Siang merupakan benteng tanah (muraille de terre), yang diperkirakan mencakup luas satu km2. Sekedar gambaran bahwa alur benteng Siang dalam kompleks batanna kotayya diperkirakan berbentuk huruf U, kedua ujungnya bermuara di Sungai Siang. Kepentingan benteng dalam kasus eksistensi Kerajaan Siang kuna adalah untuk membatasi sekaligus melindungi bangunan utama kota, kompleks Barugayya (bangunan audiensi) yang merupakan bagian pelengkap istana yang disebut Balla Lompoa dalam terminologi masyarakat sekarang. Penduduk sekitar hanya menyebut Barugaya untuk keseluruhan kompleks istana raja. (Fadhillah, et.al, 2001 : 27).

Akses ke pusat kota Siang (batanna kotayya) adalah melalui Sungai Siang. Pintu masuk pertama terdapat di bagian timur : akses dari pedalaman, yaitu di bagian ujung benteng sebelah timur. Akses kedua terletak di bagian barat : konon dahulu dapat dicapai dari laut, yaitu di bagian ujung benteng sebelah barat. Penduduk setempat malahan menyebut ujung benteng sebelah barat : Soreang (Makassar = tempat berlabuh) atau Labuang Padaganga (Pelabuhan Niaga). Hal tersebut dapat memberikan estimasi bahwa transportasi air dahulunya dapat mencapai pusat kota sebelum terjadinya pengendapan yang mengakibatkan mundurnya garis pantai dan menjadikan situs kota Siang sekarang berada pada jarak 5 km dari garis pantai. Informasi ini menginterpretasikan bahwa Labuang Padaganga berfungsi sebagai tempat singgah para saudagar dan pedagang yang hendak bertemu raja. (Fadhillah, et.al, 2001)

Dalam kompleks benteng, juga terdapat tempat yang disebut Batara Bori, yang fungsinya sebagai lokasi upacara ritual bagi prajurit Siang yang hendak menghadapi peperangan. Untuk menunjang fungsinya, kompleks ini dilengkapi dengan Bungung Tubarania, yakni sumber air suci yang digunakan untuk intronisasi para prajurit agar memperoleh keberanian di medan perang. Para prajurit itu terdiri dari para elit yang dikenal sebagai Karaeng Pasombala, yaitu pasukan yang mengontrol teritori dan Pallapa Baro-Baro (para pengawal istana). (Fadhillah, et.al, 2001).

Sumber air penting pada masa itu terdapat di sebelah barat kompleks benteng, disebut Bungung Tallua (tiga buah sumber air), letaknya di tepi selatan Sungai Siang. Menurut HM Taliu BA, Bungung Tallua merupakan simbolisasi hubungan antara Kerajaan Luwu, Bone dan Gowa dengan Siang. Bubung Tallua adalah sumur besar yang lubangnya dibagi tiga sanrangan, semacam silinder kecil dari batang pohon lontar. Konon, rasa air ketiga sanrangan kecil berbeda. Dahulu, bila orang Luwu dan Bone ingin ke Gowa atau sebaliknya, biasanya singgah mengambil air di Bungung Tallua. Jadi, simbolisasi Bungung Tallua merefleksikan kedudukan Siang sebagai melting-pot ketiga masyarakat negeri, bukan hanya manusianya, tetapi juga budaya. (Fadhillah, et.al, 2001 dalam Makkulau, 2005)

* * *

Di sebelah selatan bekas pusat wilayah Kerajaan Siang, terdapat juga kerajaan bernama “Barasa”. Barasa saat ini masuk wilayah Kecamatan Minasate’ne, sesudah pemekaran dari Kecamatan Pangkajene-Pangkep. Menurut Fadhillah, et.al (2001), Kemunculan Kerajaan Barasa ini sebagai konsekuensi dari pengakuan Siang atas kedaulatan Gowa sejak masa pemerintahan Raja Gowa IX, Karaeng Tumapa’risika Kallonna (1510 – 1546), selain sebagai wujud resistensi politik atas teritori kuna Siang.

Menurut Arifuddin Dg Ma’bunga, salah seorang pencipta Lambang Daerah Pangkep kepada penulis, menuturkan bahwa Kerajaan Barasa adalah kerajaan otonom, tidak dibawah pengaruh kerajaan manapun, termasuk Siang. Bahkan Kerajaan Gowa jauh sebelum penurunan pengaruh Kerajaan Siang di sebelah selatan Barasa sudah beberapa kali berusaha menaklukkan Barasa. Namun menurut boto di Gowa (boleh dibilang penasehat atau cendekiawan dalam istana Gowa), Barasa tidak akan pernah bisa ditaklukkan karena letaknya yang berada di pocci tana’ (pusat tanah atau pusat bumi). (Makkulau, 2008).

Tradisi lisan yang berkembang di Pangkajene menyebutkan Gowa sangat terobsesi menaklukkan Kerajaan Barasa. Diaturlah strategi yang disepakati, dimana sang boto ini dengan alasan yang dibuat – buat---diusir oleh Karaeng Gowa keluar istana---pergi menghadap Karaeng Barasa yang waktu itu dipimpin oleh seorang Raja perempuan. Tidak perlu waktu yang lama bagi sang boto ini untuk mendapatkan kepercayaan. Ia kemudian menyarankan bahwa kalau mau terhindar dari serangan Gowa maka harus digali sekeliling kerajaan. Namun penggalian inilah yang menjadi petaka bagi Barasa, karena yang digali tersebut ternyata adalah “poccina buttaya” (pusat tanah atau pusat bumi) yang diyakini oleh Gowa sebagai kharisma pertahanan Kerajaan Barasa.

Segera setelah penggalian itu selesai dilakukan dan telah terbentuk muara sungai memanjang yang mengelilingi pusat kerajaan Barasa, sang boto ini segera mengirim pesan kepada Raja Gowa bahwa tugasnya telah ia tunaikan. Gowa kemudian dengan mudah menaklukkan Barasa. Raja Barasa yang mempertahankan kerajaannya sampai akhir hayatnya itu hanya sempat terselamatkan selendangnya. Selendang (berwarna kuning emas) inilah yang kemudian menjadi salah satu pusaka (arajang) kekaraengan Pangkajene. Konon, bekas galian yang diyakini sebagai poccina buttaya itu adalah muara sungai Kalibone sekarang ini. (Makkulau, 2008)

Kepustakaan :

Ali Fadillah, M, et.al. 2000. Kerajaan Siang Kuna – Sumber Tutur, Teks dan Tapak Arkeologi. Balai Arkeologi Makassar dan Lembaga Penerbitan Universitas Hasanuddin : Makassar.

Andaya, Leonard Y, 1981. The Heritage of Arung Palakka, A History of South Sulawesi (Celebes) in the Seventeenth Century, VKI deel 90, The Hague - Martinus Nijhoff : Leiden. dan (2004) Warisan Arung Palakka, Sejarah Sulawesi Selatan Abad XVII (Terjemahan), Ininnawa : Makassar

Makkulau, M. Farid W. 2005. Sejarah dan Kebudayaan Pangkep, Pemkab Pangkep : Pangkep.

Makkulau, M. Farid W. 2008. Sejarah Kekaraengan di Pangkep, Pustaka Refleksi : Makassar.

Mattulada, 1982. Menyusuri Jejak Kehadiran Makassar dalam Sejarah (1510 -1700), Bakti Baru Berita Utama : Makassar.

Taliu BA. 1997. “Sekilas Kerajaan Siam (Siang)”, Stensil. Pangkep.
Baca Selanjutnya - ‘Pocci Butta’

* Sekelumit tentang Kerajaan Soppeng

Pada tanggal 07 Desember 2010 pada halaman fanspage Passompe di Facebook kami menerima salah satu saran untuk bisa menyajikan informasi tentang sejarah Soppeng. Saran tersebut kami terima dari silessureng melebbita Zahar Laogix sehingga kami mencoba mencari beberapa tulisan yang mengenai sejarah Soppeng.

Dari beberapa tulisan yang kami peroleh salah satu tulisan yang memiliki uraian dan penggambaran serta pengetahuan tentang Soppen adalah tulisan bapak H.A.Ahmad Saransi

Berikut tulisan beliau tentang Soppeng khususnya Kerajaan Soppeng






MUNCULNYA KERAJAAN SOPPENG
Oleh : H.A. Ahmad Saransi


INTEGRASI SOPPENG RILAU KE SOPPENG RIAJA HINGGA MUNCULNYA KERAJAAN SOPPENG

Awal Keberadaan

Dengan kemunculan Tomanurung dari Sekkanyili" (Soppeng Riaja) dan Manurungnge dari Goarie (Kerajaan Soppeng Rilau, merupakan fase awal dari ketenangan dan ketentraman dari masyarakat Soppeng sejak dilanda kemarau yang panjang. Kehidupan kedua masyarakat tersebut senantiasa tentram dan damai sebagaimana layaknya dua orang bersaudara kembar. Hal ini tidak mangherankan, karena Kerajaan Soppeng Riaja Sebagai pusat aktifitas politik mampu membina secara harmonis hubungan politiknya dan kekeluargaan dengan Kerajaan Soppeng Rilau.

Fase kedamaian ini berlangsung hingga kurang lebih 260 tahun lamanya, yaitu mulai tahun 1300-an sebagai masa awal Pemerintahan Latemmalala sebagai Datu I di Sppeng Riaja dan We Temmabubbu sebagai Datu I di Sppeng Rilau hingga terjadinya konflik perselisihan antara Datu Lamataesso Puang Lipue Patolae sebagai Datu Soppeng Riaja dan La Makkarodda Latenribali sebagai Datu Soppeng Rilau.

Konflik

Menurut catatan dalam naskah lontara dikatakan bahwa, terjadinya konflik ini disebabkan keambisian La Makkarodda untuk menguasai wilayah Soppeng Riaja. Pertikaian ini meningkat menjadi perang saudara. Namun keambisian Lamakkarodda ini tidak seluruh Kerajaannnya mendukung tindakan yang dilakukan La Makkarodda sehingga saat pecahnya perang saudara ini menyebabkan Kerajaan Soppeng Rilau mengalami kekalahan.
Lamakkarodda Sebagai Datu Soppeng Rilau tidak puas atas kekalahannaya itu. Untuk membalas kekalahannya, dengan kekerasan hati ia terpaksa meninggalkan negerinya untuk mencari sekutu atau bala bantuan dari Kerajaan tetangga.

Namun sebelum meninggalkan negerinya, telah datang perutusan dari Soppeng Riaja untuk meminta La Makkarodda untuk sudilah kiranya kembali kenegerinya untuk tetap memegang tampuk Ke-Daatu-an di Kerajaan Soppeng Rilau. Hal ini ditempuh LA Mataesso untuk senantiasa menjaga persatuan dan kekeluargaan antara Kerajaan Soppeng Riaja dengan Kerajaan Soppeng Rilau.

Maksud baik La Mataesso ditolak mentah-mentah oleh La Makkarodda, "Bessing Passuka' Bessing topa Parewekka" (saya keluar kerena tombak ( perang) maka sayapun akan kembali dengan tombak (perang) pula). Itulah jawaban La Makkarodda terhadap putusan itu hingga ia melanjutkan perjalanannya ke Kerajaan Bone untuk mencari persekutuan dan sekaligus meminta bantuan guna melawan kerajaan Soppeng Riaja. Akan tetapi setelah L Makkarodda mendekati kerajaan Bone, nampaknya niatnya itu tidak diterima dedngan pertimbangan dari pihak Kerajaan Bone : "Bila kami mendukung berarti memperpanjang konflik antara Kerajaan Soppeng Riaja dengan Kerajaan Soppeng Rilau, disam[ping itu bila kami memberikan bantuan maka kelak Kerajaan Bone akan menjadi musuh Kerajaan Soppeng Riaja.".
Karena rencananya tidak diterima, maka La Makkarodda memutuskan untuk tinggal di wilayah kerajaan Bone, hingga suatu ketika La Makkazrodda memperistrikan We Tenripakkua saudari kandung raja Bone La Tenrirawe Bongkangnge.

Perkawinan La Makkarodda dengan We Tenripakkua berimplikasi terbukanya suatu kesempatan dalam rangka ikatan persahabatan antara kerajaan Bone dengan kerajaan Soppeng. Hal ini terrcermin dari ungkapan penasehat Kerajaan Bone Kajao Lalidong, " Saya merasa senang atas kebijaksanaannmu (taneng-tanengmu) itu menjodohkan adik kandungmu dengan Datu Mario (La Makkarodda). Apabila nantinya ada anak keturunannya kembali ke negeri Soppeng, maka sedapat mungkin diadakan ikatan persaudaraan antara tanah Soppeng dengan Tanah Bone".

Betapa besar penghargaan Kajao Lallidong selaku penasehat dan diplomat kerajaan Bone ini untuk mempersaudarakan negeri dan rakyat kerajaan Bone dengan Negeri dan rakyat kerajaan Soppeng jika kelak dikemudian hari.

Federasi Soppeng Rilau bergabung dengan Soppeng Riaja

Sementara berlangsungnya perselisihan antara Datu Soppeng Riaja La Mataesso dengan Datu Soppeng Rilau La Makkarodda, Arung Umpungeng datan menghadap Datu Soppeng Riaja. Namun sebelum pertemuannya dengan La Mataesso terlebih dahulu diterima oleh La Waniaga Arung Bila. Dalam pertemuan awal dengan Arung Bila itu, Arung Umpungeng menyatakan diri atas nama rakyat Umpungeng beralih ke Soppeng Riaja dan bernaung dibawah payung pemerintahan Soppeng Riaja.

Disampaikan pula maksud kedatangannya, agar diberi perlindungan oleh Soppeng Riaja, karena mereka tidak sudi bersekutu dengan orang yang berbuat kesalahan (maksudnya La Makkarodda) dan beliaupun bersumpah tidak akan menghianati La Mataesso. Maksud kedatangan Arung Umpungeng tersebut kemudian diasampaikan oleh Arung Bila kepada Datu Soppeng Riaja La Mataesso dan beliau pun bersedia menerimanya pada pertemuan tingkat resmi selanjutnya.

Pada pertemuan tingkat resmi antara Arung Umpungeng dengan Lamataesso, Beliau berjanji dan memohon kepada La Mataesso kiranya beliau diperkenankan bernaung dibawah payung kerajaan Soppeng Riaja dan tidak diperlakukan dengan sewenang-wenang. Maksud baik itu diterima dengan ketulusan hati oleh Datu Soppeng Riaja La Mataesso, maka diadakanlahjamuan bersama dengan meminum tuak,hal mana kemudian dijadikan dasar pihak Arung Umpungengeng untuk mengucapkan sumpah setianya kepada Lamataesso, "Adapun tuak sudah kuminum, hendaknya janganlah keluar melalui mulut dan tidak pula dengan lubang dubur atau penis, akan tetapi biarkanlah keluar ke samping (usus yang sobek) jika sekiranya aku ingkar janji"' itulah sumpah setia Arung Umpungeng dihadapan La Mataesso sebagaimana tercantum dalam naskah lontara, dan seketika itu daerah Umpungeng sah berada dibawah payung kekuasaan Soppeng Riaja.

Beralihnya Umpungeng kedalam wilayah Soppeng Riaja dengan melalui perjanjian politik sepeti tersebut diatas, dengan sendirinya secara langsung membawa pengaruh yang sangat berarti dalam proses perkembangan politik dalam Kerajaan Soppeng Rilau, sementara kerajaan Soppeng Riaja semakin kuat. Dengan demikian akhirnya kerajaan Soppeng Rilau mengalami kekalahan.

Integrasi

Berkali-kali Datu Soppeng Riaja La Mataesso menempuh upaya perdamaian dengan Datu Soppeng Rilau La Makkarodda. Upaya pertama sebagaimana telah dikemukakan diatas, namun up[aya itu selalu ditolaknya dengan kekerasan hati. Penolakan ini dilandasi oleh keyakinannya bahwa ia mampu mengalahkan Soppeng Riaja setelah mendapatkan bantuan dari kerajaan Bone, mengingat kerajaan Bone waktu itu disamping kerajaan tetangga juga merupakan kerajaan yang sangat berpengaruh dan cukup kuat dari segi pertahanan. Namun bantuan yang diimpikan itu tidak mendapat sambutan dari raja dan para bangsawan kerajaan Bone. Dengan perasaan sangat kecewa Datu La Makkarodda memutuskan untuk tinggal di Kerajaan Bone atas Izin Raja Bone La Tenrirawe Bongkangnge.

Kemudian tawaran kedua diajukan kepadanya untuk kembali memimpin kerajaan Soppeng Rilau setelah La Makkarodda berhasil mempersunting adik kandung Raja Bone La Tenrirawe. Niat baik ini ditolaknya dengan alasan demi menjaga terjadinya pertikaian dan perselisihan yang mungkin terulang lagi apabila beliau tetap memegang tampuk pemerintahan dikerajaan Soppeng Rilau.

Perundingan perdamaian pertama dan kedua itu selalu ditawarkan atas inisiatif datu Soppeng Riaja La Mataesso. Kenapa justru La Mataesso selalu menawarkan perdamaian kepada Datu Soppeng Rilau ? Disinilah tercermin bagaimana sikap dan kecintaan datu Soppeng Riaja yang tetap menjaga persatuan dan kedamaian antara dua kerajaan . Disampiung itu ia berusaha menghindari terjadinya peperangan yang meluas dan berkepanjangan itu dengan melibatkan pihak luar yaitu kerajaan Bone.

Namun dalam perkembangan selanjutnya ketika perundingan ketiga terjadi sangat berbeda sebelumnya, karena ternyata atas inisiatif Datu Soppeng Rilau Lamakkarodda sendiri yang ingin melakukan perdamaian dengan Soppeng Riaja.Kesungguhan hati La Makkarodda untuk berdamai dapat disimak dari makna sumpah dan janjinya ketika bertemu dengan Topaccaleppa Tautongengnge (penasehat kerajaan) dan juga ketika beliau bertemu dengan Datu Lamataesso.Dalam pertemuan itu beliau bersumpah dan berjanji tidak akan memngulangi perbuatannya yang sudah berlalu, yakni berniat tidak baik terhadap kerajaan Soppeng Riaja, bahkan beliau juga mengajukan permohonan untuk kembali bermukim diwilayah kerajaan Soppeng tampa memegang kedudsukan dan jabatan apapun. Mengenai soal tahta Kerajaan di Soppeng, baik Soppeng Riaja maupun Soppeng Rilau beliau juga berpesan kepada seluruh anak keturunannya kelak agar tidak manginginkannya lagi. Akan tetapipada waktu itu tiba-tiba Datu Soppeng Riaja Lamataesso memengang tangan La Makkarodda, sambil berkata"Saya kecualikan apabila terjalin ikatan perkawinan diantara anak cucu kita kelak dikemudian hari".

Selanjutnya,pada waktu yang telah ditentukan,bersidanglah dewan adat yang dihadiri oleh rakyat Soppeng rilau dan Soppeng riaja.Dari pertemuan tersebut mereka melakukan upacara Mallamung Patue sebagai simbol ikatan perjanjian persahabatan antara La Makkarodda dan La Mataesso yang kemudian ditanam secara bersama-sama yang disaksikan kepada Dewata Seuwae (Tuhan Yang Maha Esa) dan keduanya berjanji"Barang siapa diantara kita yang ingkar janji, maka akan ditindih oleh batu itu serta tidak akan mendapatkan kebaikan sampai kepada anak keturunannya kelak"

Dengan selesainya perjanjian perdamaian tahap ketiga antara La Makkarodda dengan La Mataesso maka Soppeng memasuki era baru, yakni ditandai dengan berakhirnya kerajaan kembar Soppeng dan selanjutnya menjadi satu Kesatuan tunggal (mabbulo peppa) dibawah satu perjanjian kebesaran dan satu orang Raja Berdaulat sebagai pemegang tampuyk pemerintahan yaitu, Kerajaan Soppeng."

Sebagai hasil keputusan Dewan Adat maka diangkatlah La Mataesso Puang Lipue Patolae sebagai Datu Sop[peng Bersatu (1960) dan La Makkarodda Latenribali diangkat menjadi Pangepa' (Perdana Menteri) Kerajaan Soppeng. Setelah Kerajaan Soppeng Rilau berintegrasi dengan kerajaan Soppeng Riaja, maka kerajaan dipusatkan di Laleng Benteng.

Integrasi kerajaan Soppeng Rilau kedalam Soppeng Riaja merupakan suatu proses penyatuan komponen-komponen sosial kultural yang berbeda-beda kedalam satu hubungan dan jalinan yang terintegrasi serta menjadi kebulatan yang utuh untuk mencapai suatu identitas yang baru sebagai kerajaan yang bersatu.

Refleksi

Dari perang saudara yang pernah terjadi itu telah mengajarkan kita tiga hal :
Antara La Makkarodda dan La Mataesso adalah pemimpin yang visioner, mampu melihat kedepan bagaimana membuat perencanaan strategis jangka panjang agar kedua rumpun rakyatnya kian maju,bukan terperosok mundur kelembah perang saudara.
Keduanya telah berfikir jauh menembus batas kepentingangenerasinya.
Capaian visinya tergambar dari kerelaan meleburkan kedua identitas kerajaannya menjadi kerajaan Soppeng.
Mampu menggerakkan orang-orang terdekatnya sehingga muncul teamwork yang solid dan antusias untuk melaksakan visinya.
Keduanya memiliki insiatif yang bisa dijelaskan kepada orang lain sehingga memperoleh dukungan luas dari rakyatnya
Baca Selanjutnya - * Sekelumit tentang Kerajaan Soppeng

Jan 5, 2011

* Allangkanangnge Ri Tanete Sarepao sebagai Ibukota Kerajaan Cina ( Pammana )

Oleh Nor Sidin


Kerajaan Cina pada epos I la galigo sangat penuh misteri, cerita lisan yang selama ini beredar tentang di mana pusat Kerajaan cina sangat kabur karena ada beberapa daerah juga di luar Wajo pun mengklaim bahwa daerahnya merupakan ibukota kerajaan Cina dahulunya. Walaupun dalam penggambaran topograpgy sekarang wilayah Kerajaan cina saat ini telah terbagi menjadi dua bagian besar wilayah dimana dibagi oleh dua kabupaten yaitu Kabupaten wajo dan Bone.
Sampai saat ini penguatan sastra lisan dan berupa situs serta sastra tulisan berupa naskah-naskah lontaraq memang lebih cenderung tertuju bahwa Kerajaan Cina dahulunya berpusat di salah satu daerah di Kabupaten Wajo yaitu Pammana.

Beberapa daerah di wilayah kecamatan Pammana saat ini banyak memberikan gambaran sangat jelas bahwa Kerajaan Cinna memang dahulunya berpusat disin. Dan sampai saat ini penguatan identitas akan tertuju pada suatu kawasan yanmg bernama Allangkanangnge Ri Tanete yang berada di suatu dusun yaitu Dusun Sarepao.

Sarepao

Dalam berapa buku-buku yang mengupas sejarah Sulawesi Selatan seperti buku yg ditulis Cristian Pelras yang berjudul The Bugis yang diterbitkan di tahun 1996 oleh Penerbit Blackwell di Inggris.
Buku ini sangat kaya dengan detail yang didasarkan pada hasil kajian berbagai ahli, tapi buku ini memiliki plot yang "sederhana." Dalam plot ini diasumsikan adanya satu entitas/ kelompok masyarakat "Bugis" dan entitas ini memiliki sejarah (artinya ada asal-usulnya) dan mengalami proses evolusinya (2)
Dalam buku tersebut pada intinya mengacu pada sosok tokoh dari sekelompok masyarakat yang dikenal dengan nama To Ugi dimana pemimpinya bernama La Santumpugi (4). Dan La Santumpugi juga merupakan ayah dari We Cudai istri dari Sawerigading yang dikisahkan dalam epos I La Galigo. walaupun pada buku Manusia Bugis Ada 3 hal besar yang dianggap bermasalah dari narasi Pelras atas masyarakat Bugis dalam buku ini. Dari ketiga hal tersebut hal besar yang pertama disebabkan oleh terbatasnya kajian tentang Sulawesi Selatan untuk menopang satu buku yang mencoba bersifat komprehensif seperti buku ini. (1) Namun dibalik itu Buku ini menjelaskan kronik besar yang berkisah tentang apa yang diyakini oleh Pelras sebagai masyarakat Bugis yang, dalam bahasanya sendiri "yang bertahan dan yang berubah." Ini bukanlah sebuah buku yang berkeinginan untuk menjelaskan apalagi berdebat tentang masyarakat Bugis di saat ini, atau apakah yang ada adalah berbagai masyarakat Bugis dengan segala keanekaragamannya, atau pun kenapa masyarakat Bugis mendapat bentuknya yang sekarang. Buku ini adalah buku pengantar sekaligus buku referensi (2)

Kita kembali kepada situs-situs yang dapat mendukung di mana letak pastinya pusat kerajaan Cina dahulunya. Menurut pedagang antik di Ujung Pandang dan Palopo, sebagian dari potongan-potongan barang antik berupa keramik dan lain sebagainya ditemukan di Luwu dan Selayar. Walaupun ada juga Keramik berasal dari abad 13 M atau abad 15 M juga dapat ditemukan di daerah pedalaman lembah WalennaƩ , Dari hasil penggalian di lembah sungai Walanae yang di fokuskan dari berupa reruntuhan situs dan makam-makam kuno yang paling banyak ditemukan adalah keramik China yg berasal dari abad ke 16 terutama wilayah Sarepao (3.1992: Ch 5-13.). Dan dalam penelitian The Earthenware from Allangkanangnge ri Latanete excavated in 1999 yang dilakukan oleh team The South Sulawesi Historical and Prehistoric Archaeology Project ,Australian National University yakni David Bulbeck dan Budianto Hakim dari Balai Arkeologi Makassar . Berikut kutipan dari tulisan Allangkanangnge ri Latanete excavated in 1999 yakni :
Allangkanangnge, terletak di kampung Sarepao, desa We Cudai, kecamatan Pammana, kabupaten Wajo di Sulawesi Selatan, Indonesia. (1)





Ini adalah salah satu situs tempat memiliki nila sejarah tinggi. Allangkanangnge terkenal menjadi istana dari We Cudai (Epos I La Galigo), dan dikenal sebagai pusat istana kerajaan Cina sampai Cina berubah nama menjadi Pammana. Survei arkeologi situs kembali dilakukan pada pertengahan abad kedua puluh, saat Kaharuddin (1994) menghasilkan sketsa peta situs, tapi tidak ada survei sistematis isi permukaan situs atau penggalian ilmiah sampai ekspedisi Inggris-Indonesia yang dipimpin oleh Ian Caldwell ( University of Leeds). Antara 1- 3 Agustus 1999, tim Inggris-Indonesia, yang termasuk salah satu penulis laporan ini (BH), dikumpulkan 251 keramik (tradeware) pecahan berserakan di permukaan, dan digali pola system meter persegi di dalam wilayah yang diidentifikasi oleh Kaharuddin sebagai daerah pusat utama ( sherdage konsentrasi) (1)

Semua keramik-keramik (tradewares) antara abad 13M – 17M, selain itu ada beberapa jumlah yang berasal dari abad 19-20 M. Pusat permukaan yang mencerminkan penggunaan terbaru dari situs - terutama, yang ditingkatkan menjadi situs monumen oleh masyarakat lokal (Bulbeck 2000; Bulbeck dan Caldwell 2000 ). Sampel lainnya yang berupa cangkang laut, yang merupakan spesies mangrove (Academy of Natural Sciences 2004), adalah tanggal ke 820 + / - 60 BP (ANU-11352). Dilihat ini akan sesuai juga sekitar abad 13M , jika sampel adalah terestrial, tetapi harus dilakukan penyisihan atas isi karbon laut ini berupa sampel intertidal. Usia juga bisa pada abad 14 M atau ke 15 M, jika kita berasumsi bahwa setengah dari kandungan karbon laut, namun perlu dicermati (75% karbon laut) akan menunjukkan 1 / 14 pada awal abad 17M. Rentang usia yang disebutkan sebelumnya sangat cocok dengan 13M sampai dengan abad 17M di indikasikan untuk keramik-keramik Allangkanangnge Sarepao , dan dengan demikian menegaskan status situs sebagai pusat pra-Islam Kedatuan Cina. (1)
Dari kutipan dari tulisan Allangkanangnge ri Latanete excavated in 1999 memberikan penguatan identitas akan letak pastinya pusat kerajaan Cina yakni Sarepao. Namun ada beberapa hal yang mejadi tanda tanya besar akan kajian penelitian arkelogi yang dilakukan oxis apabila dikaitkan dengan epic I La Galigo dimana kurun waktunya yang sangat berjauhan apalagi bila merunut tentang kajian epos I lag Galigo yang diperkirakan pada era abad ke 9M – 10 M, dan yang hanya bisa ditarik kesimpulan bahwa kemungkinan bahwa peradaban tersebut memang di sekitar abad ke 9 M dan kontak perdagangan yang terjadi dalam skala besar terjadi di abad ke 13M ( mohon lihat postingan Kekuatan Ekomi dalam Perdagangan Pelaut Bugis – Makassar ).

Saran

Kesadaran akan nilai-nila budaya serta sejarah adalah milik bersama bukan segolongan atau sekelompok lapisan tertentu saja.

Hal yang menjadi perhatian serius bagi pemerintah propinsi Sulawesi selatan khususnya pemerintah tingkat II kabupaten Wajo adalah memberikan pemeliharaan dan pelestarian situs ini karena bisa dikatakan 90% situs ini sudah hancur dan tidak ada sama sekali perhatian.

peranan pemerintah serta bersama masyarakat merupakan andil besar dalam kelangsungan perjalanan nilai-nilai sejarah



Semoga kajian-kajian berupa penelitian baik berupa penelitian arkeologi dan antropologi dapat membantu penguatan beberapa sastra lisan yang selama ini beredar di Pammana terutama juga penguatan ke beberapa naskah tua berupa lontarak yang selama ini dijadikan sumber referensi untuk penulisan buku-buku sejarah.



Sumber :
- (1)The Earthenware from Allangkanangnge ri Latanete excavated in 1999, Date of Document: 27 June 2005 , David Bulbeck ,School of Archaeology and Anthropology, The Australian National University, Canberra, Australia and Budianto Hakim, Balai Arkeologi Makassar, Makassar, South Sulawesi, Indonesia,
- (2) Tentang Manusia Bugis Karya Pelras Oleh Dias Pradadimara (Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin, Makassar)
- (3). Bulbeck, F.D., 1992, 'A tale of two kingdoms; The historical archaeology of Gowa and Tallok, South Sulawesi, Indonesia, Australian National University, Canberra.
- (4) Pelras, C, 1971, The Bugis, Oxford: Blackwells
- Caldwell Power, state and society among the pre-islamic Bugis In: Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde.
Baca Selanjutnya - * Allangkanangnge Ri Tanete Sarepao sebagai Ibukota Kerajaan Cina ( Pammana )

Dec 26, 2010

* Cahaya dari Timur : Syekh Yusuf Al-Makassari

Oleh : Mohammad Ali


Diawal bulan juli lalu saya melakukan perjalanan ke kota Makassar untuk keperluan keluarga, karena memang keluarga saya berasal dari daerah sana. Cukup lama juga tidak mengunjungi tempat kelahiran orang tua saya. Pada perjalanan kali ini, selain urusan keluarga, saya sudah meng-agendakan untuk berziarah dan merenung untuk mengambil teladan dari sosok ulama besar pada masanya, Syekh Yusuf al-Makassari. Salah satu tokoh yang, menurut Fathi, kemungkinan bertemu dengan Mbah Muqoyyim (pendiri Buntet Pesantren). Kalau pun tidak bertemu, mereka lahir dari situasi yang sama. Menolak kehidupan mewah ala istana dan lebih memilih merantau untuk mencari ilmu serta berjuang melawan penjajah Belanda.
Matahari sedang berada tepat di atas kepala, Terik yang menyengat. Namun semua seakan tidak berasa dan menjadi penghalang untuk niatan baik. Saya tetap dengan mantap berjalan di bawah terik matahari. Hanya 500 meter letak makam Syekh Yusuf dari tempat yang aku tinggali. Bukan jarak yang berarti. Jarak itu aku tempuh dengan jalan kaki. Dengan tergesa Aku berjalan menyusuri jalanan, bukan karena terik matahari melainkan supaya segera dapat mencurahkan kerinduan pada ulama yang sosoknya aku kagumi ini.

Begitu memasuki komplek pemakaman beliau, saat itu Adzan waktu shalat dhuhur dikumandangkan. Waktu yang tepat. Aku pun segera mengambil wudhu, shalat sunnat tahiyyatul masjid, lalu mengikuti shalat dhuhur berjamaah. Ada rasa baru mengalir deras menyentuh kalbu. Rasa itu adalah energi. Namun aku tidak tahu apa sebenarnya ini. Apa karena lama tidak berjamaah atau karena energi positif dari Syekh Yusuf? Entah lah...

Selesai shalat berjamaah, aku buru-buru menuju makam beliau.

Komplek Makam

Sebagaimana layaknya berziarah, aku pun melakukan hal yang sama. Tawassul, baca yasin, tahlil, dan berdo’a untuk keselamatan kehidupan beliau, diriku, keluargaku dan ummat Islam semua. Batin tiba-tiba menghayal, seandainya kiriman doa itu sebuah kiriman energi, maka menjadi wajar saja tarikan energi dari makam beliau cukup besar. Seandainya tiap hari ada 100 orang berziarah dan berdo’a untuk beliau maka ada 100 energi yang terkirim. Hemm....

Selepas ziarah, aku justru makin penasaran dengan sosok beliau, maka selama berada di Makassar, banyak waktu yang digunakan untuk mencari tahu mengenai sosok beliau. Baik melalui cerita-cerita yang beredar di masyarakat maupun melalui buku-buku. Hasil riset amatiran ini, aku bagi dengan teman-teman semua. Semoga kita bisa mengambil teladan dari beliau.

Syekh Yusuf al-Makassar (3 juli 1626-23 mei 1699)

Silsilah

Terdapat banyak versi cerita yang berkembang di masyarakat terkait dengan silsilah garis keturunan Syekh Yusuf dari garis ayah, sedangkan dari garis ibu, perbedaan itu melebut. Semua sepakat bahwa ibu dari Syekh Yusuf adalah Siti Aminah putri Gallarang Moncong Loe. Syekh Yusuf berasal dari keturunan bangsawan kerajaan Gowa.

Geneologi dan Rihlah Intelektual Syekh Yusuf

Seorang ulama besar tidak mungkin lahir dengan sendirinya, tanpa melalui tempaan-tempaan yang berat. Termasuk tempaan dalam mencari ilmu. Mengetahui guru-gurunya juga sebagai pemetaan jaringan ulama dan corak paham kegamaan yang dikembangkannya. Begitu juga dengan Syekh Yusuf. Di usia belia, beliau berguru pada Daeng ri Tasammang hingga khatam al-Qur’an.

Selepas dari situ, kehausan beliau atas ilmu sudah terlihat. Tidak puas hanya belajar al-Qur’an, beliau pun kemudian mencoba mempelajari Nahwu, Sharaf dan Mantik juga pelajaran kitab-kitab klasik Islam. Namun karena Daeng tidak sanggup memenuhi dahaga ilmunya Syekh Yusuf, maka beliau dianjurkan berguru pada Sayyid Ba’Alwy bin Abdullah al-Allamah Thahir di Bontoala sebagai pusat pendidikan islam tahun 1634. Tidak butuh waktu lama bagi Syekh Yusuf untuk menyerap, menghatamkan, serta mengerti materi dari kitab-kitab Fiqih dan Tauhid. Setelah itu, beliau kemudian belajar pada Syekh Jalaluddin al-Aidit ulama Aceh yang datang melalui Kutai ke Makassar.

Walaupun hidup di lingkungan istana, namun semangat untuk menuntut ilmu tidak padam oleh tawaran-tawaran kehidupan enak ala istana. Di usia yang masih tergolong remaja (18 tahun), beliau berencana menuntut ilmu ke Makkah (saat itu masih menjadi sentral intelektuali dunia Islam).

Sebelum niatan itu terwujud, ada satu adat saat itu yang “harus dipenuhi” oleh Syekh Yusuf sebagai bagian dari keluarga kerajaan, yaitu supaya membekali diri dengan berguru kepada “Para Paku Bumi” di 3 gunung (G. Latimojong wilayah kerajaan Luwu, G. Balusaraung wilayah kerajaan Bone, G. Bawakaraeng wilayah kerajaan Gowa) sebagai puncak 3 kerajaan yang memiliki ciri khas dan tradisi budaya tersendiri.

Tepat pada tanggal 22 September 1644 diusia 18 tahun Yusuf muda berangkat ke Makkah menumpang kapal melayu, Banten adalah persinggahannya pertama sebagai jalur pelayaran niaga pada masa itu. Disini dia berkenalan dan bersahabat dengan Pangeran Surya anak dari Sultan Mufahir Mahmud Abdul Kadir (1598-1650), kemudian dia berangkat ke Aceh dan berguru pada Syekh Nuruddin Ar-Raniri dan mendapatkan ijazah tarekat Qadiriyah. lalu melanjutkan perjalanannya ke Timur Tengah untuk melaksanakan ibadah Haji sekaligus berguru dengan ulama disana.

Negeri Yaman adalah persinggahan beliau pertama dan berguru kepada Sayed Syekh Abi Abdullah Muhammad Abdul Baqi bin Syekh al-Kabir Mazjaji al-Yamani Zaidi al-Naqsyabandy dan berijasah tarekat Naqsayabandi. Lalu ke kota Zubaid berguru kepada Syekh Maulana Sayed Ali al-Baalawiyah berijasah tarekat Baalawiyah. Musim haji pun tiba maka beliau berangkat ke Mekkah. Setelah menunaikan ibadah Haji maka beliau berangkat ke Madinah untuk berguru kepada Syekh Ibrahim Hasan bin Syihabuddin al-Kurdi al-Kaurani dan memperoleh ijasah tarekat Syattariyah.

Syekh Ibrahim yang juga dikenal dengan nama Mulla Ibrahim, adalah juga guru Syekh Abdurrauf Singkel (masa yg tidak jauh dengan Syekh Yusuf) “dan Syekh Abdurrauf adalah guru Syekh Abdul Muhyi Pamijahan (Hadjee Karang)”. Dari situ Yusuf muda masih melakukan perjalanan studinya ke Negeri Syam (Damaskus) kepada Syekh Abu al-Barakat Ayyub bin Ahmad bin Ayyub al-Khalwati al-Qurasyi mendapatkan predikat “Summa Cum Laude” bergelar Tajul Khalwati Hadiyatullah. Selain 5 tarekat di atas tercatat juga bahwa beliau mempelajari tarekat Dasuqiyah, Syaziliyah, Hasytiah, Rifaiyah, al-Idrusiyah, Ahmadiyah, Suhrawardiyah, Maulawiyah, Kubrawiyah, Madariyah, Makhduniyah. Disini terkesan beliau memiliki pengetahuan yang tinggi.

Menapaki Jejak Perjuangan Syekh Yusuf

Setelah menganggap selesai melakukan rihlah atau petualangan menuntut ilmu, maka beliau memutuskan untuk “mudik” dan menjadi juru dakwah di Makassar, saat itu usia beliau adalah 38 tahun. Harapan-harapan dan rencana-rencana yang telah disusun untuk dikembangkan di Makassar berantakan, karena sesampainya di kampung halaman, beliau menyaksikan kehancuran kerajaan Gowa pasca kekalahannya perang dengan Belanda, maksiat merajalela dimana-mana, usaha menasehati pihak kesultanan pun tak berhasil. Syekh Yusuf memutuskan untuk hijrah ke Banten yang memang sejak dari Makkah Sultan Banten telah memintanya untuk datang kesana.

Banten telah semarak berbeda dengan 15 tahun yang lalu sejak ia tinggalkan sahabatnya Pangeran Surya telah menjadi Sultan Banten dengan nama Sultan Abdul Fattah yang dikenal dengan nama Sultan Ageng Tirtayasa. Syekh Yusuf menjadi Mufti kesultanan dan kemudian dinikahkan dengan Putri Sultan Ageng Tirtayasa yang bernama Siti Syarifah. Dengan status barunya, maka memudahkan Syekh Yusuf dalam berdakwah. Murid beliau banyak tersebar sampai pelosok-pelosok luar Banten. Beliau juga menjadi pengayom bagi masyarakat Makassar yang lari karena kecewa terhadap perjanjian Bongaya.

Diawal tahun 1682 Banten pun bergejolak, semenjak kepulangan Sultan Haji putra mahkota yang diberikan sedikit kekuasaan berarti pemisahan tempat tinggal. Belanda melakukan aksi “adu dombanya” karena serangan-serangan militer ke wilayah Banten selama ini selalu dipatahkan putra Sultan yakni Pangeran Purbaya selaku Panglima Militer saat itu.

Dimulai dengan diserangnya Keraton Surosowan (Keraton Sultan Haji) hingga datangnya bantuan Belanda dari Batavia yang saat itu Belanda dapat lebih berkonsentrasi terhadap Banten karena jatuhnya Makassar. Sampai Desember 1682 keraton Tirtayasa tidak dapat terselamatkan. Keraton Tirtayasa ditinggalkan dan melakukan taktik perang gerilya, sampai 14 maret 1683 tercatat penyerahan diri Sultan Ageng Tirtayasa ke keraton Surosowan dan ditangkap Belanda kemudian dibawa ke Batavia dan wafat disana.

Perang Gerilya pun dilanjutkan Syekh Yusuf, Pangeran Purbaya dan Pangeran Kidul yang memimpin 5000 pasukan termasuk 1000 laskar Makassar, Bugis dan Melayu yang siap mati bersama gurunya. Syekh Yusuf bergerak ke arah timur sampai Padalarang lalu berbelok kearah pesisir selatan, sampai daerah desa Karang, di sana beliau bertemu dan dibantu oleh Syekh Abdul Muhyi (Hadjee Karang) dan laskarnya.

Dalam kebersamaannya inilah Syekh Muhyi berguru kepada Syekh Yusuf tentang penafsiran ayat-ayat Qur’an yang bersifat “mistik”. Setelah melakukan perang gerilya selama 2 tahun lamanya akhirnya Syekh Yusuf ditangkap dengan kondisi seluruh pengikut-pengikutnya dipulangkan ke kampung halamannya masing-masing kecuali 49 yang harus turut serta. Yaitu 2 orang istri, 2 abdi istri, 12 santri dan putra-putri, sahabat dan para abdi dalem.

Menjalani Kehidupan dalam Pengasingan

Belanda membawa rombongan Syekh Yusuf ke Cirebon untuk kemudian dibawa ke Batavia (Benteng). Melihat besarnya kharisma Syekh Yusuf maka ada kekhawatiran Belanda, dan ditambahkan kerajaan Bone dibawah pimpinan Aru Palakka (Raja Bone ke 15 ada hubungan kekerabatan) sedang melakukan perlawanan. Maka Belanda memutuskan untuk mengasingkan Syekh Yusuf beserta rombongan pada tanggal 12 september 1684 ke wilayah Srilangka.

Dalam waktu singkat nama beliau dikenal di sana. Selama disana beliau gunakan untuk beramal, mengajar dan menulis risala-risalah, banyak murid-muridnya yang berasal dari Hindustan (India) dan Srilanka sendiri. Dan membawa namanya termasyhur di India. Kaisar Hindustan Aurangzeb Alamgir (1659-1707) yang cinta kehidupan mistik sangat menghormatinya. Kaisar ini pernah menyurati kepada wakil pemerintah Belanda di Srilanka, supaya kehormatan pribadi Tuan Syekh itu dipelihara, karena jika tuan itu diganggu akan menggelisahkan umat Islam Hindustan.

Strategi perjuangannya pun berubah dari perang fisik kepada semangat keagamaan dan semangat perjuangan. Jemaah haji dari Indonesia sekembalinya dari Mekah biasanya singgah di Ceylon (Srilanka) untuk menunggu musim barat selama1-3 bulan. Dalam kesempatan ini lah jemaah haji Tabarukan dan belajar kepada Syekh Yusuf. Selain itu juga disisipkan pesan-pesan Politik, agar tetap mengadakan perlawanan terhadap Belanda dan juga pesan-pesan agama supaya tetap bepegang teguh pada jalan Allah. Dititip pesan pada raja dan rakyat Banten dan Makassar lewat surat-suratnya:

Pertama, harus berpegang teguh pada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah,

Kedua, Harus berpegang pada Syariat dan Hakikat, Fiqih dan Tasauf, tarikat Muhammadiyah dan Suluk Ahmadiyah’

Ketiga, harus selalu berpikir dan mengharapkan diri pada Allah dengan sikap Khauf dan Raja’,

Keempat, harus selalu jujur, berkata dan berbuat benar dan baik, berbudi pekerti yang luhur dan Tawakal pada Allah,

Kelima, menghormati ulama dan cerdik pandai serta mengasihi fakir-miskin,

Keenam, jauhi sifat-sifat takabur, bangga diri dan angkuh,

Ketujuh, usahakan selalu bertobat dan selalu berzikir pada Allah

Dan surat-surat kepada raja Banten dan Makassar kabarnya tercium oleh pemerintah Belanda di Batavia. Pemberontakan rakyat di Banten dan raja Gowa ke-19 menyebabkan Pemerintah Belanda mencari latar belakangnya, akhirnya ditarik kesimpulan bahwa pemberontakan ini erat kaitannya dengan Syekh Yusuf. Berupa risalah-risalah dan pesan-pesan yang menggunakan nama samaran.

Di Makassar “Kittakna Tuan LoEta (kitab tuan LoE ku) atau Pasanna Tuanta (pesan tuanku)” di Banten disebut Ngelmu Aji Karang atau Tuan She. Akhirnya diputuskan Syekh Yusuf dan 49 rombongannya untuk dipindahkan dari Ceylon ke Kaap (Afrika Selatan). Dan dilaksanakan pada tanggal 7 Juli 1693 setelah 9 tahun beliau di Ceylon di usia 68 tahun, dengan menaiki kapal “Voetboeg”. Dan sampai di pantai Afrika pada tanggal 2 April 1694, selama 8 bulan 23 hari perjalanan.

Tapi api perjuangannya tidak pernah padam oleh ruang dan waktu beliau tetap mengobarkan semangat warga Afrika Selatan untuk merdeka dan membentuk komunitas muslim disana yang memang menjadi daerah buangan politik tempat itu sekarang dikenal dengan Macassar Faure.

Syekh Yusuf meninggal pada tanggal 23 Mei 1699 pada usia 73 tahun setelah 5 tahun di Afrika Selatan dimakamkan di daerah Faure dan pada tanggal 5 April 1705 kerangka dan keluarga Syekh Yusuf dipulangkan dan tiba di Makassar. Ia dimakamkan di Lakiung pada hari Selasa tanggal 6 April 1705 / 12 Zulhidjah 1116 H.

Semangatnya masih tetap menyala disetiap tempat yang disinggahinya hingga saat ini bahkan di Afrika Selatan Nelson Mandela yang berhasil membebaskan Afsel dari politik Apartheid mengaku terinspirasi oleh perjuangan Syekh Yusuf dan mengatakan “Salah seorang Putra Afrika Terbaik”.

Bahkan banyak versi yang diyakini sebagai makam beliau selain di Macassar Faure (Afsel), Lakiung-Gowa, Banten, Palembang, Srilanka dan talango-Madura. Tapi makam Syekh Yusuf yang sebenarnya ada di Lakiung ujar sejarawan Prof. Anhari Gonggong.

Prasasti Ilmu Syekh Yusuf

Kitab Kuning Seseorang dari masa lalu dikenal karena meninggalkan sesuatu yang berarti. Baik berupa prasasti maupun dokumen-dokumen penting lainnya. Syekh Yusuf adalah ulama yang produktif menulis, kitab-kitab yang ditulisnya merupakan prasasti ilmu bagi generasi setelahnya. Setidaknya, terdapat 7 karya penting dari beliau, menurut Abu Hamid dalam bukunya Syekh Yusuf seorang Ulama, Sufi dan Pejuang menyebutkan 7 kitab tersebut adalah:

1. Kaifiyat al-munghi Wal Istbath

2. Safinat an-Najat

3. Hablu al-warid li Sa’adat al-Murid

4. al-Barakat as-Sailaniyah

5. an-Nafhati as-Sailaniyah

6. Mathalib as-Salikin

7. Risalat Ghayah al-Ikhtisar

Berbeda dengan Abu Hamid, Nabilah Lubis dalam Syekh Yusuf al-Taj Khalwati al-Makassari menemukan sedikitnya 25 kitab karangannya yang di tulis era Banten dan Ceylon.

Terlepas dari perdebatan berapa jumlah pasti karya Syekh Yusuf, yang pasti masih banyak yang tersisa dari Syekh Yusuf, baik berupa semangat perjuangannya menumpas kedzoliman, maupun belantara ilmu yang masih tercecer.

Tinggal bagaimana kita saja, apakah kita bersedia mengais untuk memunguti keutamaan, kearifan, keteladanan, dan ilmu-ilmu dari beliau. Atau malah kita melupakan dengan menggusur bangunan makamnya karena dipenuhi oleh dampak yang dinilai kurang baik dan diganti dengan Mall atau hotel, seperti yang dilakukan oleh Saudi terhadap tempat bersejarah yang terdapat di Makkah.

Sumber: BuntetPesantren.org

Sumber Gambar syech yusuf
oil on canvas
koleksi museum lagaligo fort rotterdam makassar
karya: Mike Turusy
Baca Selanjutnya - * Cahaya dari Timur : Syekh Yusuf Al-Makassari

Dec 13, 2010

* Rumah Adat, Tradisi Menre Bola, dan Dapur Orang Bugis Makassar

*



Oleh : M. Farid W Makkulau


A. Pengantar

Rumah Adat Bugis Makassar adalah rumah panggung kayu. Menurut Robinson (1993), Rumah Panggung kayu mewakili sebuah tradisi yang bertahan lama, tradisi yang juga tersebar luas di dunia Melayu. Bentuk dasar rumah adalah sebuah kerangka kayu dimana tiang menahan lantai dan atap dari berbagai bahan. Keanekaragaman bahan kian meningkat dalam dunia kontemporer setelah pendirian rumah menjadi kian dikomoditikan. Keunikan Rumah Bugis dibanding rumah panggung Sumatera dan Kalimantan adalah bentuknya yang memanjang ke belakang dengan tambahan disamping bangunan utama dan bagian depan (orang bugis menyebutnya lego – lego, makassar : dego - dego).

Rumah adat Bugis mencerminkan sebuah estetika tersendiri yang menjadikannya obyek budaya materil yang indah. Bagian – bagian utama rumah terdiri dari Tiang utama (alliri), terdiri dari 4 batang setiap barisnya. Jumlahnya tergantung jumlah ruangan yang akan dibuat, tetapi pada umumnya, terdiri dari 3 / 4 baris alliri. Jadi totalnya ada 12 batang alliri, Padongko, yaitu bagian rumah yang menjadi penyambung dari alliri di setiap barisnya, serta Pattoppo, yaitu bagian rumah yang menjadi pengait paling atas dari alliri paling tengah tiap barisnya.

Rumah Panggung kayu khas Bugis Makassar mengacu pada anutan kepercayaan bahwa alam semesta ini terdiri atas 3 bagian, bagian atas (botting langi), bagian tengah (alang tengnga / ale kawa) dan bagian bawah ( awa sao / peretiwi / bori liu). Itulah sebabnya rumah tradisional Bugis Makassar juga terdiri atas tiga bagian, yaitu Rakkeang, bagian atap rumah. Dahulu biasanya digunakan untuk menyimpan padi yang baru di panen. Yang kedua, Ale Bola, yaitu bagian tengah rumah. dimana kita tinggal. Pada ale bola ini, ada titik sentral yang bernama pusat rumah ( posi’ bola ), dan Awa bola, yaitu bagian bawah rumah, antara lantai rumah dengan tanah.

Rumah dengan arsitektur berkolong rumah bagi banyak orang Bugis Makassar dipandang sangat aman dan nyaman, selain itu karena berbahan dasar kayu rumah ini dapat berdiri bahkan tanpa perlu satu paku pun. Semuanya murni menggunakan kayu. Uniknya lagi adalah rumah ini dapat di angkat / dipindah. Bentuk rumah orang Bugis Makassar haruslah persegi empat. Ini berhubungan dengan falsafah hidup Sulapa EppaE (atau Persegi empat).

Selain menganut konsep tentang alam / kepercayaan tentang pusat dunia atas, dunia tengah dan dunia bawah maka pada rumahpun ada pusat rumah yang disebut possi bola, yaitu salah satu tiang yang kedua dari depan dan terletak disamping kanan. Itu pula sebabnya mengapa pada upacara adat menre baruga (menre bola), sesajen - sesajen seringkali diletakkan di “possi bola” karena disitulah roh-roh (atau makhluk gaib) dianggap berkumpul, terutama jika ada kejadian dan peristiwa khusus dalam keluarga.

Terkait arah rumah, boleh saja memilih salah satu diantara empat penjuru mata angin. Tetapi setelah pengaruh Islam masuk maka timbullah anggapan baru, bahwa arah rumah yang paling baik ialah menghadap ke Timur yang berarti tampingnya berada di sebelah utara. Rumah yang menghadap ke selatan berarti tampingnya berada di sebelah timur. Karena ada ketentuan di kalangan masyarakat bahwa tidur di rumah itu, kepala harus ke bagian kanan rumah dan kaki mesti ke arah tamping (bagian kiri) dan tidak boleh ke arah Ka’bah (kiblat shalat). Dengan kata lain tidak boleh ke arah barat karena Ka’bah berada di sebelah barat.

B. Kepercayaan dan Simbol – simbol tentang Rumah

Pada zaman dahulu, orang Bugis – Makassar memiliki kepercayaan bahwa letak rumah tempat tinggal diusahakan supaya berdekatan dengan tempat tinggal bekerja (sawah, ladang atau pantai) atau dekat dengan rumah famili / kerabat. Hal inilah yang menyebabkan timbulnya Kampung Pallaonruma dan Kampung Pakkaja, tetapi sekarang sudah tidak menjadi syarat lagi. Ciri yang menonjol pada sebagian besar orang Bugis Makassar adalah bahwa mereka selalu akan menetap dan menjadi penduduk asli di suatu tempat dimana mereka menggantungkan hidupnya. Mereka akan membangun disitu dan akan mati disitu pula. Hal ini sangat berhubungan dengan mata pencaharian mereka, seperti seorang petani akan bermukim atau membangun rumahnya dekat dengan lahan atau kawasan pertanian mereka. Petambak akan cenderung membangun rumahnya pada suatu lokasi yang tidak terlalu jauh dari kawasan empangnya.

Ruang dan simbolisme yang terlihat pada rumah tradisional merupakan fokus spiritual dan fisik bagi penghuninya, dengan asosiasi metafisik yang mencari vitalitas, perlindungan dan harmoni. Sebagaimana telah dijelaskan oleh Bourdieu, ‘ruang hunian’, terutama rumah, merupakan alat prinsipil dalam mengartikulasikan dan memahami struktur sosial. Pembagian ruang pada rumah menjadi sebuah ‘sistem klasifikasi nyata (yang) terus menerus melahirkan dan mendorong prinsip – prinsip taksonomi yang mendasari semua ketentuan budaya yang arbitrer’.

Pada rumah Bugis, sentralitas ditandai oleh aliri posi, atau tiang pusar, yang menandai sumber sumange’, dan dihormati dalam ritual, sebagaimana totalitas pusat dan pinggir, dimana setiap sudut rumah ditandai dengan sesajen dan do’a. Kehadiran roh penjaga pada tiang pusar juga terdapat dalam La Galigo dimana tiang pusat istana raja kerap menjadi fokus kegiatan dalam kisah epik tersebut. Tiang ini dihiasi saat ada upacara – upacara, tarian – tarian disajikan di sekitarnya, dan ketika dilakukan pelayaran antara Dunia Tengah dan Dunia Atas, muncul pelangi di tiang tersebut pada saat pelayaran dilakukan, sehingga menghubungkan dunia syurgawi dan dunia materi. Hingga sekarang, ketika berada di luar rumah, adalah hal lazim bagi orang – orang untuk mendapatkan perlindungan diri melalui penggunaan jimat – jimat yang dipakai atau dibawa untuk menghindari malapetaka dan dilepas setelah memasuki rumah.

Simetri dan keseimbangan dari pengaruh pencarian tatanan dan harmoni yang terdapat pada sulapa eppa’, dan skema fundamental lainnya yang dikaitkan terus menerus dan ditegaskan dalam wilayah sosial, politik, dan spiritual. Motif – motif mungkin muncul secara sadar dari pemahaman akan sulapa eppa’ dan posisi sosial, seperti halnya timpa laja’ bola (Makassar : timbassila balla’), jumlah jeluji jendela, motif – motif tertentu pada dinding rumah, walasuji, dan lain sebagainya. Motif ini mungkin belum menjadi refresentasi sadar dari konsep – konsep tersebut tetapi merupakan ekspresi dari sebuah logika kultural yang melingkupinya. .

C. Pemilihan Waktu Yang Baik

Waktu penyelenggaraan upacara ini disesuaikan dengan waktu yang baik menurut ketentuan adat untuk orang Bugis Makassar. Pemilihan waktu baik sangat penting untuk memastikan hasil positif sebuah usaha. Bentuk pengetahuan paling umum yang terkandung dalam kutika / pitika adalah metode – metode penentuan hari – hari baik untuk melakukan suatu kegiatan, termasuk mendirikan rumah. Dewasa ini, perhatian terhadap hari – hari dan waktu – waktu baik dan buruk di Sulawesi Selatan digunakan oleh banyak orang untuk kegiatan – kegiatan rutin seperti memulai perjalanan. Tetapi terutama digunakan untuk kegiatan – kegiatan penting seperti waktu pernikahan, atau tahapan dalam mendirikan rumah (Saing, 1982 atau Sunusi, 1969 menerangkan penggunaannya dalam pembangunan rumah).

Hamid (1994) mengaitkan konsep – konsep hari buruk dan hari baik dengan kepercayaan animisme, yang ia samakan dengan kepercayaan terhadap kesatuan manusia dengan hukum alam (sesuatu yang tersebar pada banyak masyarakat – masyarakat Austronesia) (lihat juga Waterson, 1993 ; Pigeaud, 1983). Manuskrip umumnya berisi daftar – daftar bulan dalam kalender Islam, dengan keterangan – keterangan apakah waktu – waktu tersebut baik untuk kegiatan – kegiatan tertentu, pendirian rumah dan pernikahan seringkali dihubungkan (yaitu, bulan baik untuk pernikahan biasanya juga baik untuk mendirikan rumah).

Manuskrip – manuskrip memberikan keterangan yang sama tentang bulan – bulan yang baik dan buruk, namun berbeda dalam meramalkan hasil atau akibat bagi sang empunya rumah, jika kegiatan itu diadakan para periode tersebut.

- Bulan Muharram bukan waktu baik untuk mendirikan rumah atau menyelenggarakan perkawinan. Sang empunya rumah akan selalu menderita.
- Bulan Safar bulan bagus untuk mendirikan rumah atau menyelenggarakan perkawinan. Sang empunya rumah akan selalu memperoleh keberuntungan.

- Rabi’ul – awal tidak baik untuk mendirikan rumah atau menyelenggarakan perkawinan. Sang empunya rumah akan selalu tertimpa musibah kematian.

- Rabi’ul akhir baik untuk mendirikan rumah atau menyelenggarakan perkawinan. Sang empunya rumah akan selalu memperoleh kebahagiaan.

- Jumadil awal baik untuk mendirikan rumah ; Sang empunya rumah akan selalu memperoleh keberuntungan.

- Jumadil akhir tidak baik untuk mendirikan rumah atau menyelenggarakan perkawinan. Sang empunya rumah akan sakit – sakitan dan dilanda kesulitan – kesulitan lainnya.

- Rajab bukan bulan baik untuk mendirikan rumah. Sang empunya rumah akan mati tertikam dan rumahnya akan terbakar.

- Sya’ban baik untuk mendirikan rumah dan menikah. Sang empunya rumah akan selalu memiliki kekayaan.

- Ramadhan baik untuk mendirikan rumah, juga menyelenggarakan perkawinan. Penghuni rumah akan selalu akrab dengan tetangganya dan akan memperoleh kebahagiaan.

- Syawal tidak baik untuk mendirikan rumah dan menyelenggarakan perkawinan. Sang empunya rumah akan tertikam dan rumahnya tidak akan pernah sempurna.

- Zulqa’idah baik untuk mendirikan rumah dan menyelenggarakan perkawinan. Sang empunya rumah akan selalu memiliki hubungan yang baik dengan tetangga – tetangganya.

- Zulhijjah baik untuk mendirikan rumah atau menyelenggarakan perkawinan. Sang empunya rumah akan memperoleh ketenteraman. Mereka akan memperoleh banyak emas.


D. Upacara Adat Menre Bola

Jalannya Upacara naik rumah baru ini dilaksanakan pada hari yang telah ditetapkan tuan rumah untuk naik ke rumah baru. Upacara ini dipimpin oleh panrita bola atau sanro bola. Penyelenggaraan upacara diselenggarakan oleh tuan rumah yang dibantu oleh orang tua dari kedua belah pihak (suami isteri). Peserta Upacara terdiri atas suami isteri, keluarga tuan rumah, tukang dengan kepala tukang (tetapi biasanya panitia itu juga mengepalai tukang yang bekerja), dengan seluruh tenaga pembantunya serta tetangga – tetangga dalam kampung itu.

Tahap Upacara Makkarawa Bola.

Makkarawa Bola artinya memegang, mengerjakan, atau membuat peralatan rumah yang telah direncanakan untuk didirikan dengan maksud untuk memohon restu kepada Tuhan agar diberikan perlindungan dan keselamatan dalam penyelesaian rumah yang akan dibangun tersebut. Tempat dan waktu upacara ini diadakan di tempat dimana bahan – bahan itu dikerjakan oleh Panre (tukang) karena bahan – bahan itu juga turut dimintakan doa restu kepada Tuhan. Waktu penyelenggaraan upacara ini ialah pada waktu yang baik dengan petunjuk panrita bola, yang sekaligus bertindak sebagai pemimpin upacara.

Bahan – bahan upacara yang harus dipersiapkan terdiri atas : ayam dua ekor, dimana ayam ini harus dipotong karena darahnya diperlukan untuk pelaksanaan upacara kemudian tempurung kelapa daun waru sekurang – kurangnya tiga lembar. Tahap pelaksanaan upacara makkarawa bola ini ada tiga, yaitu :

1. waktu memulai melicinkan tiang dan peralatannya disebut makkattang,
2. waktu mengukur dan melobangi tiang dan peralatannya yang disebut mappa,
3. waktu memasang kerangka disebut mappatama areteng.

Setelah para penyelenggara dan peserta upacara hadir, maka ayam yang telah disediakan itu dipotong lalu darahnya disimpan dalam tempurung kelapa yang dilapisi dengan daun waru, sesudah itu darah ayam itu disapukan pada bahan yang akan dikerjakan. Dimulai pada tiang pusat, disertai dengan niat agar selama rumah itu dikerjakan tuan rumah dan tukangnya dalam keadaan sehat dan baik – baik, bila saat bekerja akan terjadi bahaya atau kesusahan, maka cukuplah ayam itu sebagai gantinya. Selama pembuatan peralatan rumah itu berlangsung dihidangkan Kue - kue tradisional seperti : Suwella, Sanggara, Onde-Onde, Roko - roko unti, Peca’ Beppa, Barongko dan Beppa loka, dan lain – lainnya.

Tahap Upacara Mappatettong Bola (Mendirikan Rumah).

Tujuan upacara ini sebagai permohonan doa restu kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar rumah yang didirikan itu diberkahi dan dilindungi dari pengaruh-pengaruh roh jahat yang mungkin akan menganggu penghuninya. Upacara ini diadakan di tempat atau lokasi dimana rumah itu didirikan, sebagai bentuk penyampaian kepada roh-roh halus penjaga – penjaga tempat itu bahwa orang yang pernah memohon izin pada waktu yang lalu sekarang sudah datang dan mendirikan rumahnya. Sehari menjelang dirikan pembangunan rumah baru itu, maka pada malam harinya dilakukan pembacaan kitab barzanji.

Adapun bahan – bahan dan alat – alat kelengkapan upacara itu terdiri tas : ayam ’bakka’ dua ekor, satu jantan dan satu betina. Darah kedua ayam ini diambil untuk disapukan dan disimpan pada tiang pusat rumah, ini mengandung harapan agar tuan rumah berkembang terus baik harta maupun keturunannya. Selain itu, Bahan – bahan yang ditanam pada tempat possi bola dan aliri pakka yang akan didirikan ini terdiri atas : awali (periuk tanah atau tembikar), sung appe (sudut tikar dari daun lontar), balu mabbulu (bakul yang baru selesai dianyam), penno-penno (semacam tumbuh-tumbuhan berumbi seperti bawang), kaluku (kelapa), Golla Cella (gula merah), Aju cenning (kayu manis), dan buah pala. Kesemua bahan tersebut diatas dikumpul bersama – sama dalam kuali lalu ditanam di tempat dimana direncanakan akan didirikan aliri possi bola itu dengan harapan agar pemilik rumah bisa hidup bahagia, aman, tenteram, dan serba cukup.

Setelah tiang berdiri seluruhnya, maka disediakan pula sejumlah bahan – bahan yang akan disimpan di possi bola seperti kain kaci (kain putih) 1 m, diikatkan pada possi bola, padi dua ikat, golla cella, kaluku (kelapa), saji pattapi (nyiru), sanru (sendok sayur), piso (pisau), pakkeri (kukur kelapa). Bahan – bahan ini disimpan diatas disimpan dalam sebuah balai – balai di dekat possi bola. Bahan ini semua mengandung nilai harapan agar kehidupan dalam rumah itu serba lengkap dan serba cukup. Setelah kesemuanya itu sudah dilaksanakan, barulah tiba saat Mappanre Aliri, memberi makan orang – orang yang bekerja mendirikan tiang – tiang rumah itu. Makanan yangf disajikan terdiri atas sokko (ketan), dan pallise, yang mengandung harapan agar hidup dalam rumah baru tersebut dapat senantiasa dalam keadaan cukup. Tahap Upacara Menre Bola Baru (Naik Rumah Baru)

Tujuannya sebagai pemberitahuan tuan rumah kepada sanak keluarga dan tetangga sedesa bahwa rumahnya elah selesai dibangun, selain sebagai upacara doa selamat agar rumah baru itu diberi berkah oleh Tuhan dan dilindungi dari segala macam bencana. Perlengkapan upacara yang disiapkan adalah dua ekor ayam putih jantan dan betina, loka (utti) manurung, loka / otti (pisang) panasa, kaluku (kelapa), golla cella (gula merah), tebbu (tebu), panreng (nenas) yang sudah tua. Sebelum tuan rumah (suami isteri) naik ke rumah secara resmi, maka terlebih dahulu bahan bahan tersebut diatas disimpan di tempatnya masing – masing, yaitu :

(1) Loka manurung, kaluku, golla cella, tebu, panreng dan panasa di tiang possi bola.
(2) Loka manurung disimpan di masing – masing tiang sudut rumah.

Tuan rumah masing – masing membawa seekor ayam putih. Suami membawa ayam betina dan isteri membawa ayam jantan dengan dibimbing oleh seorang sanro bola atau orang tertua dari keluarga yang ahli tentang adat berkaitan dengan rumah. Sesampainya diatas rumah kedua ekor ayam itu dilepaskan, sebelum sampai setahun umur rumah itu, maka ayam tersebut belum boleh disembelih, karena dianggap sebagai penjaga rumah. Setelah peserta upacara hadir diatas rumah maka disuguhkanlah makanan – makanan / kue – kue seperti suwella, jompo – jompo, curu maddingki, lana – lana (bedda), konde – konde (umba – umba), sara semmu, doko – doko, lame – lame. Pada malam harinya diadakanlah pembacaan Kitab Barzanji oleh Imam Kampung, setelah tamu pada malam itu pulang semua, tuan rumah tidur di ruang depan. Besok malamnya barulah boleh pindah ke ruang tengah tempat yang memang disediakan untuknya.

d. Tahap Upacara Maccera Bola.

Setelah rumah itu berumur satu tahun maka diadakanlah lagi upacara yang disebut maccera bola. “Maccera Bola” artinya memberi darah kepada rumah itu dan merayakannya. Jadi sama dengan ulang tahun. Darah yang dipakai maccera ialah darah ayam yang sengaja dipotong untuk itu, pada waktu menyapukan darah pada tiang rumah dibacakan mantra, “Iyyapa uitta dara narekko dara manu”, artinya nantinya melihat darah bila itu darah ayam. Ini maksudnya agar rumah terhindar dari bahaya. Pelaku maccera bola ialah sanro (dukun) bola atau tukang rumah itu sendiri.

E. Dapur Orang Bugis Makasar

Istilah dapur (tradisional) disini mencakup pengertian dapur sebagai ruang /bangunan, tempat menyimpan peralatan masak dan tempat berlangsungnya kegiatan makan minum. Eksistensi dapur ini timbul bersamaan dengan diketemukannya api oleh manusia. Dapur bagi orang Bugis-Makassar sangat dekat dengan proses dan eksistensi keluarga. Keluarga yang masih "hidup" dapat ditengarai dengan dapur yang masih berasap. Sebaliknya sebuah dapur yang sudah tidak berasap lagi menandakan bahwa keluarga pemilik dapur sudah mati.

Dapur tradisional Bugis-Makasar pada umumnya berbentuk segi empat, mengikuti filsafat orang Sulawesi Selatan yang disebut "Sulapa Eppa" yang artinya "Yang dianggap paling sempurna adalah yang bersegi empat". Bentuk formasi bangunan untuk perletakan tungku ada yang terbuat dari kayu dan ada pula yang diletakkan diatas lantai rumah secara berdampingan. Bangunan dapur tradisional Bugis-Makasar ada yang bertingkat dua. Lantai atas digunakan untuk tempat menyimpan dan mengeringkan kayu bakar atau menyimpan peralatan dapur. Lantai bawah digunakan untuk memasak. Tungku masak yang digunakan kebanyakan masih menggunakan tiga batu yang diatur diatas lantai yang sudah diberi pasir atau tanah. Dalam satu dapur bisa berderet dua sampai tiga buah tungku. Bila masih memerlukan tungku lagi, dibuatlah tungku yang terpisah dengan dapur yang disebut dapo (Bugis) atau palu (Makasar) yang mudah dipindah-pindahkan.

Di beberapa daerah di Sulawesi bagian Selatan, palu yang mempunyai bentuk seperti perahu dengan tiga tatakan sangat dominan dipakai. Sedangkan untuk wilayah utara cukup bervariasi, diantaranya : formasi tiga batu, bentuk silinder, dua besi panjang sejajar, dan lain sebagainya. Dalam perkembangan selanjutnya, dapur tersebut bergeser ke ruang belakang dan dibuatkan bangunan tambahan khusus dibagian belakang atau bagian sebelah kiri bangunan induk. Bangunan khusus untuk dapur ini disebut Jongke atau Bola Dapureng. Jongke ini merupakan tempat pelaksanaan kegiatan penyediaan makanan dan minuman keluarga atau tamu, serta tempat untuk menyimpan makanan dan peralatan masak.

Dapur orang Bugis-Makasar [sesuai dengan pengetahuan lokal para nenek moyang mereka] diusahakan menghadap Utara atau Selatan. Jika dapur menghadap utara maka orang yang memasak akan menghadap ke Selatan, begitu pula sebaliknya. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari asap dapur yang sangat dipengaruhi oleh angin musim yang bertiup dari arah barat atau timur. Hal ini masih dipengaruhi lagi oleh letak dan posisi dapur terhadap keadaan lingkungan sekitarnya, seperti daerah perbukitan/ pegunungan. Hal lain yang kurang diperhatikan adalah sistem ventilasi dapur, sehingga kondisi udara di dapur tidak sehat.

Pada umumnya peralatan dapur tradisional orang Bugis-Makasar dapat diklasifikasikan menurut jenis material peralatan tersebut :

a. Terbuat dari tanah liat: dapo/pallu (anglo), Oring tana/Uring buta (periuk), bempa/gumbang (tempayan), dan lain – lain.
b. Terbuat dari logam yaitu: oring beddi/uring bassi (periuk), panci, ceret, pammutu bessi/pamja besi (wajan) piso/ lading (pisau), bangkung / berang parang), baki.
c. Terbuat dari bambu: pabberang api (peniup api), paccipi (penjepit), pattapi (niru), rakki (tempat mengeringkan bahan makanan), jamba (tempat nasi dari anyaman bambu).
d. Terbuat dari kayu: dulang (tempat nasi), piring kayu.
e. Terbuat dari tempurung kelapa: kaddaro innungeng/inungang (gelas tempurung), sinru kaddaro/si'ru kaddaro (sendok tempurung), piring kaddaro.
f. Terbuat dari anyaman: assokkoreng (kukusan), baku-baku (bakul nasi), appanatireng santang(tapisan santan), paberesse/pa'berassang (tempat beras)
g. Terbuat dari batu: pakungeng batu (lesu batu), accobereng/accebekang (cobek)

Fungsi dan Pandangan terhadap Dapur

Fungsi dapur juga mengalami perkembangan mengikuti budaya dan masyarakat. Fungsi dapur sekarang dapat disebutkan sebagai berikut :a. Tempat untuk kegiatan penyediaan dan pengolahan makanan dan minuman untuk keluarga dan tamu. Disini perempuan memegang otoritas penuh atas ruang dan waktu.b. Tempat menyimpan peralatan dan persediaan makanan dan minuman.c. Tempat cuci dan pembuangand. Tempat untuk sosialisasi awal bagi anak perempuan memasuki dunia perempuan serta mempererat hubungan kekerabatan dengan anggota keluarga lain atau tetanggae. Tempat usaha: membuat kue, makanan dan minuman.

Sejalan dengan fungsi-fungsi dapur tersebut, tumbuh nilai-nilai atau norma yang harus dipatuhi oleh anggota masyarakat setempat. Misalnya, untuk menerima tamu (bukan famili), tidak melewati batas ruang tamu, apalagi masuk ruang dapur. Karena dapur merupakan rahasia keluarga / kehidupan rumah tangga, sehingga ruang dapur dibatasi hanya untuk kerabat dekat saja. Pemanfaatan dapur sebagai salah satu bagian rumah juga membawa nilai - nilai atau norma - norma yang harus ditaati. Oleh karena itu ada beberapa perilaku yang tidak boleh dilanggar karena dapat membawa bencana bagi siapa saja yang melanggarnya.

Beberapa pantangan tersebut adalah :

a. Tidak boleh menginjak dapur (tungku), barang siapa menginjak tungku dia akan bersifat seperti kucing (dalam masalah seksual), artinya, orang yang suka menginjak dapur akan suka melanggar norma / nilai di bidang seks.
b. Anak gadis tidak boleh menyanyi di depan dapur. Jika dilanggar dia akan bersuamikan orang tua atau mempunyai anak tiri.
c. Pada saat seorang nelayan turun ke laut, api dapur tidak boleh padam. Hal ini dimaksudkan agar nelayan/suami tersebut selamat pergi dan pulang dari melaut.
d. Pada musim pengolahan tanah, istri petani tidak boleh memberi api dapurnya kepada dapur tetangganya. Hal ini dilarang karena akan mengakibatkan padinya habis dimakan ulat / tikus.
e. Laki - laki tidak boleh bekerja di dapur karena menurunkan derajat laki-laki.
f. Laki - laki (suami) tidak boleh memegang Alat - alat masak. Hal ini menandakan suami tidak percaya kepada istrinya.
g. Tidak boleh memukul anak-anak dengan alat-alat masak seperti sendok dan sebagainya, hal ini menyebabkan anak tersebut menjadi bodoh.

Lambat laun ritual Pemahaman tentang Rumah Adat Bugis Makassar ini telah terkikis, Begitupun Upacara Adat Menre Bola (Makassar : Nai’ Balla) ini sudah banyak ditinggalkan oleh masyarakat pendukungnya karena sudah kurang yang memahami esensi dan tata cara pelaksanaannya, Begitu pula pemahaman tentang Dapur dengan segala etika yang harus ada didalamnya sudah terlupakan.

Saat ini yang banyak kita saksikan apabila ada pembangunan rumah adat (rumah kayu) atau rumah modern (rumah batu), masyarakat melaksanakannya cukup dengan acara syukuran saja dengan mengundang berbagai kerabat dan handai taulan. Meski begitu, semoga tulisan ini bermanfaat, paling tidak mengingatkan budaya dan tradisi yang hilang atau terlupakan itu.








Penulis M. Farid W Makkulau,
Pemerhati Budaya,Tinggal di Pangkep.
Baca Selanjutnya - * Rumah Adat, Tradisi Menre Bola, dan Dapur Orang Bugis Makassar